Dunia Baru
Biasanya setiap pagi Micky selalu mengajak
Shodiq, Rajif, dan Ricky untuk jogging. Tapi entah kenapa pagi ini Micky merasa
ada yang lain ketika Micky memutuskan pergi jogging sendiri, karna mereka telah
kembali ke pulau kapuk setelah Shubuh tadi. Sepasang headset ia pasang
ketelinganya dg suara maksimalnya dering musik. Micky cuek dengan tiga
sahabatnya yang entah telah sampai alam mana saat ia jogging sekarang.
Ketika diperjalanan pulang, tak sengaja sepasang
mata itu melihat sesosok yang membuat hati tenang. Ya, dia adalah Ghea. Cewek
yang selalu ada dalam fikiran Micky akir-akir ini. Ia juga tak mengerti kenapa
ia mendadak memikirkan cewek yang jelas-jelas adalah pacar sahabatnya, Rajif.
Untunglah perasaannya ini tak terlalu, jadi Micky bisa menghadangnya dengan
sigap.
Tiada hujan, tiada badai. Ghea mendekati Micky
dan mengajak menemaninya untuk beberapa saat.
“Rajif mana?” Jelas, sebelum dia bertanya
seperti itu Micky telah berfikir bahwa dia akan menanyakan pacarnya tersebut.
“Tadi selesai Shubuh dia langsung tidur lagi.
Soalnya semalam begadang bikin tugas kita berempat” dengan cuek Micky
menjelaskan ketidakhadiran Rajif pagi ini.
Selama satu jam lebih dua insan berjalan sambil
berbincang-bincang hal-hal yang mulai dari lucu sampai menyedihkan. Disaat Ghea
berbicara, Micky hanya terpaku melihat liukan bibirnya yang selalu menjadi
bunga dalam setiap tidur Micky.
Dan akirnya mereka berpisah ketika jam telah menunjukan
pukul 08:30. Disaat Micky kembali kerumah, (dimana rumah tsb hanya Micky dan 3
sahabatku yang mendiami) mereka masih setia menyulam mimpi diranjang mereka
masing-masing. Dan kesempatanpun terlihat, Micky berinisiatif untuk
membangunkan mereka dengan caraku. Memutar lagu One
Direction yang selalu menjadi
lagu andalan mereka disaat mereka dalam keadaan apapun. Tak berapa lama play,
mereka mengeja setiap kata yang keluar dari lagu tsb tapi mata mereka masih
dalam keadaan tertutup.
“Kalo One Direction aja pasti langsung berubah” berubah semua mata
mereka beranjak ketika Micky mengucapkan kalimat tsb. Akirnya kesadaran mereka
pulih.
“Sebenernya masih belum puas molor, tapi karna
lu ngebangunin kita dengan lagunya One Direction makanya
kita cepet bangun” ucap Rajif yang masih berebahan diranjangnya.
“Mandi yuk , kita pacu renang. Siapa yang kalah
bikinin breakfast kita. Siapa berani?” Micky mengajak mereka melawanku
berenang. Dimana kolam dalam rumah kami terletak dibagian tengah rumah kami.
“Dengan senang hati” serempak mereka bertiga
menerima ajakan Micky. Mereka tak lupa berpacu menggapai kolam. Dalam hitungan
3 mereka telah siap diposisi masing-masing. Dan mereka saling mengejar posisi
satu.
Akirnya Micky berhasil menjadi juara 1 dalam
perloambaan ini, dan Rajif kalah dalam kesempatan ini. Sesuai perjanjian yang
mereka setujui tadi, maka Rajif harus membuatkan mereka breakfast pagi ini.
***
Kring Kring Kring...
Ponsel Rajif berdering, karena Rajif masih
dibelakang sedangkan ponselnya diruang makan bersama Micky, Shodiq, dan Ricky.
“Mick, ponselnya Rajif bunyi tuh. Lu cek deh.
Mana tau ada yang perlu” Ricky menyuruh Micky mengangkat panggilan diponsel
Rajif. Ketika Micky melihat ponsel Rajif, nomor baru yang tertera disana.
Dengan terpaksa Micky menjawab panggilan itu. Micky terkaget ketika apa yang ia
dengar adalah sebuah kabar baik. Seorang manager dari label perusahaan musik
tempat mereka mengirimkan demo lagu yang mereka cover diterima oleh perusahaan
tersebut. Micky langsung memanggil Rajif yang masih setia membuatkan yang lain
breakfast. Dengan mudah ia meninggalkan pekerjaannya tsb.
“Jadi kapan kita kesana?” tanya Shodiq dengan
semangatnya.
“Secepatnya” jawab Rajif singkat.
***
Dengan wajah penuh bunga, mereka melaju ke label
musik yang menerima demo musik yang telah mereka kirimkan. Lebih tepat nama
labelnya adalah MelonMusica. Sang manager
langsung menyodorkan beberapa konsep tentang lagu mereka yang segera akan
dibuatkan VC-nya.
Oh My God,
it’s our dream. We make it come true.
“Baiklah, minggu depan VC kalian akan segera dibuat,
diharapkan kepada kalian berempat agar bisa bekerjasama dengan baik dan datang
tepat waktu” sang manager memberikan pengarahan kepada mereka berempat.
Belum apa-apa, disekolahan nama mereka menjadi
melonjak layaknya angka pertumbuhan manusia dimuka bumi ini. Semua siswa yang
berada di SMA 06 JAKARTA selalu mengelu-elukan nama mereka. Ada perasaan bangga
pasti dalam diri mereka, juga perasaan risih saat jam pelajaran berlangsung
mereka tak bisa mengikuti dengan kondusif seperti hal nya hari sebelum mereka
menjadi seperti ini. Akirnya mereka menjadi selebriti yang masih belum tentu
akan meledak atau tidak.
Sebelumnya, mereka adalah 4 anak cowok yang suka
mengcover lagu-lagunya 1D. Entah itu lagu ngebeat atau slow, mereka selalu
melakukannya. Seiring itu keberuntungan untuk mereka berempat bisa masuk dapur
rekaman dengan background penyanyi cover. Ada risih sih sebenarnya, tapi kami
tak melihat itu. Malah kami melihat bahwasanya penyanyi cover itu bisa lebih
melejit dari penyanyi aslinya. Coba saja lihat Maddi
Jane dan Megan Nicole,
mereka adalah segelincir dari bukti bahwa penyanyi cover itu bisa melejit. Dan
mereka akan membuktikan itu kepada dunia baru mereka ini.
Akirnya minggu yang mereka tunggu datang, saat
dimana awal langkah mereka didunia musik dimulai. VC perdana ini mereka tak
memakai model terkenal, mereka hanya bermodalkan wajah masing-masing dalam
project awal ini. Tak lupa mereka saling mengingatkan hal-hal yang sengaja atau
tidak yang mereka lakukan. Lucunya, yang banyak melakukan kesalahan adalah
Shodiq. Karena disetiap scene, Shodiq tak pernah lupa untuk menyelipkan
senyumnya. Scene tersebut adalah scene yang juga paling susah untuk Shodiq.
Namun, karena ia serius dan mampu melengkapi scene tersebut dengan baik.
Pembuatan VC yang berdurasi 03:55 itu hanya berlangsung 7 jam, itupun banyak
kesalahan yang dilakukan Shodiq. Jika Shodiq tidak melakukan kesalahan, bisa
saja dalam waktu 4 jam mereka menyelesaikannya.
“Gokil” ucap Micky singkat ketika mengingat hari
ini, juga mereka bertiga masih tertawa selepas mereka. Shodiq cuek, dia juga
ikut tertawa walaupun yang ditertawakan adalah dia.
“Bentar-bentar, yakin gak VC kita itu bisa
menarik setiap orang?” Shodiq menghentikan tawanya, sebuah pertanyaan yang
seharusnya setelah VC selesai ia lontarkan malah ia keluarkan sekarang.
“Yaelah Diq, VC kita kan baru selesai di take.
Nanti kan diedit sama management, harus optimis VC kita bisa menarik banyak
orang” Rajif menjawab pertanyaan Shodiq dengan dewasanya, walaupun sesungguhnya
dia adalah member paling kecil.
“Bener Diq, ngapain kita mikirin itu sekarang?
Mending kita mikir langkah kita selanjutnya kedepan. Apakah tetap jadi artis coveran?
Atau kita keluar dari image cover tersebut?” lanjut Ricky. Shodiq mulai tenang
mendengar jawaban dari para sahabatnya. Dan malampun menghilang saat pulau
kapuk menyambut mereka dengan hangatnya.
***
Sinar mentari pagi yang tak ada tandingannya
didunia kembali menggitari bumi, dengan awal senyum saat embun masih berderai
didedaunan. Hawa dingin menjelang hangat terasa jelas, saat yang tepat untuk
jogging. Mereka berempat akhirnya bisa jogging lagi, setelah satu minggu
lamanya kami masih terpulas diranjang ukuran 1x3 meter ini. Mereka tak lagi mendengarkan
lagu yang biasa mereka dengar, mereka fokus dengan apa yang mereka punya sekarang.
Memang masih awam, tapi mereka berfikir bahwasanya vocal mereka tidak begitu
jelek jika dibandingkan dengan para penyanyi dunia. Kembali, saat hendak pulang
Micky sempat melirik kearah Ghea yang notabennya adalah gebetan sahabatnya.
Faktanya saat itu, Rajifpun masih tak menyadari bahwa Ghea juga jogging, tapi
berlawan arah dengan mereka. So, i make
secret for my life. Apa yang Micky kehendaki
juga belum berpihak kepadanya.
Ghea menyadari bahwa seseorang tengah memperhatikannya,
ketika ia melirik kearah Micky dia langsung mendatangi mereka yang sedang
beristirahat dibawah pohon kecil nan rimbun.
”Aishhh, ada Ghea tuh” ucap Shodiq bercanda
melihat kearah Ghea.
“Ghea?” Rajif melirik kemana mata Shodiq
melirik. Tak lupa, Micky dan Ricky akhirnya memalingkan wajah kearah Ghea yang
dengan seksinya berjalan kearah mereka mengusapkan handuk kecil kewajahnya. She looks so beautiful. Micky kembali
terpana dengan wajah asri tersebut. Micky tak dapat melawan hasrat pria nya
untuk memiliki Ghea. Tapi Micky kecolongan start sama si Rajif.
“Hey” ucap Ghea singkat mulai beranjak duduk
disamping Rajif. Ada keresahan dimuka Rajif saat Ghea duduk disampingnya. Entah
apa itu, tapi Micky merasa bahwa Ghea adalah cewek terbaik yang pernah Rajif temui
selama ini. Tapi Rajif malah menyia-nyiakan kesempatan emas untuk bisa bersama-sama
dengan Ghea. Seandainya yang diberi kesempatan itu Micky, ia akan menjaga
kesempatan itu selama ia mampu menjaganya dan selama hidupnya.
“Eh, kita kesana dulu ya!” pinta Micky menunjuk
kearah kolam kecil yang tak jauh dari tempat kami berada. Spontan Ricky dan
Shodiq mengikuti langkah Micky, Rajif menatap kecewa sahabatnya yang mulai
menjauh dari sampingnya.
“Berarti sekarang statusnya udah jadi artis ya?”
sela Ghea tersenyum ke Rajif. Bingung, entah kepada Ghea bertanya sebenarnya.
Karena satu-satunya orang disana adalah sang pacar, tapi dia tak menyelipkan
nama Rajif dalam pertanyaannya.
“Mau nanya kesiapa?” tanya Rajif menatap Ghea
tajam. Ada ketidaksukaan dalam diri Rajif yang tampak dari tatapannya. Ghea
malu, akhirnya inisiatif lainpun datang. Tapi sebelum Ghea melontarkan kalimat
selanjutnya, Rajif terlebih dulu mengisinya.
“Sekarang udah berapa orang yang kamu bohongi?”
tanya Rajif meluapkan emosinya yang telah ditahannya selama 2 bulan ini.
“Aku tau kamu Ghea, aku ini pacar kamu. Tapi
kamu gak pernah jujur sama aku. Aku bosan Ghea diginiin, kalo aja kamu jujur
dari awal” Rajif menghentikan kalimatnya, ada kesedihan dan kebingungan dari
wajah Ghea nan memerah itu.
“Maksud kamu apa? Sejak kapan aku bohongin kamu
Rajif?” Ghea berbalik melontarkan pertanyaan kepada Rajif, Rajif telah tahu apa
yang akan dikatakan Ghea, maka dari itu mudah untuknya menjawab pertanyaan itu.
“Pertama, sejak kapan kamu jadi anak kost-an yang
minim akan uang? Kedua, kamu nyadar gak bahwa ada orang lain yang bahkan lebih
menyayangi kamu dari aku?” ok, pertanyaan pertama mungkin mudah untuk Ghea
menjawabnya, tapi untuk jawaban kedua?
“Jadi kamu ingin aku jujur?” tanya Ghea melemah.
Hendak menjawab pertanyaan Ghea, Ghea lebih dulu mengambil tempat untuk
menjelaskan semuanya.
“Memang, aku baru pindah ke kost sekitar 4 bulan
yang lalu. Tapi aku ngakunya sejak awal sekolah disini. Aku bosan hidup dengan
aturan busuk yang ayahku berikan. Putri raja tanpa teman, layaknya burung
disangkar emas. Aku bisa melihat dunia seperti apa yang aku inginkan, tapi aku
gak bisa menggapainya. Aku hanya terpaku disangkar kecilku itu. Dan dari itulah
aku memilih keluar dari sana dengan melepas semua falisiltas yang ayah berikan
kepadaku dan hidup dengan caraku sendiri” panjang lebar jawaban yang
dilontarkan Ghea kepada Rajif, Rajif tanpa kedipan mendengar penjelasan yang
diberikan sang pacar.
“Kedua, aku gak tau siapa yang lebih menyayangi
aku dari kamu. Kamu musti tau, seberapapun besar cinta dia kepada aku, aku
hanya ingin kamu” lanjut Ghea. Sontak, ada yang menyayat hati ketika Ghea
mengucapkan kata tersebut. Telinga Micky terlalu tajam mendengar ucapan yang
akan membuatnya merasa orang paling bodoh sedunia. Lemas, hanya itu yang bisa
aia rasakan saat itu. Gila, kenapa Micky bisa memendam perasaan gila ini
didalam jiwanya sampai sekarang. Bodoh.
“Tuan putri, kita itu beda masa. Saya harap anda
bisa kembali kekeluarga anda yang dahulu. Cara anda mengubah hidup anda, ok
anda berhasil. Tapi tidak untuk membohongi saya” Rajif masih mempermasalahkan
status Ghea yang memang adalah seorang anak pemilik salah satu perusahaan
rekaman musik terbesar di Indonesia ini. Sebenarnya, jika Rajif membicarakannya
dengan baik mungkin tak akan ada emosi belaka seperti ini.
”Rajif, ok kamu membenci aku karena aku gak
jujur sebelumnya sama kamu dan sahabat-sahabat kamu. Tapi itu aku lakuin karena
ku gak ingin kalian perlakukan khusus nantinya, aku hanya ingin jadi orang
biasa seperti kalian. Aku ingin berusaha dengan caraku sendiri, walaupun aku
harus melepas segala kemewahan yang aku miliki” terkesan air mata mengalir
dipipi Ghea. Emosinya meluap ketika harus menceritakan segala kehidupan
suramnya dikeluarga besar Bramantyo.
***
Ketika perbincangan selesai mengenai status
Ghea, Rajif dan Ghea akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Ikhlas, Ghea melepas Rajif. Rajifpun demikian. Tapi mereka tetap menjadi
sepasang sahabat layaknya bunga yang membutuhkan matahari. 08:45, mereka
mengajak Ricky dan Shodiq untuk balik kerumah. Ricky dan Shodiq tak lupa
menjelaskan bahwa Micky telah duluan pulang karena tadi ia terlihat sangat
lemas. Rajif menebak kenapa Micky sampai seperti itu? Dan itu adalah tebakan
yang sangat tepat. Terlebih dulu 3 cowok tersebut mengantarkan Ghea ke kost-an
nya yang tak jauh dari tempat mereka jogging. Setelah itu, barulah mereka kembali
kerumah. Walau tanpa Micky diperjalanan pulang, tapi yang namanya gelak-tawa
tak pernah lepas.
Ok, telah sampai dirumah. Tak terlihat jejak
Micky didalam rumah tersebut. Semua barang masih seperti tadi, masih bersih
tanpa sentuhan manusia. Heran, alasan yang dilontarkanpun tiba-tiba menjadi
teka-teki. Inisiatif mencari Micky datang, dimanapun dan bagaimanapun caranya
mereka harus menemukan Micky. Tak lama memang menemukan orang seperti Micky,
karena belum sempat memegang ganggang pintu, Micky telah hadir dihadapan mereka
semua.
“Darimana aja Mick?” tatap Shodiq ketus, karena
khawatir sanga sahabat akan kenapa-kenapa.
“Mata lu sembab. Lu habis ngapain?” dilanjutkan
dengan pertanyaan Ricky yang langsung
membuat Rajif berfikir panjang. Apakah tadi Micky mendengar
pembicaraannya dengan Ghea? Micky hanya membalas senyum kepada sahabatnya
tersebut.
“Tadi gw dapat telpon dari label, katanya kita
besok jam 4 sore harus sudah ada di studio” jelas Micky yang benar saja
mengalihkan pembicaraan dari sahabat-sahabatnya.
“Micky, jangan bahas itu dulu lah. Gw pengen
dengar sedikit penjelasan dari lu, kenapa mata lu sembab? Trus lu darimana? Tantang
Shodiq yang tak ingin ada pembahasan lain selain membahas keadaan Micky
sekarang.
“Mungkin ngantuk aja kali Diq, thanks udah
khawatir” jawaban singkat dan langsung langkah kaki Micky menuntunnya keruangan
pribadinya. Masih ada sayatan yang terasa ketika ingatan tadi pagi ia ingat.
Jelas sekali.
Rajif memendam kekesalan yang mulai tumbuh
dihatinya. Ada ketidaksukaan saat Micky tak menjawab jujur pertanyaan
sahabat-sahabatnya tadi. Tanpa fikir panjang, mereka juga berangkat keruang
masing-masing dan kembali tertelap. Dikarenakan sekarang libur, tak ada batasan
tidur untuk mereka. Malah mereka semakin siang semakin nyenyak. Ketika
terbangun sekitar jam 14:30, ada 7 panggilan tak terjawab diponsel Rajif dengan
nomor yang sama. Tak lain adalah sang pemilik label yang ingin bertemu dengan
mereka.
***
Sesampainya di studio, sang pemilik telah
berdiri tegap didepan pintu untuk menyambut artis baru tersebut. Adakah sesuatu
yang sangat penting untuk dibicarakan? Mungkin ada.
“Bagaimana? Kalian suka dengan dunia baru
kalian?” tanya sang pemilik label meletakkan secangkir teh panas yang baru
selesai diteguknya. Mungkin mereka belum mengetahui bahwasanya sang pemilik
label adalah ayah dari Ghea, yaitunya pak Bramantyo. Mereka hanya menjawab
dengan anggukan dan senyuman kecil.
“Mungkin saat ini kalian harus mempunyai manager
untuk me-manage jadwal kalian kedepan. Karena saya lihat, sudah ada 30 undangan
manggung untuk kalian sampai akhir tahun ini” lagi-lagi, mereka terpana dengan
apa yang diucapkan oleh pak Bramantyo. Nyatanya, keberuntungan tengah berpihak
kepada mereka. Tak lama, sebuah nama terlintas difikiran Micky. Ghea, ya memang
hanya Ghea yang bisa menjadi manager mereka.
“Kami sudah menemukannya pak” jawab Micky penuh
semangat. Wajah melongo 3 sahabatnya terpampang menatapi Micky yang tengah
senyum-senyum sendiri. Bingung, karena mereka belum tahu siapa yang dimaksud
Micky. Tapi, mereka hanya bisa mengikutinya untuk saat ini.
“Baiklah, saya tunggu kedatangan kalian Rabu
sore disini. Juga dengan manager kalian” akhirnya pertemuan itupun berakhir.
Pak Bramantyo memang adalah orang yang sangat mewah. Tangannya tak pernah
memegang ganggang pintu mobil. Selalu ada asistennya yang setia. Itulah yang
membuat Ghea memutuskan untuk keluar dari rumah. Karena ia tak dapat melakukan
apapun.
Tak ada pertanyaan yang terlontar ketika Micky
dengan mahirnya mengendarai mobil. Masih, hanya tatapan bingung dan penasaran
yang ada dalam jiwa 3 sahabat Micky. Micky juga tak ingin menceritakan itu
kepada sahabatnya, karena ia hanya akan menceritakannya ketika mereka telah
sampai dirumah. Karena jam telah menunjukkan pukul 17:30 WIB, 4 sahabat itu
langsung menuju rumah. Selesai mandi dan shalat, waktu makan malam datang. Dan
disaat itulah Micky menceritakan semua.
“Apa?” teriakan itu keluar serempak keluar dari
mulut 3 sahabat Micky yang masih berisikan makanan.
“Ghea? Kenapa harus Ghea?” tiba-tiba pertanyaan
bodoh keluar dari mulut Rajif. Hal yang tak
diketahui oleh sahabat-sahabat Rajif adalah statusnya yang
sekarang telah single sama seperti sahabatnya.
“Kan gak apa Jif. Pertama, dia pacar lu. Kedua,
kita bisa bantu dia kan untuk biaya hidupnya. Dan yang paling penting adalah,
kita bisa bekerja dengan orang yang dekat dengan kita dan bisa kita percayai
sepenuhnya” jelas Micky yang memang tak mengetahui apa yang telah terjadi dalam
dunia nyata ini.
“Micky, bukan masalah gw pacaran sama dia atau
ngak. Tapi, dia itu cewek. Gak mungkinlah kita punya manager cewek. Lagian ya,
dia kan punya banyak uang. Ngapain juga kita make jasanya dia” keceplosan,
tanda tanya besar keluar dari otak 3 sahabat Rajif. Apakah yang tengah
dibicarakan Rajif?
“La, kok lu ngomong kek gitu sama Ghea Jif? Dia
kan pacar lu. Trus soal uang lu darimana tau kalo dia banyak uang? Dia kan gak
ada orang tua” dengan polos, Shodiq memberi pertanyaan yang telah Rajif susun
rapi jawabannya. Mati. Apakah ini saatnya untuk jujur? Akhirnya Rajif dengan
terpaksa mejelaskan segala sesuatunya yang telah ia ketahui dari awal.
“Ok, mungkin ini saatnya menceritakan kepada
kalian tentang Ghea. Pertama, gw udah gak ada hubungan sama dia. Kedua, Ghea
adalah seorang anak pemilik salah satu label musik terbesar di Indonesia”
penjelasan yang mewakili semuanya. Micky, ada perasaan senang dan kecewa.
“Jadi, buat lu Mick. Lu ada kesempatan untuk mendapatkan
Ghea” serasa ditampar sahabat sendiri. Micky tak dapat mengatakan apa-apa.
Hanya wajah tegar yang bisaia perlihatkan. Micky memang mengetahui jikalau
perasaannya memang sangat rahasia, dan karena itulah Rajif mudah untuk menebak
perasaan Micky yang memang benar adanya.
“Maksud lu apa Jif?” Micky bertanya seolah-olah
tak mengetahui arah pembicaraan Rajif. Micky mulai tak nyaman dengan suasana
saat itu, hanya satu hal yang ia fikirkan saat itu, yaitunya keluar dari
ruangan suram itu untuk mencari secercah ketenangan yang mungkin akan ia dapat
jauh dirumah itu. Tujuan utama Micky saat itu adalah puncak rumah yang ia pijak
saat itu. Dengan tegapnya ia bangkit dari kursinya untuk melaju cepat kearah
genteng dan meninggalkan sejumlah pertanyaan diwajah para sahabatnya.
“Micky” sorai Rajif yang masih menyimpan
sejumlah fakta yang harus ia ceritakan kepada Micky. Tapi Micky tetap
melanjutkan langkahnya untuk melaju tujuannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan
saat itu.
Tak lama, Micky telah sampai digenteng
tujuannya. Ia terebah diatas genteng dan menatap kedinding bumi nan gelap dan
dilengkapi cahaya kecil yang berserakan disana. Mulai ada sinar yang menerangi
jiwanya yang gelap karena gumpalan emosi, hirupan nafas yang tenang
menjadikannya menjadi lebih tenang. Tangan kecilnya menari-nari menghitung
bintang yang berserakan, sebenarnya hal itu tak akan selesai karena
bagaimanapun bintang tersebut susah untuk dihitung. Hendak kembali kekamar,
kakinya yang kokoh tiba-tiba tergelincir dan saat itu juga ia terjatuh. Ada
teriakan yang sampai ketelinga 3 sahabat Micky, langsung mereka memasang
ancang-ancang keluar. Dan apa yang mereka temukan? Micky yang sedang kesakitan,
yang sedang mengeluh karena baru saja jatuh dari atas genteng rumah. Beruntung,
sekelompok rumput 3 senti meter yang menyambut Micky jatuh ketanah. Jika tidak,
ia akan langsung dilarikan kerumah sakit. Khawatir, mereka membimbing Micky
kekamarnya.
“Lu gak apa Mick?” pertanyaan dasar yang jika
seorang terkena musibah dikumandangkan. Tak ada jawaban yang terlontar, hanya
sebuah senyuman terpaksa yang ia beri kepada sahabatnya. Rajif yang tadi
mempunyai kekesalan kepada Micky, kini luluh karena sang sahabat yang tengah
kesakitan. Memang malam itu rumah ditutupi awan gelap, tapi tak berlangsung
lama karena solidaritas mereka jelas terlihat sekalipun mereka tengah ada hal
buruk yang tak bisa untuk dibicarakan.
***
“Lu udah baikan Mick?” nada lembut itu keluar
dari mulut Ricky yang duduk tepat dihadapan
Micky pagi itu diruang makan. Ricky tak pernah lelah untuk
menjadi malaikat tanpa sayap untuk para sahabatnya, karena dibalik sosok yang
dewasa, Ricky juga mempunyai banyak masalah dalam hidup yang telah terbiasa ia
lalui dengan indah. Lain halnya dengan Shodiq yang notabennya yang paling tua,
ia adalah orang yang mudah senyum dan juga paling parno-an ketika ada sesuatu
terjadi. Contonya, saat malam ketika Micky jatuh dari genteng. Ia adalah orang
yang sangat khawatir dengan keadaan Micky. Namun hal lain ditunjukan Rajif, ia
lebih menjukkan sikap jutek tapi penuh perhatiannya kepada para sahabatnya.
Mungkin bukan lewat kata-kata, tapi melalui setiap perbuatan yang ia bisa
lakukan untuk para sahabatnya.
“Lumayan seh. Makasih banyak untuk bantuan
kalian” balas Micky memegangi pinggangnya yang masih terasa sakit tapi mulai
baikan. Pinggangnya yang menjadi titik korban jatuhnya tubuh tegapnya kerumput
semalam, membuatnya harus berdiam dirumah sejenak. Menghilangkan aktivitas,
termasuk sekolah dan dunia barunya. Hal itulah yang disayangkan, karena Micky
mempunyai daya tarik tersendiri disekolah. Mungkin banyak yang tak suka karena
ia mampu lebih cepat dekat seorang wanita dibandingkan yang lain, karena itu
juga susah untuk Micky mendapatkan satu cinta seperti yang ia inginkan.
Akhirnya kelas dihari Selasapun terasa sepi, tak
ada lagi yang bisa diganggu. Shodiq hebat dalam melucu, tapi itu tak akan
berhasil jika tanpa seorang Micky. Terpaksa dengan sangat, Shodiq menutup semua
gurauannya pada hari itu. Setelah satu jam pelajaran sang guru tak datang,
Shodiq menjangkau ponsel yang ada dikantongnya dan segera menghubungkan
keseberang sana yang tak lain adalah nomor Micky. “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silahkan coba beberapa saat
lagi” suara seorang perempuan dari call-center mengingatkan bahwa nomor
Micky saat itu tak bisa diakses. Karena Micky me-nonaktif-kan ponselnya agar ia
bisa istirahat dengan tenang dan bia segera sembuh. Ghea terlihat berdiri
menunggu seseorang didepan pintu kelas Rajif, entah siapa yang ia tunggu saat
itu, Rajif hanya memandangi sang mantan dari dalam kelas. Tampak Ghea masih
gelisah menunggu kedatangan orang yang ia tunggu. Tak sengaja ketika menoleh
kekelas Rajif, Ghea mendapati lemparan tatapan dari Rajif sangat tajam
kepadanya. Hanya sebuah senyum kecil yang ia beci kepada Rajif dan beranjak.
“Diq, seharusnya Micky datangkan sekarang? Untuk
membicarakan hal semalam ke Ghea. Tapi kayaknya kita deh yang harus bicara ke
Ghea supaya Ghea bisa menerima ajakan kita” Ricky menyarankan agar perihal manager
biar ia dan Shodiq yang membicarakan. Wajah seriusnya menatap Shodiq dalam-dlam
seolah memberi isyarat bahwa mereka harus berhasil, tidak boleh tidak. Berlatar
kantin yang super rame dikunjungi masyarakat sekolah, dua sahabat itu mengambil
jalan tengah akan menemui Ghea sepulang sekolah ini atau setelah mereka selesai
bernostalgia dengan nasi goreng pedas dan teh es. Ya, waktu yang tersisa
setelah makan ada 30 menit lamanya. Ancang-ancang menemui Ghea menjadi
kenyataan, dan dengan mudah Ghea ada waktu untuk berbicara dengan mereka
berdua.
“Ok, kalian mau ngomongin apa?” Ghea seolah-olah
memberi isyarat bahwasanya ia tak punya banyak waktu. Ia dengan seksama
mendengarkan sebuah ajakan dari Shodiq dan Ricky. Hanya ada perasaan bingung
dan gelisah ketika ajakan itu berakir diucapkan. Ghea yang pada dasarnya adalah
ketua majalah sekolah tak mempunyai banyak waktu, apalagi untuk me-manage 4
orang cowok itu.
Ada sisi positif yang ia dapatkan, yaitu bisa meliput banyak
dunia baru 4 sahabat itu. Tak hanya itu, ia juga akan banyak kesempatan besar
untuk meliput artis-artis besar di Indonesia ini.
“Besok sore kita bakal pergi ke studio dan
ngenalin lu ke owner. Supaya mereka ngizinin langkah kita ini” akhirnya Shodiq
langsung mengatakan jadwal untuk Ghea yang segera akan dikenalkan dengan
pemilik label MelonMusica. Kesalahan, mereka
lupa untuk menyebutkan nama label musik yang sekarang tengah menjadi ladang
kesuksesan untuk mereka.
Kring... Kring... Kring...
Suara bel besi tua masih setia menjadi alarm
para siswa untuk menandakan setiap pelajaran akan dimulai, istirahat, dan waktu
pulang. Semua siswa SMA 06 JAKARTA berbondong menuju satu pintu keluar dari
kepenatan yang selalu menjadi hantu ketika ada pelajaran yang tak mengasyikan,
ketika tugas menjadi lawan, dan ketika sebuah kisah tertulis dengan kegelapan.
Tak jauh berbeda dengan pasar. Bising, suara knalpot keras yang siap memecahkan
gendang telinga, suara tawa disetiap sudut genk, setiap pembajakan terhadap
anak-anak kutu buku dan tentunya cupu. Itu semua adalah dunia. Dunia dimana 4
sahabat itu menimba ilmu,mereka beruntung tak mengalami hal terakhir yang
disebutkan, malahan mereka adalah orang yang sangat dielukan disetiap kelas dan
ruang guru. Suara mobil yang sekarang diambil-alih oleh Shodiq sangatlah tenang,
tak akan mengganggu pendengaran, tak sama dengan motor anak-anak remaja zaman
sekarang yang lebih mementingkan kesenangan sendiri daripada keadaan
disekitarnya. Karena Micky tengah dalam keadaan sakit dan harus beristirahat
dirumah, Ghea dengan kekeh menawarkan diri untuk melihat sekilas keadaan Micky.
Rajif masih menutup kata untuk sang mantan pacar. Tapi Ghea tahu, bahwa Rajif
masih memainkan bola matanya untuk sekejap melihat wajahnya. Keadaan didalam
mobil tampak sunyi walau ada 4 manusia didalamnya, Ricky dengan asyik menantang
sepasang headsetnya bermain digendang telinganya, sedangkan Shodiq fokus dengan
stir, dan Rajif serta Ghea masih tampak seperti anak baru masuk SMA mencoba
untuk saling mengenal tapi perasaan malu menghantui.
“Jif, emang Micky kenapa? Kok sampe sakit gitu?”
tiba-tiba sambaran petir menghantar daun telinga Rajif. Semakin kesal, karena
Ghea lebih menanyakan Micky daripada keadaannya. Biar bagaimanapun, Rajif malah
tak merespon pertanyaan yang dilontarkan oleh Ghea tersebut.
“Semalem tu dia kan lagi ada diatas genteg Ghe,
trus gak tau kenapa kkami ngedengar dia lagi teriak kesakitan diluar. Eh pas
kami kesana, ternyata Micky yang udah memegang pinggangnya yg kesakitan”
jawaban keluar dari mulut Ricky. Sebenarnya, Ghea lebih berharap agar Rajif
yang menjawab, tapi Ricky lebih dulu mengutarakan penyebab Micky sakit hari ini
dan tak menghadiri PBM. Sedikit lega, karena ada jawaban walaupun bukan dari
orang yang diharapkan.
Akhirnya, mobil biru langit itu sampai didepan
rumah dan langsung memasuki garasi. Ghea masih menunggu aba-aba untuk segera
masuk. Ketika Ricky mengajaknya untuk masuk, barulah kakinya melangkah
hati-hati kedalam rumah tersebut. Yang ia saksikan saat pertama masuk kedalam
rumah tersebut adalah pajangan foto berukuran 2R sampai 10R. Foto 4 sahabat
yang sangat intim dan sangat tak bisa melihat kedekatan mereka. Pandangan
terpana jelas ditunjukan Ghea. Bagaimana tidak? 4 cowok itu adalah orang yang
beruntung yang bisa menemukan kecocokan antara sahabatnya yang lain. Fikiran
dewasanya menjelaskan ketika mereka ada dalam masalah, pasti mereka bisa
melalui itu semua secara bersama, termasuk juga cinta. Alah, itulah masalah
yang sekarang tengah Rajif simpan dengan baik. Masih terlalu dini menyampaikannya
ke Micky. Jika sekarang, persahabatan tersebut hanya akan tinggal pajangan.
Selanjutnya, Ghea dan 3 sahabat itu beralih
kekamar Micky yang berada disudut rumah paling belakang tapi adalah kamar
favorit, karena 3 sahabat Micky banyak menghabiskan waktu disana untuk
bersanai-santai, bercanda, ataupun bercerita hal sedih yang bisa menguras air
mata mereka.
Ketokan pintu dari luar tak menjangkau indera
pendengaran Micky. Ia masih lelap. Matanya terlalu kuat untuk dibuka. Beruntung
pintu tak terkunci, jadi mereka bisa masuk kekamar Micky tanpa harus membuat
kerusuhan. Entah kenapa, Ghea merasa tenang melihat Micky yang tidur dengan
lelap. Mungkinkah ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dalam diri Ghea?
Mungkinkah ia merasa hal yang sama ketika bersama Rajif? Mungkinkah ia merasa
sesuatu itu adalah... Rancu, Ghea langsung memperoleh tempat disuatu kursi yang
ada disamping ranjang Micky. Mencoba untuk biasa saja dihadapan sang mantan dan
2 sahabatnya, agar tak ada kecurigaan dan menumbuhkan kekecewaan. Mengeliat
kearah Ghea dan 3 sahabatnya, Micky terkejut saat membuka mata. Matanya berubah
seperti bola bekel, besar dan terkejut.
“Kalian kapan disini?” tanya Micky mengucek bola
matanya yang sangat tak enak untuk disaksikan. Apalagi ada seorang malaikat
hatinya disana.
“Maaf, tadi kami udah ketok pintu, tapi gak ada
jawaban. Yaudah, karena pintunya juga gak dikunci, kami berempat akirnya masuk
aja” jelas Ghea dengan tenang.
Tanpa ada kata, Ricky dan Shodiq keluar ruangan.
Entah mereka mengetahui atau tidaknya hubungan tersebut. Rajif, tak enak dengan
suasana saat itu, ia juga keluar ruangan. Mungkin ada hal yang akan dibicarakan
Micky dan Ghea selain mengenai hari esok.
“Langsung saja ya Mick, aku gak tau aku bisa
atau gak, tapi sepertinya aku gak bisa jadi manager kalian” pernyataan Ghea
berbalik ketika ia mengiyakan ajakan Shodiq dan Ricky waktu itu. Micky memasang
wajah lesu tepat dihadapan wajah Ghea.
“Kenapa gak bisa Ghe? Kami cuma bisa ngandelin
kamu. Gak ada orang lain yang bisa kami percaya selain kamu” Micky berusaha
meyakinkan Ghea agar mau menjadi managernya dan sahabat-sahabatnya. Sepasang
ata Ghea menagkap tatapan Micky, ia membalas dengan tajam tatapan Micky
meyakinkan bahwa memang ia tidak bisa. Tapi Micky tak henti berusaha untuk
meyakinkan Ghea untuk mengiyakannya.
“Ghe, ayolah Ghe. Kami butuh orang sepertimu.
Hanya kamu yang akan bisa me-manage jadwal kami” sekali lagi, Micky masih
meyakinkan Ghea. Masih, dan masih.
“Ok-ok, aku coba. Tapi untuk satu bulan ini aku masih
belum resmi ya jadi manager kalian. Aku cuma masih jadi manager yang masih
ditraining ceritanya ya?” deadlock, Ghea menerima tawaran tersebut. Refleks,
Micky memangku tubuh mungil tersebut dengan senang seolah sakit yang ia dapat
telah sembuh setelah mendengar ucapan terakhir dari Ghea. Ghea pasrah.
Tersadar, Micky melepaskan pelukannya. Dengan malu dan wajah memerah Ghea
berlari kecil keluar dan meninggalkan sesosok tubuh yang masih memandangnya
sampai akhirnya hilang dari pelupuk matanya.
“Gw pulang duluan ya. Gak ush dianter, deket
cuma kan?” dengan nada tergesa Ghea berlari keluar rumah tersebut. Berbeda
dengan Micky, mereka malah menyimpan banyak kebingungan. Akhirnya tersebut
kembali kesuasana semuala, dimana hanya ada 4 cowok dan tanpa seorang wanita.
Rajif sibuk mengotak-atik laptopnya untuk
mencari folder dimana banyak kenangan yang ia ciptakan dengan Ghea sebelum ada
akhirnya memutuskan untuk menjadi sepasang sahabat. Ia memandangi wajah
bahagia, manyun, dan sedih sang pacar juga diberngan foto-foto para sahabatnya.
Ricky tanpa Shodiq datang dan setengah meter dari Rajif melihat sekumpulan foto
mereka bersama, ia juga melihat ada selipan foto-foto Rajif dan Ghea ketika
masih bersama.
“Jif, lu masih punya harapan untuk kembali sama
Ghea Jif. Lu harus pertahanin perasaan lu. Lu udah dewasa Jif, lu punya jalan
sendiri untuk kisah lu yang satu ini” bisikan kecil ditelinga Rajif yang
membuatnya terhentak seakan menjadi cahaya untuk masa depannya. Tapi itu hanya
akan menjadi perkataan, karena hal itu tak akan pernah ia lakukan.
“Rick, gw sayang sama Ghea, bahkan sangat Rick.
Tapi gw gak bisa lagi ngelanjutin itu semua kalo seandainya gw bikin sahabat gw
sakit hati Rick”
“Jif, kita semua sayang sama lu, juga Micky.
Jika lu emang gak mau balik sama Ghea lagi, apa lu siap dengan resikonya?”
Ricky menegaskan bahwa ia siap mendukung Rajif berbalik dengan Ghea.
Masih dalam pembicaraan, Micky dan Shodiq masuk
kekamar Rajif yang telah ada didalamnya Ricky. Terlihat ada pembicaraan serius
antara Ricky dan Rajif.
“Kalo mau masuk itu, ketok dulu pintunya bisa
ndk?” jelas sekali sindiran Rajif kepada Shodiq dan Micky. Itu adalah sindiran
pertama Rajif kepada para sahabatnya. Sangat menuruk perkataan tersebut,
sehingga Shodiq berbalik arah keluar.
“Yaudahlah Mick, gw keluar aja lah” suara Shodiq
melemah berbisik kepada Micky. Wajahnya tertunduk sayu menatap lantai. Rajif
merasa sangat tak enak, karena ulah perkataannya Shodiq merasa tak dihargai
lagi. Biasanya, mereka tak pernah meminta izin untuk masuk kekamar yang lain.
Walaupun apa yang dilakukan yang lain sangat privasi.
”Baru 3 minggu jadi seorang penyanyi, tapi udah
lupa sama daratan kayaknya. Ah, gila. Sahabat sendiri sampai digituin. Malunya
dimana?” berbalas Micky menyindir Rajif dengan lantang. Rajif diam, karena apa
yang dikatakan Micky memang benar adanya. Yang hanya bisa ia lakukan adalah
kembali menantang layar monitor didepannya, walaupun sebenarnya rasa lesu juga
menghampirinya.
“Mick, lu apaan sih Mick? Lu yang bikin semua
jadi berntakan kayak gini?” perkataan Ricky sangat melenceng jauh dan membuat
Micky mengerutkan keningnya. Mulai keruh suasana malam itu karena diawali sikap
Rajif yang berlebihan.
“Iya, lu yang bikin Rajif kayak gini. Coba aja
lu gak nyimpan rasa sama Ghea, pasti Rajif gak bakalan kek gini” plak, Micky
serasa ditampar keras oleh kelanjutan perkataan Ricky. Ia mulai mengerti akan
sikap Rajif yang akir-akir ini mulai dingin kepadanya. Berusaha mencerna setiap
kalimatnya, akirnya dengan berat hati ia menjawab
“Rajif, gw emang suka sama Ghea. Bahkan sebelum
lu mengenal dia. Gw juga udah tahu latar belakang dia, jauh sebelum lu
mengetahuinya. Sekarang, apa salah gw berharap gw bisa dapetin dia? Apa salah
gw nyimpan perasaan ini”
Segumpal tangan melekat dipipi Micky. Keras,
sangat keras. Sehingga ia terebah kelantai kamar Rajif yang bersih.
“Diam lu Mick, gw gak pengen denger apa-apa”
Rajif dengan lantang menyuruh Micky menghentikan perkataannya. Air itu telah
tergenang dikelopak matanya, belum sampai mengalir. Tangannya bermain-main di
depan mata Micky. Ricky yang tadi tengah duduk berusaha mencegah perkelahian
itu dengan menahan tubuh Rajif.
“Udah lah Jif, tenangin fikiran lu. Jangan
biarin fikiran kotor lu ngebuat persahabatan kita jadi ancur kek gini” tahan
Ricky memegang pundak Rajif yang bidang.
“Kenapa? Apa setelah lu nonjok gw, gw bisa gitu
aja ngelupain perasaan gw? Lu bisa aja berkali-kali lakuin itu ke gw Jif, tapi
berapa kalipun lu coba untuk menahan perasaan gw, maaf besar Jif” Micky akirnya
berani mengucapkan kata-kata tersebut, kata-kata yang telah dipersiapkannya
ketika ada suasana seperti ini.
“Ok, lu berdua baru berantem? Silahkan. Gw
keluar” emosi Ricky meledak, cuek ia melangkah keluar dari kamar Rajif dan
membiarkan 2 sahabatnya itu berantem. Walau pada akirnya 2 sahabatnya pun
menghentikan pertengkaran yang tiada habis itu.
“Jif, mungkin emang gak mudah buat lu. Gw juga
Jif. Lu fikir setelah lu putus sama Ghea gw langsung aja gitu nembak dia? Gak
Jif. Bahkan gw pengen ngelupain perasaan gw ini Jif ke dia, walaupun susah”
suara Micky melemah dikeheningan yang memecah suasana. Mungkin hanya ada satu
perasaan yang mewakili perasaannya saat itu, sedih. Dan sosok Micky pun
menghilang, ia berbalik menjauh dari kamar Rajif dan menyusuri lorong ruangan
menuju kamarnya. Tak disangka, hanya karena seorang perempuan yang datang entah
darimana, persahabatan yang dipupuk dari kelas 1 SMP itupun berantakan tak
berirama. Apakah ini Ghea menentukan pilihan? Siapakah yang akan ia pilih
sebagai kekasihnya? Benarkah Micky ingin melupan perasaannya?
***
Bad
Effect
Hari yang ditunggupun datang, hari dimana Ghea
akan menandatangai kontrak pertamanya, hari dimana Ghea akan menemukan banyak
masalah untuk hidupnya, hari dimana Ghea akan melihat ayahnya lagi setelah satu
tahun belakang tak pernah ia temui. Berlapiskan dres putih dengan bawahan
hingga lutut dan ditambah dengan sniker hill 3cm menjadikannya lebih anggun,
tak lupa wajahnya yang cantik hanya butuh polesn sedikit untuk benar-benar
terlihat menawan. Rabu sore tersebut, Rajif dan Micky sengaja tak diizinkan
Ricky untuk ikut sebelum permasalahan diantara mereka berdua selesai. Langkah
yang dewasa, tapi seharusnya mereka ikut karena akan banyak sekali hal yang
dibicarakan mengenai ini dan nantinya akan ada diskusi lebih lanjut tentang
project kedepannya.
Saat mereka tlah memasuki ruang pak Bramantyo,
beliau belum ada diruangannya. Beliau hanya meninggalkan pesan kepada sang
sekretaris untuk menyampaikan bahwa ia akan sedikit telat untuk datang karena
ia ada meeting penting dengan pemilik saham dari luar negeri. Dan saat yang
menyebalkan datang, saat dimana menunggu menjadi bayangan gelap. Disaat
ketidakpastian dan harapan mendekap, ketika hendak sampai, lenyap dan membuat
kesedihan yang mendalam.
Ketika Ricky dan Shodiq berada di studio untuk
membicarakan kontrak Ghea, Micky dan Rajif masih dingin untuk bersapaan. Tak
ada kalimat yang keluar, bahkan senyumpun sulit untuk mereka lemparkan satu
sama lain. Diruang tengah itu, mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Rajif yang sibuk dengan laptop masih dengan hal sama seperti yang ia lakukan
semalam. Sedangkan Micky, serius dengan lirik-lirik baru yang berkemungkinan
besar akan dia ajukan ke label untuk dijadikan lagu selanjutnya, dan akan
keluar dari background “PENYANYI COVERAN”. Lirik pertama yang ia ciptakan
adalah “Jarak Kita”, sebuah lirik yang menceritakan tentang persahabatan
anak-anak manusia tapi karena hal kecil semua berantakan, hancur tak bersisa
bagai selembar tisu yang diguyur panasnya hujan api.
Ghea merasa familiar dengan ruangan yang ia
masuki dengan Ricky dan Shodiq tersebut. Berasa ruangan tersebut pernah ia
masuki atau bahkan ruangan itu sama persis dengan selera seseorang yang pernah
ia kenal. Ia masih meraba-raba ingatannya, belum ada jawaban yang bisa ia
dapatkan dari semua itu. Tapi kembali lagi, bukan itu yang harus ia fikirka
sekarang, tapi bagaimana caranya meyakinkan sang pemilik label bahwa Ghea yang
akan menjadi manager Shodiq dan para sahabatnya. Blank, tiba-tiba sang owner
datang. Wajah Ghea tertagun tercengang melihat orang tersebut. Ya, dia adalah
ayah Ghea. Hal yang sama juga terjadi pada sang ayah. Sang ayah masih mengingat
jelas wajah sang anak yang telah satu tahun meninggalkannya tanpa kabar.
“Papa, papa ngapain disini?” pertanyaan yang dilontarkan
Ghea membuat tanda tanya besar dikening Shodiq dan Ricky. Mereka benar-benar
tak tahu alur sekarang.
“Ghea, satu tahun kamu ninggalin rumah bukan
berarti papa harus berhenti berinvestasi kan untuk kamu? Papa bahkan dengan
semangat melanjutkan pembangunan studio ini. Sebelumnya papa gak pernah kan
ceritain sama kamu tentang ini. Karena ini adalah nantinya untuk kamu. Untuk
msa depan kamu” pak Bramantyo menjelaskan dengan detail pertanyaan dari Ghea.
“Maaf sebelumnya pak jika kami berdua lancang.
Apakah bapak dan Ghea saling mengenal?” Shodiq mengambil alih pembicaraan.
Itulah pertanyaan yag harus ia keluarkan saat itu. Hanya pertanyaan itu yang
ada sebelum merek benar-benar masuk ke kontrak yang sebenarnya.
“Hmm, saya yang seharusnya minta maaf karena
saya telah mengulur waktu kalian banyak. Dan bahkan sekarang saya tidak
berbicara dengan kalian, malah dengan anak saya” pak Bramantyo menjawab
pertanyaan Shodiq dengan semangat, semangat karena sudah tak lama bertemu
dengan Ghea sang anak tercinta.
“Apa? Anak?” serentak Ricky dan Shodiq berteriak
kaget dengan pernyataan tersebut. Pernyataan yang akan membuat dampak positif
untuk masa depan mereka tentunya. Pak Bramantyo akhirnya menyuruh tiga anak
remaja tersebut bersantai digumpalan gabus yang dilapisi oleh jehitan benang
empuk didepan meja pak Bramantyo. Ghea mulai tak nyaman, Ghea merasa sang ayah
akan membujuknya untuk balik kekandng harimau itu. Kandang yang selalu
menguncinya. Kandang yang tak pernah membiarkannya melakukan pekerjaan apapun.
Lama, dan telah lama berbincang, akirnya sampai diinti pembicaraan.
“Jadi kalian mengajak Ghea menjadi manager
kalian?” tanya pak Bramantyo mulai serius dengan project yang akan dijalaninya
dengan 4 cowok remaja didunia baru merek ini.
“Iya pak” jawab Ricky singkat, jelas, dan padat.
“Apa dia setuju?” kembali pak Bramantyo bertanya
untuk meyakinkankan 2 sahabat itu.
“Pertama kita tawarkan ia setuju, mungkin pas
bertemu bapak ia bahkan sangat setuju” jawaban yang sangat melenceng dari
Shodiq.
“Gak, aku gak setuju. Sekarang juga aku gak akan
mulai pekerjaan ini” Ghea menyusul jawaban Shodiq dengan lekas.
“Maaf pa. Aku gak bisa kerja kalo sistemnya
kayak gini” lanjut Ghea berdiri dan mencoba untuk meniggalkan ruang pak
Bramantyo.
“Ghe, kenapa kek Ghe? Jangan anggap pak
Bramantyo papa lu, lu jadi gak nyaman kek gini. Anggap aja kita bekerja sama
orang lain Ghe” Shodiq mencegah Ghea yang mulai melangkahkan kakinya menuju
pintu keluar. Ok, Ghea berlanjut melangkahkan kakinya keluar. Akhirnya
pertemuan hari itupun selesai setelah Ricky dan Shodiq mengejar ketertinggalan
mereka dari Ghea. Pak Bramantyo hanya menyaksikan peristiwa hari itu dengan
senyuman kecil. Ia yakin bahwa penyanyinya akan membawa anaknya beserta tanda
tangannya. Dan pak Bramantyo hanya mengirimkan pesan singkat ke ponsel Ricky
yang berisikan ”mungkin saya akan memberi
kabar pertemuan selanjutnya, kalian harus berusaha membujuk Ghea untuk masa
depan kalian nantinya”. Ricky tak membalas pesan tersebut, karena ia sibuk
mengejar Ghea yang memiliki kecepatan lumayan lebih untuk jangkauan seorang
perempuan.
***
“Ketika
sahabat tengah bahagia, disana canda dan tawa pecah
Ketika
sahabat tengah bersedih, disana tangisan menemani semua
Atap ini tak
akan melindungi kita dari bahaya,
Tapi,
sahabat punya itu semua
Kenapa
sekarang kita berjarak sekarang?
Kenapa kita
mempermasalahkan
Perihal yang tak penting untuk dipertengkarkan?
Aku tahu apa yang akan menyelesaikan semua
Aku berusaha untuk menatanya kembali
Kawan,
Jika nanti aku kembali mencintainya
Ingatkan aku bahwa aku salah menaruh rasa
Lirik hanya segumpal kata-kata
Lagu hanya permainan kata
Dan drama, hanya permainan ekspresi muka
Tapi kita?
Bukan bagian dari itu semua
Kita, dunia nyata yang melebihi karya luar biasa
Ingatlah saat diawal kita bertemu
Janji persahabatan yang akan menjadi benteng
kita semua
Janji yang akan selalu membuat kita bersama
Kawan,
Bebahagiaanmu kebahagiaanku, tangisanmu
tangisanku
Kembalilah kemana kau akan kembali
Agar kau bahagia dengan pilihan mu yang pasti
Kembalilah kesini”
Micky meringis keras setelah selesai menyatukan
kata-kata itu menjadi sebuah lirik, tepatnya itu adalah sebuah puisi, bukan
lirik lagu. Walau tangisannya terdengar keras, tapi tak akan ada efek karena
kamar Micky adalah kamar yang kedap suara. Sebesar apapun suara yang keluar
dari kamarnya, tak akan pernah terdengar dari luar. “Tuhan, hanya ini yang bisa aku perbuat. Izinkan aku menjaga
sahabat-sahabatku ketika aku berada dalam setiap musimku Ya Allah” Micky
kembali merintih. Ya , hanya itu yang bisa ia lakukan saat itu. Hanya tangisan
yang bisa mewakili setiap perasaan sedihnya. Berbeda dengan Micky, Rajif
mencoba mengingat setiap kalimat-kalimat Micky yang diucapkannya tadi malam.
“Mungkin gw emang salah Mick, maaf banget Mick.
Gw juga terlalu sayang sama Ghea Mick. Kalau aja gw gak nyucapin kalimat itu ke
dia Mick, mungkin sekarang dia masih milik gw Mick” nada penyesalan tertumpu
dimata Rajif yang juga mulai memerah. Rajif menatap lemah kesetiap atap-atap rumah
yang setia berbaris bak para tentara yang tengah menjalani latihan militer.
Waktu memang tak terhitung, waktu memang susah untuk dimengerti. Waktu yang
menjadikan mereka sebegitu dekatnya, dan waktu jugalah yang menjadikan
persahabatan mereka sebegitu renggangnya.
***
Rabu malam menjadi malam kesekian kali antara
Rajif dan Micky tak saling sapa. Micky telah memulai hal positif tersebut, tapi
Rajif benar-benar belum bisa menerima apa yang ia alami saat ini. Tak ada
langkah lebih lanjut yang diambil oleh Ricky dan Shodiq, kecuali mereka
berpencar untuk menjelaskan hasil pertemuan tadi sore. Ricky menemui Rajif, dan
Shodiq menemui Micky. Akhirnya Shodiq sampai didepan pintu kamar Micky yang
rada merenggang. Ketika hendak masuk, Shodiq melirik Micky yang tengah
bersimbah air mata mengotak-atik keyboard laptop berwarna blue-soft nya. Tanpa
ada suara dari gerakannya, Shodiq mengedap-ngedap melaju dari belakang Micky.
Mulutnya sibuk mengomat-ngamit membaca setiap lirik yang ditulis Micky, awalnya
hanya seperti candaan ekspresi wajah Shodiq, tapi akhirnya ada kekhawatiran
yang mulai tumbuh ketika Shodiq sampai dikalimat terakhir lirik tersebut.
“Mick” ucap Shodiq tenang memegang pundak Micky
mengisyaratkan berusaha menghibur dan memberi Micky semangat agar dia bisa
memalui ini semua.
“Lu sejak kapan disini Diq?” Micky terkejut,
karena privasi-nya kembali dicolong sahabatnya.
“Maaf gw nyolong privasi lu lagi Mick. Gw tahu
sekarang emang suasana lagi bad banget, tapi lu juga harus punya waktu donk
buat gw!!!” hibur Shodiq tanpa menghiraukan apakah perkataannya salah ataukah
benar.
“Gimana hasil pertemuan tadi?” tanya Micky
mengalihkan pembicaraan. Air matanya masih mengalir, tapi disana ada sedikit
senyum untuk Shodiq yang juga mulai merasa Micky bisa melupakan hal-hal kemaren
yang membuatnya down sampai hari ini. Dan semua terjelaskan dengan rinci tanpa
cacat sedikitpun, tanpa tambahan juga pengurangan kalimat. Juga pada Ricky dan
Rajif, semua tersusun rapi seperti yang direncanakan Ricky dan Shodiq tadi.
Megingat perkataan pak Bramantyo tadi bahwa mereka harus bisa meyakinkan Ghea
untuk bekerja dengan mereka, disanalah jalan untuk kembali bersma terbuka
lebar. Disanalah jalan untuk berdamai,
jalan untuk menuju persahabatan yang seperti dulu.
“Ok, kita punya satu misi. Yaitu
menyakinkan Ghea untuk bisa bergabung dengan kita” Ricky mengambil alih
pembicaraan yang dilatarbelakangi mainroom tersebut. Bisa dilihat bahwa Rajif
dan Micky juga duduk disana tapi berjauhan.
“Ada masukan?” Ricky bertanya
melirik satu persatu sahabatnya yang masih terpaku akan suasana tak bersahabat.
“Untuk lu Jif juga lu Mick, gw harap
lu berdua bisa bekerjasama dengan baik. Karena kita akan dibagi menjadi 2
kelompok. Gw sama Shodiq, trus lu sama Rajif” Ricky akhirnya memberi jalan
terang kepada 2 sahabatnya, Shodiq senyam-senyum sendiri melihat Ricky yang
masih berdiri didepan para sahabatnya. Juga Shodiq menyelipkan jempol kanan
kearah Ricky tanpa sepengetahuan Rajif dan Micky. Wajah pasrah akhirnya Rajif
dan Micky tujukan kepada Ricky. Awalnya mereka berdua sangat terkejut dengan
saran Ricky tersebut, mana bisa 2 orang yang tengah dilanda masalah yang tak
biasa bisa bekerjasama apalagi dengan baik.
”Ada pertanyaan?” tak respon akan
pertanyaan Ricky. Daritadi hanya dia yang sibuk mengoceh didepan untuk
menjelaskan bagaimana cara meyakinkan Ghea yang tak ingin bekerja dilabel
ayahnya.
“Kenapa harus dibagi menjadi 2
kelompok kek gini? Kan bisa kita bekerja sebagai satu tim 4 orang ini” akhirnya
respon berbalik ke Ricky. Rajif butuh penjelasan. Apakah memang ini tujuannya
agar bisa manggaet Ghea untuk bekerja? Atau hanya akal-akalan sahabatnya itu.
“Jif, kita punya sistem Jif. Nanti
kita akan jelaskan kepada kalian” Shodiq membalas dari arah yang berlawanan.
Tepat disamping Micky ia menjawab singkat pertanyaan Rajif. Malam itupun
menjadi malam pertama mereka berkumpul setelah adanya konflik cinta antara
kedua sohib tersebut. Memang tak banyak yang diuraikan malam itu, tapi sedikit
banyaknya ada titik terang itu mulai bersinar ditaman persahabatan mereka.
Berbalik kekamar masing-masing,
Micky sangat tak menduga kedatangan Rajif yang tiba-tiba mengetuk pintu
kamarnya yang mulai gelap oleh waktu. Karena sang kamar tak dikunci, juga
mempunyai sedikit spasi untuk melihat siapa yang datang. Rajif mulanya ragu
untuk mendatangi Micky, tapi selagi ia terus mengingat setiap jepretan
persahabatan mereka dilaptopnya ia menguatkan hatinya untuk melangkahkan
kakinya kedalam. Terdiam kaku, Rajif hanya meraba-raba ranjang Micky yang telah
3 hari ini tidak ia rasakan. Tak ada perubahan, tetap saja empuk dan nyaman
untuk berada disana.
“Mick” sapa Rajif melemah
diremang-remang cahaya kamar Micky yang sengaja ia pasang agar terkesan
misterius. Ada 2 tipe cahaya kamar yang Micky letakkan dikamarnya, yaitu cahaya
remang dan terang. Ketika ia memasang cahaya terang alias white light, berarti
bisa dilihat ia jauh dari perasaan sedih, sebaliknya ketika cahaya remang itu
menjadi backlightnya.
“Ya” jawaban singkat itu memulai
tatapan tajam Micky kepada Rajif yang tak bisa Rajif balas sedemikian bagusnya,
karena Micky mempunyai tatapan yang sangat tajam untuk bisa dilumpuhkan.
”Apakah ketika sahabat kita
bahagia kita juga harus bahagia walau kebahagiaannya adalah sakit untuk kita?”
pertanyaan yang akan menjelaskan semuanya untuk persahabatan ini. Pertanyaan
yang tak akan pernah terjawab dengan sempurna, jawaban yang hanya akan kembali
membuat persahabatan itu semakin terpuruk, semakin dan semakin. Inilah
pertanyaan yang tak akan dijawab oleh Micky, ia enggan menjawab pertanyaan yang
pada dasarnya menyindirnya saat itu. Micky hanya diam dan tetap merebah
memalingkan wajah kelangit-langit kamar yang dilapisi oleh beberapa goresan
tangan 4 sahabat tentang arti sahabat bagi mereka per individu.
“Dan bagaimana perasaan
seseorang ketika impiannya yang akan terwujud tetapi dengan mudahnya jatuh
hanya karena hal yang tak pantas untuk dipermasalahkan?” Micky berbalik
bertanya dengan nada balau, ia masih tetap menatap lurus tanpa mengedip. Rajif
yang duduk diranjang juga hanya bisa terdiam dengan pertanyaan konyol seperti
itu. Mereka berbeda, tapi mereka selalu punya pendapat yang sama tentang 2
pertanyaan tersebut. Hanya saja belum mereka uraikan satu sama lain.
“Mick, impian kita dari awal
tak akan pernah pecah. Karena itu impian kita bersama, tak akan pernah berubah
walaupun emang sekarang kayak gini keadaannya” Rajif menguraikan tentang impian
mereka yang tak akan diubah oleh masalah apapun yang tengah mereka hadapi.
Rajif ikut larut merebah tepat disamping Micky menyaksikan kalimat-kalimat
dilangit-langit kamar Micky.
“Andai aja gw gak pernah
kenal sama Ghea, mungkin gak akan pernah ada masalah seperti ini Mick” lanjut
Rajif mulai menikmati suasana yang mulai cair diantaranya dengan Micky yang
walaupun masih belum sepenuhnya.
“Rajif, penyesalan itu emang
datang diakhir waktu. Tak usah kau sesali apa yang telah terjadi, cukup kau
ambil hikmahnya untuk persahabatan kita juga untuk hidup kau” akhirnya Micky
menjawab dengan dewasanya, kalimat “kau” menandakan bahwa ia tengah berada
dalam sikap dewasanya. Itulah yang tengah ia rasa, ia tak ingin persahabatan ia
kembali seperti dulu.
“Jadi?” tanya Rajif singkat
menatap berharap kearah Micky.
“Jadi apa?” berbalik
pertanyaan Micky keluar seraya ia memalingkan wajahnya membalas tatapan Rajif.
“Sekarang maafin gw donk?”
Rajif berharap agar ia dimaafkan oleh Micky. Untuk memulai lembaran baru lagi.
“Tapi ada syaratnya?” Micky
megeluarkan satu ultimatum agar dipatuhi oleh Rajif yang nantinya akan ia
uraikan juga kepada 2 sahabatnya yang lain.
“Apa?” tanya Rajif singkat
memasang wajah penasaran.
“KITA SEMUA GAK BOLEH PACARAN
SEBELUM KITA MERAIH APA YANG KITA IMPIKAN” sedikit gila mungkin ultimatum yang
dikeluarkan Micky. Sebab ia yang tengah jatuh hati kepada Ghea, ia juga yang
memasang rambu-rambu melarang untuk berpaacaran.
“Lu yakin? Trus gimana
perasaan lu yang sekarang?” pertanyaan Rajif seolah memberi pencerahan untuk
Micky.
“Gw gak ingin pacaran Jif,
walaupun perasaan gw berkata terbalik. Gw ingin fokus sama masa depan gw,
terserah perasaan gw kayak gimana” dengan PD-nya Micky mengungkapkan hal
tersebut. Rencananya, setelah lulus dari SMA 06 JAKARTA ini, ia ingin langsung
take off ke Jerman untuk melanjutkan study-nya. Dan mungkin setelah ini tak
akan ada lagi dunia seperti sekarang ini.
Terlalu dini untuk
menceritakan cita-cita Micky kepada para sahabatnya, walau suatu saat mereka
pasti mengetahui itu.
“Ok, diantara kita gak boleh
pacaran sebelum kita semua sukses dengan cita-cita kita masing-masing” Rajif
bagkit dari tidurnya. Dengan lantang kalimat tersebut keluar dari mulutnya, tak
menghiraukan jika suaranya keluar. Karena pintu kamar Micky tak ditutup rapat,
maka suara Rajif keluar dengan bangganya. Disanalah Eicky dan Rajif mendengar
adanya suara teriakan dari kamar Micky, bergegas mereka melaju kekamar Micky
untuk memastikan apa yang tengah terjadi dikamar Micky. Melirik kejadian
tersebut dari luar, membuat Ricky dan Shodiq merasa lega karena dua sahabatnya
sudah kembali akur dan tertawa keras bersama lagi. Tak ada spasi untuk mereka
masuk kedalam, karena sepertiya 2 sahabat itu tengah bahagia dan tak ingin
berbagi.
***
“Sepertinya
pagi ini cerah banget ya? Gak ada mendung, bahkan mungkin hanya akan ada hujan
tawa terus neh!!” ucap Ricky mengode ke Shodiq dengan senyum, menyindir
kebahagiaan 2 sahabatnya yang lain yang telah berbaikan. Micky dan Rajif yang
dengan lahap mengunyah sarapannya, tiba-tiba tersedak berbarengan. Tanpa
aba-aba mereka juga dengan kompaknya mengambil susu digelas masing-masing dan
menuangkannya kemulut masing-masing.
“Hmm, belum apa-apa, udah
kompak kek gitu” sindiran candapun diperjelas Shodiq. Hanya tatapan kecil yang
mereka lemparkan satu sama lain. Setelah itu, Shodiq tak lupa memberi tawanya
yang selalu membuat 3 sahabatnya tak ingin kalah tertawa menyainginya.
“Kita jalan kaki ke sekolah
yuk!!! Udah lama juga gak jalan kaki kan? Lagian sekolah kita kan masih
terbilang dekat sama rumah kita ini” Ricky mengalihkan pembicaraan agar tak ada
lagi kecanggungan antara dua sahabatnya itu. Semua menyetujui ajakan Ricky
tanpa terkecuali. Sebelum itu, nada tanda pesan Micky berbunyi dengan
lantangnya. Micky membaca dengan rinci setiap kalimat didalamnya yang berbunyi
“2 MINGGU LAGI MAMA AKAN JEMPUT KAMU, DAN KITA LANGSUNG TERBANG KE JERMAN”
Shock besar, tangan Micky melemah. Hampir saja ia menjatuhkan ponselnya
kelantai.
“Kenapa Mick?” akhirnya Rajif
memberi pertanyaan pertama pagi ini. Ia memperhatikan wajah Micky yang mulai
lesu. Micky awalnya memang semangat ketika mendengar nama Jerman, bahkan ingin
sekali mengunjungi negara tersebut. Tapi tidak seperti ini harusnya, kenapa 2
minggu lagi? Kenapa tidak selesai Ujian Nasional aja?
Micky berusaha untuk
merahasiakan hal penting tersebut kepada para sahabatnya. Tapi bagaimanapun
Micky mencoba untuk merahasiakan, pasti sahabat-sahabatnya akan mengetahui hal
tersebut bagaimanapun caranya itu tersampaikan. Dalam perjalanan ke sekolah,
Micky lebih banyak diam. Tapi tetap mengikuti arus para sahabatnya. Ia tak ada
tempat berbagi saat itu, tak ada satupun. Para sahabatnya tak mengetahui sikap
Micky mulai rada berubah, mereka hanya mengetahui bahwa Micky ada bersama
mereka. Tak lama memang perjalanan dari rumah ke sekolah. Hanya memakan waktu
18 menit lamanya, gerbang ilmu di SMA 06 JAKARTA telah terlihat dengan
gagahnya. Mereka susah dikatakan sebagai siswa yang selalu datang telat, karena
mereka adalah orang-orang yang selalu datang on-time, bahkan mereka sering juga
datang satu jam sebelum jam pelajaran dimulai. Melirik kearah yang berlawanan
dengannya, Micky belum melihat jejak datangnya Ghea pagi itu. Hal yang tak
biasa ketika Micky telah sampai Ghea pun juga telah berdiri didepan gerbang
sekolah.
“Lu ngelihat apaan sih Mick?”
tanya Shodiq melihat Micky yang sibuk memalingkan wajah kesana-kemari. Micky
tak menggubris pertanyaan Shodiq, tapi malah berpsah dengan para sahabatnya dan
berusaha mencari Ghea. Tapi apa yang didapat? Hanya angin pagi yang ia dapat,
hampa.
Ketika tlah sampai dikelas,
tak ada tanda-tanda bahwa Micky telah datang. Mereka berinisiatif untuk Micky,
beruntung pak Yega masih berada di Bangkok selama beberapa hari ini sehingga
sampai jam 10:00 WIB mereka bisa membuang waktu untuk mencari Micky disegala
sudut. Semua usaha memang tak ada yang sia-sia, pukul 08:50 WIB merekapun
akhirnya bertemu Micky yang tengah berusaha meyakinkan Satpam sekolah agar ia
diberi izin untuk masuk.
“Pak, Cuma untuk kali ini
saja pak. Saja kan juga gak sengaja telat pak, . . . .” mereka melihat Micky
yang tengah bersitegang dengan Satpam digerbang sekolah. Segera mereka berlari
kerah Micky untuk membantu sang sahabat untuk bisa masuk.
“Dek, maaf dek. Kamu gak
lihat jam tangan kamu? Kamu sudah 1 jam telat. Apa bisa ditolerir lagi?” jelas
pak Satpam yang mulai jenuh melihat setiap siswa yang telat meringis-ringis
minta diberi izin masuk. Dengan terpaksa Micky berbali kearah pulang tanpa
sepatah katapun keluar darinya untuk 3 sahabatnya.
“Micky” kata yang percuma
yang diucapkan Shodiq, karean tak ada jawaban dar Micky. Ia hanya menundukan
kepala dan menatap kerikil-kerikil batu yang tersusun jadi jalanan aspal.
Kejadian burukpun hampir
mencelakai Micky disaat ia hendak menyebrangi jalan didepan rumahnya. Bukan
salahnya, karena ia berjalan dizerbra cross yang kebetulan tersedia didepan
rumahnya. Perasaan was-was terlihat jelas dari sang pengendara mobil jazz merah
tersebut.
“Woi, kalo bawa mobil tu
hati-hati dong” omelan Micky menuntun sang pengendara keluar dari mobilnya.
Dengan wajah polos, ternyata ia adalah seorang perempuan yang juga menggunakan
seragam putih abu-abu.
“Kak, maaf kak. Aku gak
sengaja” pinta sang cewek meraba-raba setiap sudut seragam Micky. Micky merasa
geli dengan kejadian tersebut, tapi sang cewek masih sibuk mencari sudut badan
Micky yang apakah ada luka atau memar atau apakah itu.
“Stop-stop-stop. Jangan
pegang-pegang” Micky berusaha menjauhkan badannya dari sang cewek.
“Sekali lagi maaf ya kak”
sang cewek kembali memohon agar bisa dimaafkan oleh Micky.
“Punya mata?”
“Punya kak”
“Untuk apa mata lu?”
“Untuk ngelihat kak”
“Tapi kenapa tadi lu gak
ngelihat gw?”
“Karena tadi tu temen aku
nelpon kak”
“Oh!! Kalo
lagi nyetir fokus ya sama penglihatan kedepan. Jangan lakuin hal-hal aneh. Kalo
aja tadi lu gak lihat gw, gimana jadinya raga gw ini?”
“Kak, saya
kan sudah minta maaf. Apakah perlu saya digituin? Kalo mau maafin terimakasih.
Kalo gak mau yaudah”
“Lu anak
sekolah mana sih sebenernya? Nyolot lu minta ampun”
“SMA 06
JAKARTA”
Sang cewek mulai emosi dengan
lagat Micky yang tak bersahabat, percuma ia minta maaf karena Micky hanya
memberi ia kata-kata yang membuatnya down dan emosi untuk melawan perkataannya.
Dan hal tak terduga, sang cewek ternyata berasal dari SMA yang sama dengan
Micky, tapi kenapa selama ini Micky tak pernah melihatnya?
Akhirnya sang cewek yang
beridentitas “Raisa” tersebut memilih untuk pergi berbalik kesekolah dan
meninggalkan Micky yang penuh dengan ocehan dan masih belum dikeluarkan. Dari
awal berbalik, wajah Raisa masih dalam keadaan bad yang tak bisa dijelaskan.
Satu lagi fakta yang tak diketahui orang banyak, bahwa Raisa adalah sahabat
Ghea. Hanya saja sebelumnya Raisa menetap di Jerman beberapa bulan karena
memang orang tuanya ada perkerjaan disana dan sekarang baru bisa balik kesekolah,
dan itupun jika sang ayah sudah menetap di Jakarta. Jika belum, terpaksa selama
sekali dua bulan Raisa musti bolak-balik Indonesia-Jerman guna melaporkan
setiap hal nya kepada san ibu. Untunglah Raisa sekarang dipermudah dengan
teknologi, jika memang sang orang tua akan balik ke Jerman, ia hanya perlu
mengaktifkan acc Skype-nya dan bisa berkomunikasi setiap saat dengan sang Ibu.
“Ghe, gila ya!! Hari ini gw
apes banget, masa’ tadi gw gak sengaja hampir nabrak cowok, trus tuh cowok
nyolotnya kayak ibu-ibu” Raisa menjelaskan setiap detail kejadian buruk yang ia
alami pagi ini, Ghea hanya senyam-senyum melihat sang sahabat yang ngos-ngosan
menceritakan semua.
“Salah lu juga, udah tu cowok
kayak gitu, masih diladenin” hibur Ghea yang belum mengetahui siapa cowok yang
diceritakan Raisa kepadanya. Tengah asyik berbincang, Televisi yang tadi
dinyalakan ibu kantin tiba-tiba menyajikan berita tentang Rajif cs yang membicarakan
tentang sedikit bocoran lagu terbaru mereka yang ternyata akan keluar dari
image cover mereka.
“Nah, itu tuh cowok yang
bikin gw apes pagi ini” Raisa menunjuk kearah foto Micky yang terpampang dalam
berita.
“Jadi dia artis? Gak pantes
banget” ucap Raisa nyengir iblis.
“Hushhh, mereka itu hebat tau
cha. Mereka bisa menggaet pemilik label besar untuk mempromosikan mereka” ucap
Ghea sombong mempromosikan label musik sang ayah yang sebenarya sekarang tengah
ia fikirkan akankah ia bergabung dengan sang ayah atau membiarkan 4 cowok itu
mencari manager baru.
“Temen-temennya okelah,
mereka bisa jual tampang kalo seandainya mereka gak laku. Tapi, cowok nyebelin
itu?” Raisa masih belum puas dengan segala caciannya terhadap Micky. Ia masih
menyebut Micky dengan label “COWOK NYEBELIN” yang entah sampai kapan akan ia
letakkan.
“Awas lo ntar malah kesensem
kalo liat pribadinya Micky” Ghea mencoba merayu Raisa yang masih memasang wajah
jutek, asem, dan kesal itu.
“Tapi, tadi lu ketemu dia
dimana?” wajah Ghea tiba-tiba menjadi penasaran. Ia memasang wajah serius untuk
mengetahui dimanakah Raisa bertemu dengan Micky pagi ini sampai-sampai Micky
membuat Raisa menjadi kesal setengah gila seperti ini.
“Gak jauh dari sini lah, tapi
emang seh tu cowok ganteng seh. Trus kayaknya juga gak brandalan gitu. Bearti
mereka berempat udah jadi artis ya? Gimana reaksi anak-anak disini? Pasti gw
ketinggalan banyak cerita ya disini selama gw di Jerman? Udah berapa cowok yang
berhasil ngegaet lu? Masih pacaran ndak lu sama tu cowok?” tiba-tiba kepo Raisa
kambuh, Ghea tak bisa berkutik ia hanya bisa mendengar, juga sekali-sekali ia
mengangguk tak jelas dengan pertanyaan sang sahabat.
“BTW neh, oleh-oleh dari
Jerman mana neh?” Ghea mengalihkan semua pertanyaan Raisa. Memang, seharusnya
itulah hal pertama yang harus Ghea tanya kepada sahabatnya yang baru saja balik
dari Jerman. Yang padahal disana Raisa bukan untuk menghambur-hamburkan
uangnya, melainkan untuk mengikuti orang tua untuk mencari seberkas penghidupan
untuk keluarganya.
“Ada seh, tapi nanti deh
sepulang sekolah gw bawa lu kerumah. Lu tinggal pilih mana yang lu suka. Ok” segitu
baiknya Raisa kepada setiap orang yang menganggapnya penting untuk
kehidupannya, sehingga mudah untuknya mengajak setiap orang yang ingin melihat
seisi rumahnya yang walaupun tujuan utamanya adalah untuk menuntut oleh-oleh.
Tapi itu adalah salah satu cara Raisa menarik setiap sahabatnya agar betah
berada dirumahnya.
***
November 10, 2013 19:45
2 minggu lagi, itu tak lama. Gw
harus meninggalkan setiap kehidupan gw disini. Gw gak yakin kalo seandainya gw
menceritakan kesahabat gw, mereka akan ikhlas ngelepas gw ke Jerman. Gw tau,
emang awalnya Jerman adalah negara destinasi utama gw, tapi gw gak pengen pergi
dengan cara seperti ini. Gw pengen pergi disaat temen-temen gw bahagia.
Sekarang? Gw belum melihat para sahabat gw merasakan itu. Bahkan sekarang gw
melihat para sahabat gw sibuk tak menetu mengurus jadwal nyanyi yang selalu
beratakkan dengan jadwal sekolah.
Tuhan, seandainya 2 minggu lagi
tersebut aku jadi meratap ke Jerman, izinkan sebelum aku beranjak memberikan
kebahagiaan kepada para sahabatnya. Bagaimanapun itu. Bantu setiap langkahku
agar setiap jalan yang kuambil bisa membahagiakan sahabat-sahabatku. Beri aku
satu jalan untuk mengadakan suatu perpisahan dimana para sahabatku akan
mengenangku seumur hidupnya. Juga, biarkan aku berada disamping para sahabatku
untuk sama-sama berjuang menjadikan nama kami disanjung setiap nafas yang kau
beri didunia ini. Jangan biarkan kami terpecah lagi, aku berharap agar ini
adalah perjuangan pertamaku bersama para sahabatku, dan izinkan kami bertemu
kagi nanti disaat kami telah berada dititik sukses kami masing-masing.
Aku masih ingin selalu berkomunikasi
dengan mereka Tuhan jika aku telah berada di Jerman nanti, jadi jangan halangi
komunikasi kami Tuhan jika kami punya segudang cerita yang bisa kami ceritakan
satu sama lain.
Micky kembali merana setelah
surat pertama yang ia tulis selesai. Ia hanya berani menyimpannya ditumpukan
buku mapel yang tersusun rapi dimeja belajarnya. Ia tak sanggup memperlihatkan
kepada para sahabatnya isi surat tersebut. Hanya sebuah senyuman kecil yang ia
beri ketika 3 sahabatnya bertanya apakah gerangan yang telah ia tulis barusan.
Tak lama, ia mengumpulkan
para sahabatnya diruang tengah guna membicarakan langkah mereka kedepannya,
langkah untuk menuju kesuksesan yang lebih.
“Guys, kita gak bisa diam
terus. Kita musti ambil langkah, agar kita gak monoton jadi artis. Jujur, gw
gak pengen jadi penyanyi satu lagu trus ngilang” Micky menjelaskan semua
harapan terbesarnya agar ia dan teman-temannya bisa lebih berkarya lagi.
“Sebelum itu kita harus bikin
nama untuk itu agar kita juga tidak susah nantinya. Nah, disana kita bakal
kasih bocoran tentang konsep baru kita” Rajif melanjutkan perkataan yang tak
sempat keluar dari mulut Micky.
“G’Action” singkat, spontan
Shodiq mengeluarkan sebuah nama yang tlah lama ia ingin keluarkan agar bisa
digunakan untuk menjadi nama group mereka nantinya. Awalnya lucu mendengar nama
tersebut, tapi ya hanya itu nama yang unique, nama yang bisa digunakan untuk
nama group mereka.
“Rick, ada tambahan?”
“Untuk saat ini belum, tapi
gw dukung namanya, lucu” Ricky memberi respon positif atas nama yang diusulkan
Shodiq tadi. Berarti untuk nama group mereka telah menemukan, tinggal
memikirkan konsep baru, jika untuk lirik lagu, Micky bisa mengkondisikan itu,
karena Micky adalah salah satu pencipta lagu berbakat yang pernah ada di
jagadraya.
“Nah, gw ada tambahan. Kita
kan memilih nama G’Action, jadi logo kita ambil dari inisial G itu sendiri,
tapi dengan format bold agar terlihat kuat dan soal warna kita ambil old blue
ato skyblue gimana?” barulah inisiatif yang dimaksud, setiap member memberikan
potongan suara mereka agar group ini benar-benar lahir dari hasil jerih payah
bersama.
“Kenapa harus blue?” tanya
Rajif singkat, “Kan masih banyak warna lain Micky” tambahnya.
“Ya, karena gw suka warna
biru. Tapi itu terserah kalian sih, itu kan Cuma pendapat gw Rajif” Micky
menjawab pertanyaan Rajif dengan tepat.
“Hey, itu bisa kita fikirkan
nanti teman. Yang jelas kita jaga kekompakan dahulu” sela Ricky ditengah
perbincangan antara Rajif dan Micky.
Micky kembali kekamar, karena
ia rasa pembicaraan malam ini cukup menghibur dirinya dari kegundah-gulanaan.
Ia berfikir jika ia pergi 2 minggu lagi berarti 25 November ia akan take off ke
Jerman, dan bagaimana pesta ulang tahun Rajif yang jatuh tak lama setelah itu?
Micky mencoba mengontact sang mama. Tersambung, tapi Micky harus menunggu lama
untuk bisa berbicara dengan sang mama.
“Ma”
“Iya sayang”
“Boleh aku minta perpanjangan
waktu?”
“Maksudnya?”
“Jika aku pergi ke Jerman
habis tahun baru aja gimana Ma?”
“Tapi kan kamu janji 2 minggu
lagi, sayang. Kamu berat meninggalkan teman-teman kamu?”
“Bukan itu Ma, tapi tanggal
10 mendatang ulang tahunnya Rajif, aku ingin memberi dia kebahagian. Juga, aku
ingin malam tahun baru bersama mereka. Setelah itu, terserah Mama mau bawa aku
kemana. Yang penting aku telah bersama mereka disaat yang hanya akan datang
satu kali setahun ini”
“Baik, tapi gunakan waktu
kamu sebaik-baik mungkin. Mama gak ingin pas nanti mau pergi kamu berubah
fikiran lagi”
“Makasih ya Ma”
“Yasudah, kamu tidur sana”
Telepon-pun terputus setelah
terjadinya transaksi penanggulangan masa aktif dikota ini. Aku sangat
bersyukur, karena hari-hariku bersama mereka ditambah 2 minggu lagi. Tiba-tiba
Micky terfikir cewek yang hampir menabraknya tadi siang. Ada penyesalan. Kenapa
ia harus megeluarkan kata-kata kasar kepada sang cewek? Padahal sang cewek juga
tak sengaja. Rencananya Micky akan meminta maaf kepada sang cewek tersebut,
secepatnya saat ia bertemu kembali dengan cewek itu.
Dikamar Raisa, Ghea telah terlelap pulas. Sedangkan Raisa
samahalnya dengan Micky. Terfikir akan “COWOK NYEBELIN” itu. Mendengar
perkataan Ghea tadi bahwa Micky mempunyai pribadi yag menawan, langsung saja ia
merasa bahwa itu benar adanya. Tak ada fikiran lain yang terfikir, hanya
bagaimana mendapatkan informasi lengkap tentang “COWOK NYEBELIN” itu.
“Woi, lagi mikiran siapa,
hayoo?” tiba-tiba Ghea menepuk punggung Raisa dari belakang. Jelas Raisa
terkejut, karena yang ia ketahui bahwa Ghea telah pulas dan susah untuk bangun.
Tapi sekarang?
“Apaan sih lu Ghe? Kaget gw
tau” Raisa mencoba berlaku seperti biasanya.
“Habisnya, siapa suruh lu
ngelamun kek gitu. Gw tau, pati lu mikirin Micky ya?” tebakan yang sangat
tepat, walau Raisa mencoba berbohong.
“Hmm, kepo ya? Ada deh” Raisa
melemparkan candaan kepada Ghea, yang langsung dibalas dengan candaan oleh
Ghea. Selang beberapa saat tertawa terbahak, Raisa mengajukan beberapa
pertanyaan yang memang aneh untuk seseorang yang belum mengenal seseorang.
“Ghe, kalo seandainya kita
Cuma bertemu orang itu sekali. Tapi kita langsung suka karenanya, wajar gak?” wajah
serius Riasa menatap tajam mata Ghea yang siap menangkap beberapa jawaban dari
Ghea.
“Gini cha, itu wajar aja.
Karena kebanyakan suka emang dari first sight. Habis itu baru deh yang
gitu-gitu” Ghea merayu Raisa yang mulai terbaring disampingnya. Banyak hal yang
diceritakan Ghea tentang Micky kepada Raisa dikarenakan Raisa tiba-tiba saja
penasaran tentang siapa Micky.
***
Tok . . . Tok . . . Tok . . .
Rajif kembali mengetuk pintu
kamar Micky yang telah tertutup rapat. Ini bukan jam 10 ataupun jam 11 lagi,
jarum jam telah menujukkan angka 2 dinihari. Micky berjalan lemah menuju pintu
kamarnya, berharap yang mengetuk pintu kamarnya bukanlah sesuatu yang tak
diinginkan.
“Mick, gw numpang ea?” Rajif
juga masih malas untuk membuka mulutnya untuk berbicara. Hanya itu kalimat yang
diucapkannya. Tanpa meminta persetujuan dari Micky, Rajif langsung menuju
tumpukkan kapas yang telah meransangnya menuju alam mimpi. Tak lama keduanya
berbalapan menuju mimpi masing-masing.
***
Beruntung hari ini libur,
jadi jam 11 bukanlah masalah jika Micky dan Rajif bangun. Namun mereka telah
ditunggu 2 sahabatnya untuk menghadiri rapat dengan direksi dikantor label ayah
Ghea. Katanya, Bp. Bramatyo akan memperkenalkan seseorang kepada mereka yang
akan menjadi partner mereka untuk kedepannya, atau malah akan menjadi bagian
untuk G’Action seterusnya. Juga, disana Ghea akan menyampaikan beberapa hal
yang akan membuat mereka menjadi lebih baik kedepannya.
Sesampainya, Micky melirik
Raisa yang tepat berada disamping Ghea yang telah menunggu mereka sejak tadi.
Wajah Micky berubah kesal, karena sang cewek sempat membuat mood nya mati
dipagi hari.
“Ghe, lu bawa makhluk
darimana?” tanya Micky menyindir kearah Raisa.
“Ha? Maaf ea COWOK NYEBELIN.
Gw kesini juga karena diminta sama Ghea kali. Kalo gak, ngapain juga disini?” Raisa
melawan sebisa ia melawan cowok yang memang telah membuat mood nya berubah
menjadi buruk itu.
“Tunggu!!! Tujuan kita kesini
apa?” bentak Ghea.
“Ini bukan jalanan tempat
kalian mengalami masa silam, jadi stop buat fight disini, ok?” tiba-tiba Ghea
marah dengan dua orang yang membuat otaknya menggelegar tak menentu.
“Gw fikir ini awal yang baik
untuk sebuah hubungan” sindir Rajif secara halus.
“Maksud lu apa?” serempak
mereka berdua mengajukan pertanyaan yang telah jelas kearah mana pembicaraan
itu. Shodiq dan Ricky sedikit geli dengan tingkah temannya itu. Great Job,
Mick.
Memang, telah sampai didalam
ruangan. Seseorang yang mempunyai tinggi tak lebih dari Ricky duduk disamping
pak Bramantyo. Wajahnya terlihat masih anak sekolahan. Wajahnya juga tak jelek-jelek,
juga tak terlalu awesome jika dibandingkan dengan 4 sahabat itu. Semua duduk
ditempat, tanpa terkecuali. Panjang lebar berbicara, akhirnya pak Bramantyo
menyimpulkan bahwa G’Action akan bertambah satu anggota. Yaitunya manusia yang
duduk disamping pak Bramantyo tadi. Dan inilah saatnya dia memperkenalkan
dirinya.
“Ok, gw Dan Nugroho. Gw sama
seperti kalian, masih SMA. Dulu gw ngimpi punya grup vocal, dan sekarang pak
Bram ngasih gw kesempatan itu. Gw harap kalian akan jadi pembimbing juga teman yang
baik buat gw” ya, namanya Dan. Dan akan menjadi anggota terakhir jika kami
semua menyetujui rencana pak Bram ini.
“Juga, gw bakal pindah
sekolah tepat dimana kalian sekolah sekarang”
lanjut Dan. Ada ketidaksukaan Micky dan Rajif kepada cara pak Bram yang
seenaknya merekrut anggota baru untuk masuk digroup yang telah sempurna itu.
Apakah nanti Dan bisa meyesuaikan diri dengan yang lainnya? Apakah kehadiran
Dan membuat G’Action semakin baik atau semakin memburuk?
Ketidaksukaan
Dengan
kehadiran yang tak diundang, wajar Micky dan Rajif susah untuk menerima
kehadiran Dan. Tapi itu hanya berlaku untuk Micky dan Rajif, tidak untuk Shodiq
dan Ricky. Mereka malah menerima Dan dengan sangat baik. Bukan hanya itu, Dan
juga akan tinggal ditempat tinggal mereka sekarang. Beruntung masih ada
beberapa kamar yang kosong, jadi tak perlu ada satu kamar dua orang. Ghea juga
merasa aneh dengan sang ayah, ada apakah antara ayahnya dengan Dan?
Semua
memutuskan untuk balik kerumah masing-masing, termasuk Ghea dan Raisa. Raisa
sempat memegang handphone Ghea, tujuannya hanya satu: memindahkan CP Micky dan
teman-temannya ke handphone-nya. Perdebatan kecil antara Raisa dan Micky akan
terus berlanjut, akan. Karena sekarang Raisa telah memiliki CP-nya Micky,
berarti ia memiliki banyak kesempatan untuk mengerjain “COWOK NYEBELIN” itu.
***
Dan bergabung dengan Micky,
Rajif, Ricky, serta Shodiq diruang dimana mereka sering menceritakan segala
hal.
“Weis Dan. Sini bro, gabung
aja” ajak Shodiq ramah, yang tak tahu betapa anehnya kedua sahabatnya yang tak
tahu harus berkata apa.
“Lagi pada apa
emangnya?” tanya Dan duduk disamping
Ricky dan Shodiq menghadap kepada Micky dan Rajif.
“Kebetulan lu disini,
ceritain donk gimana bisa lu ketemu sama pak Bram?” Shodiq memohon agar Dan
menceritakan kepada semua bagaimana ia bisa bertemu dengan pak Bram.
“Waktu itu gw kan lagi
manggung sama teman-teman sekolah gw, nah kebetulan pak Bram meghadiri acara
itu. Ia ngelihat gw, dia bicara sama gw, mungkin 2 jam pembicaraan gw sama dia.
Langsung deh dia ngajak gw kesini. Sebenernya sih katanya gw dijadiin
SoloSinger, tapi dia punya rencana lain setelah gw nyampe disini” panjang lebar
Dan menceritakan kronologi bagaimana ia bisa direkrut ke grup ini. Cerit
panjang lebar tersebut membuat Micky dan Rajif merasa ngantuk.
“Boy, gw kekamar duluan ea!”
tanpa izin dari 3 sahabatnya, Micky langsung menuju kamarnya yang terletak
diujung ruangan. Rajif menyusul tanpa mengucapkan satu patah katapun. Bukan
kekamarnya, tapi ia menyusul Micky kekamar Micky.
“Mereka kenapa Diq?”
pertanyaan singkat tertuju. Memang Dan merasa aneh dengan dua orang itu. Adakah
yang salah dari dirinya sehingga mereka belum bisa menerima?
“Bukan gitu Dan, mereka emang
butuh banyak waktu nerima seseorang kedalam hidup mereka” jawab Ricky dewasa. Mereka
mencoba memaklumi sikap Micky dan Rajif yang belum bisa menerima kehadiran Dan.
“Oh ya Dan, kamar lu ada
didepan kamarnya Micky. Tepat banget diujung lorong sana” Shodiq memberi
instruksi lokasi kamar Dan yang akan menjadi miliknya. Dan melirik arah yang
ditunjuk Shodiq, dan membalas dengan senyum.
Setelah semua berbalik
kekamar, Dan masih setia duduk didepan TV yang telah diam semenjak satu jam
yang lalu. Ia masih mengotak-atik ponselnya. Kebetulan disaat tersebut Rajif
keluar karena tak bisa tidur. Awalnya Rajif ingin nangkring digenteng juga
dikarenakan cuaca tengah berbaik hati. Tapi karna melihat sosok Dan diruang
tengah, Rajif mengurungkan niatnya dan malah mendekati Dan yang sibuk dengan
ponselnya.
“Jif” ucap Dan singkat karena
terkejut tiba-tiba Rajif telah duduk disampingnya. Rajif hanya diam tanpa
menoleh kearah Dan. Ia sempat duduk sebentar disamping Dan. Tak lama, ia mulai
bosan. Dan memilih menjauh dari Dan. Tanpa disadari hal tersebut membuat raut
wajah Dan berubah drastis menjadi sedih.
Ini awal Dan, lu musti maklumi. Suatu saat mereka akan nerima lu,
bahkan malah sangat butuhin lu. Rajif yang tadi beranjak, melaju kearah
kamar Micky. Susah untuk Rajif masuk kekamar Micky, karena kamar Micky telah
tertutup rapat. Tanpa keterangan yang pasti, Rajif mencoba menobrak pintu kamar
Micky. Micky yang telah terlelap, akirnya terbangun. Dengan wajah malas, Micky
membuka pintu kamarnya yang telah ia kunci rapat-rapat. Rajif langsung saja
menuju tempat tidur Micky yang mulai berantakan.
“Jif, ngapain malam-malam
gini lu masih keliaran? Lu gak tidur apa?” Micky memajang wajah kesalnya ke Rajif.
“Gak bisa tidur Mick” jawab
Rajif manja. Dan akhirnya menuju kamarnya, tetapi sebelum ia masuk kekamarya,
ia melihat kamar Micky terbuka. Mencoba untuk mengintip, ternyata Micky tengah
berbincang serius dengan Rajif. Dengan terpaksa berdiri didekat pintu untuk
mendengarkan setiap perkataan yang coba mereka ungkapan.
“Mick, gini. Apa kita akan
terus begini?”
“Maksud lu?”
“Dulu, kita berempat berjanji
bahwa cuma ada 4 orang dalam grup ini. Tapi sekarang kita kedatangan satu
anggota lagi. Nah, lu ngerasanya gimana?”
“Gw gini Jif, sebenarnya gak
ada masalah dengan itu. Tapi cara dianya masuk kekitanya yang gw gak suka. Jadi
kesannya kita itu tempat pelarian gitu. Ok kalo dianya gabung kekita dengan
persetujuan kita berempat, tapi ini? Sama sekali kita gak tau”
“Bener, mana dianya juga mau gabung sama kita” Perasaan
Dan was-was mendengar lontaran dari dua calon sahabatnya itu. Tak bisa
berkata-kata, hanya bisa memurungkan wajah sambil mengucap dalam hati Ya,
ini bukan tempat gw. Secepatnya gw bakal pergi dari kehidupan kalian.
”Dan” sorak Ricky yang telah
berdiri didepan Dan. Sontak suara itu memicu reaksi Micky dan Rajif, dan ketika
melihat Dan tengah menelan wajah kecewanya merekapun merasa tak enak dengan apa
yang mereka ucapkan. Dan tanpa menghiraukan himbauan Ricky, langsung masuk
kekamarnya dan menguncinya rapat-rapat. Ricky heran. Tapi ia tak terlalu
memperdulikan itu, karena memang ia tak tahu pasti apa dan bagaimana ia seperti
itu. Mungkin esok hari ia bisa menanyakan kepada Dan. Wajah sedihnya masih
terlihat jelas. Ia tak bisa mengucapkan satu kalimatpun, ia hanya bisa menelan
air matanya dalam-dalam. Ma,aku gak kuat disini ma. Terlalu banyak mata yang
menganggapku rendah. Aku ingin pulang.
***
Hari berlanjut, Rajif beserta
Micky merasa canggung untuk menatap wajah Dan. Memang terlihat samar, tapi
mereka tahu bahwa sosok semalam adalah Dan yang mencoba menguntit setiap
kalimat mereka.
“Guys, hari ini kita ada
jadwal di SMP N 3 Bekasi. Jam 5. Jadi, sekitar jam 4 kita harus sudah hadir
disana” Ricky menjelaskan pesan dari Pak Bram yang baru saja ia terima.
“Maaf sebelumnya, setelah
beberapa hari disini. Mungkin lebih baik gw balik kekehidupan gw yang dulu” Dan
berkata seolah memberikan teka-teka untuk semua orang yang telah duduk sarapan
pagi itu.
“Maksud lu Dan? Lu mau balik
kesekolah lu yang dulu? Lu mau balik jadi musisi amatiran?” Shodiq menyindir
tak menginginkan Dan mengambil langkah terburuk itu.
“Bukan gitu Diq, ngapain gw
disini sedangkan gw gak diterima? Mending gw jadi musisi amatiran kan tapi gw
punya sahabat yang sangat sayang sama gw, tapi disini?” kembali Dan teringat
akan apa yang ia dengar tadi malam. Wajah Rajif dan Micky berubah drastis.
“Atau ada hubugannya sama
yang tadi malam ketika lu berdiri tepat didepan kamar Micky? Saat gw panggil lu
tapi lu langsung masuk kekamar” tebakan Rajif dan Micky benar. Dan lah yang
mendengar pembicaraan mereka tadi malam. Dan berusaha untuk tidak membahasnya,
tapi karna Ricky melontarkan pertanyaan terberat. Dengan berat hati juga ia
menjawabnya.
“Micky, Rajif. Gw disini
bukan karena keinginan gw. Awalnya Pak Bram bakal ngorbitin gw jadi penyanyi
solo. Tapi setelah sampai di studio, ia berfikir ngegabungin gw sama kalian. Gw
awalnya juga complain, tapi sekarang? Ia tetap bersikeras dengan pendapatnya.
Gw terpaksa ikut kemauannya, karena ini mimpi gw”
“Ini ada apa seh? Kalian
berantem?” Shodiq tak mengerti akan apa yang dibicarakan Dan. Ia mencoba
mencari jawaban.
“Gw tau tadi malam ada hal
yang tak seharusnya kamu bicarakan. Tapi cepat atau lambat lu juga bakal tau
kalo gw sama Micky emang gak suka cara kek gini” Rajifpun mencoba untuk
menjelaskan hal buruk tersebut.
“Tapi gw musti gimana agar lu
berdua bisa nerima gw disini?” Dan menantang Rajif dengan tegasnya.
“Dan, kita cuma butuh waktu.
Kita gak perlu lu buktiin apa-apa. Gw tau lu punya bakat, makanya lu gabung
disini. Kita semua cuma nunggu waktu yang merubah segalanya” Micky mengambil
jalan tengah agar tak ada yang tersakiti dalam rumah ini.
“Jadi untuk jadwal nanti
sore?” Ricky masih menunggu pertanyaan dari Dan untuk pertunjukan nanti sore.
“Ya gw belum bisa manggung
bareng. Karena belum ada kepastian gw udah gabung disini apa belumnya”
Micky tak ada kesempatan untuk
beradu mulut dengan Raisa yang telah menjadi kawan mouth fightnya. Ia merasa
kangen dengan sang lawan. Beruntung ia telah ada CP Raisa yang akan ia hubungi.
“Woy”
“Ish, apa? Kangen?”
“Iya. Hehehe. Lagi apa lu?”
“Gw? Lagi males-malesan. Lu
sendiri?”
“Sama. Keluar yuk?”
“Kemana?”
“Kemana aja, biar liburan gak
ngebosenin kek gini”
“Males ah jalan bareng lu”
“Kenapa?”
“Ya, seharusnya gw jalan bareng
cowok yang cool, perhatian, dewasa gitu. Nah lu? Gak ada satupun yang ada di lu
:-P”
“Ya deh. Kalo lu gak mau L”
“Gw seh sebenernya mau, tapi kita
pergi berapa orang?”
“Just us”
“Ha?”
“Iya, tapi nanti selesai gw
manggung di Bekasi. Lu ikut ya nonton!”
“Iya deh, gw ajak Ghea juga
ya?”
“Ok. J”
Jam 4, dan tepat mereka telah sampai di lokasi
dimana mereka akan manggung tanpa Dan. Micky meresa sedikit bahagia, karena
Raisa benar-benar datang untuk menyaksikannya beraksi diatas panggung.
“Mick,
semangat ea”
“Sep. Thanks
ea JELEC” mendengar Micky mengucap kalimat itu, para sahabatnya merasa geli.
Juga Raisa.
“Emang gw jelek apa?”
“Iya” jawab Micky singkat
“Ciye-ciye, yang udah pake panggilan sayang”
Ghea menyelip diantara percakapan mereka. Muka mereka langsung memerah.
“Apaan seh lu Ghe?” ucap Raisa kesal tapi dalam
hatinya senang.
“Sudah-sudah, bukan saatnya untuk adu pendapat
kan?” ucap Shodiq bercanda yang mengundang tawa para sahabatnya.
Akhirnya waktu untuk G’Action tampil, dengan
baju seragam dan berbeda warna, mereka menghibur para siswa dengan semangatnya.
Ditambah hadirnya Ghea dan Raisa yang berdiri didepan. Dan waktu pertunjukan
berakhir. Niat yang tadinya ingin dipenuhi, muncul kembali dibenak Micky.
Seolah ia senyum kepada Raisa memberi kode kepadanya.
“Hmm, ada yang lagi pake bahas isyarat neh” sela
Rajif yang tengah menikmati minumannya.
“Bukan itu Rajif, gw inget sesuatu aja gitu!”
pernyataan Micky menyajikan sebuah teka-teki kepada sahabatnya.
“Nanti gw pulang rada telat ya? Soalnya gw musti
kesuatu tempat” Micky minta izin kepada para sahabatnya untuk memakluminya.
“Ok, dan gw fikir lu pergi gak sendiri. Lu pasti
perginya sama someone” Ricky menoleh kearah Raisa ketika kata terakir itu
selesai ia kumandangkan.
“Emang. Gw
bakal pergi bareng Raisa” jawab Micky tegas.
“Wish, tu kan bener. Yaudah duluan aja” Ghea pun
seolah memberi lampu hijau untuk hubungan itu. Micky dan Raisa akhirnya
beranjak dari Bekasi menuju tempat yang mungkin akan menjadi tempat
terindahnya. Tapi mereka mulai merasa kaku dengan sikap masing-masing. Sigap,
Micky menancap gas mobilnya menjauh dari para sahabatnya. Kesempatanpun
terfikir, para sahabatnya pun berinisiatif mengikuti mereka. Langsung,
merekapun mulai beraksi. Melihat wajah Micky yang manyun, Raisa mempunyai
panggilan baru untuk sang lawan.
“Eh manyun, kenapa kita kaku kek gini?” pertama
kalinya Raisa memanggil Micky dengan panggilan itu. Dan Raisapun yang membuka
perdebatan sore itu menjadi sengit.
“La, kok manyun? Gw gak manyun keles. Lu aja tuh
yang jelec” Mickypun menyaingi Raisa dalam perdebatan. Suasana yang tadi kaku
sekarang mulai mencair dengan adanya perdebatan itu.
“Serah deh. Gw gak suka suasana kaku-kaku kek
tadi. Eh, emang lu mau bawa gw kemana?”
“Gak kemana-mana. Punya pengen punya waktu
bareng lu aja” kembali suasana menjadi beku.
“Jangan GR juga lu jelec. Gw Cuma butuh temen
nemenin gw kesuatu tempat”
“Dimana?”
“Pantai. Sunset. trus masih banyak”
“Beneran? Gw mau banget. Gw kan udah lama gak
liat sunset”
“Jadi lu udah pernah liat sunset? gw belum sama
sekali”
“Kasian banget lu ya”
“Ye, kasian. Eh, kemaren awal jumpa kita gak
enak banget. Gw minta maaf ya” pembicaraan menjurus keawal mata itu saling
bertatap.
“Oh itu, gw juga. Walaupun sebenernya yang salah
itu lu”
“Kok gw? Lu kali yang jalannya gak liat-liat”
“Siapa seh yang gak liat jalanan? Gw mah fokus
mau nyebrang. Nah lu, malah mainin apa gw gak tau”
“Gw ngambil ponsel yang jatuh gara-gara
getarannya yang dahsyat”
“Tapi kan gak musti gak musti ngorbanin gw”
“Iya-iya deh, maaf”
Dan hal tersebut membuat wajah Raisa menjadi
bete. Berbeda dengan hal itu, sahabat mereka masih setia membututi mereka yang
jarak mobil mereka hanya 10m. Hanya saja Micky dan Raisa tak menyadari akan hal
tersebut.
“Eh, kayaknya mereka udah mau nyampe deh” sigap
Ricky
“Tunggu-tunggu, ini kan?” Shodiq mencoba
mengingat tempat yang didatangi Micky dan Raisa saat itu.
“Emang apaan Diq?” tanya Rajif tak tahu.
“Lo gak ingat Jif, Rick?”
“Gak” jawab mereka serempak tak tahu.
“Gw juga gak tau” jawab Shodiq. Dan tertawa
keraslah medengar jawaban yang kocak.
Ya, pantai. Tempat yang akan dikunjungi Micky
ketika rasa bosan menghantuinya. Juga, tempat yang selalu menjadi saksi dan
mencatat setiap hal indah yang Micky lalui. Wajahnya terlihat berseri, bahkan
sangat berseri ketika Raisa melempar senyum kepadanya. Tiba- tiba ia
menggandeng tangan Raisa menuju suatu lokasi dimana disana tempat yang asyik
untuk menyaksikan sunset. Dan, para sahabatnya masih setia menunggangi mereka
dari belakang.
“Nyun, Lu sering kesini ya?”
“Lumayan. Sendiri, bareng sahabat gw, bareng
orang yang berarti buat gw, bahkan juga bareng cewek nyebelin kayak lu
sekarang”
“La, bersyukur kali gw mau jalan sama lu”
“HAHAHA, gw? Lu kali yang musti bersykur gw ajak
kesini”
“Serah lah”
Raisa beranjak menuju hamparan ombak yang siap
menyapu pasir disore nan mulai gelap itu. Hatinya memang dipenuhi rasa
kebahagiaan saat itu. Dan ketika itu juga, Micky menyusulnya. Sedang asyik
menelusuri pantai, tiba-tiba Micky menyiramnya dengan air asin khas pantai itu.
“Eh, apaan neh. Lu mau ngajak perang?” Raisa
bersiap melawan Micky. Sigap, iapun menyiram Micky. Kesempatan itu digunakan
sahabatnya mengabadikan kekocakan mereka dalam bentuk video dan juga photo.
“Hahaha, kena lu Mick” ucap Shodiq licik.
“Udah yuk. Ngapain seh kita jadi stalker gini.
Mending pulang yuk!” ajak Ghea yang mulai tak betah dengan hal tersebut.
“Tanggung Ghe, mataharinya juga bentar lagi
hilang Ghe” cegah Rajif.
“Alah Rajif, itu mah mau lu aja” sindir Ricky
Sebelum sunset, Micky dan Raisa telah basah
karena ulah masing-masing. Niat yang tadi ingin melanjutkan perjalanan,
terhalang karena mereka tak membawa baju ganti. Terpaksa mereka langsung menuju
rumah masing-masing. Walau begitu, mereka terlihat sangat bahagia dengan moment
hari itu.
Ketika telah berada didepan rumah Raisa, Raisa
hendak langsung membuka pintu mobil Micky. Tapi keduluan dicegat Micky. Dan
terjadilah hal yang mungkin akan dikenang oleh keduanya. Bibir mereka saling
bertemu. Mereka hanya terdiam dengan kejadian itu. Hingga akhirnya mereka
tersadar akan apa yang terjadi.
“Lec, thanks ea buat hari ini. Gw seneng bgt”
tutur Micky kaku.
“Gw juga, walaupun lu orangnya nyebelin. Tapi gw
juga seneng bgt” balas Raisa. Dan Micky berhasil membukakan pintu untuk Raisa.
“Maaf” ucap Micky tersenyum sambil menyentuh
bibirnya. Raisa tahu akan yang dimaksud Micky, tapi ia hanya membalas dengan
satu senyuman.
Ternyata, ketika Micky sampai dirumah, para
sahabatnya belum juga sampai. Tanpa menghiraukan mereka Micky langsung masuk
kekamarnya. Ingat bahwa Dan ada dirumah, ia mencoba melihat Dan dikamarnya.
Pintu kamarnya tidak terkunci, juga belum tertutup rapat. Ia melihat Dan yang
telah terbaring pulas, ia mendekati Dan dan karena Dan hanya memakai celana
pendek boxer, ia memakaikan selimut kepada Dan agar ia tak merasa kedinginan.
Tak lupa pula ia mematikan lampu ketika hendak keluar dari kamar Dan.
***
November 21,
2013
Hari ini gw bahagia banget, karena
gw bisa menghabiskan waktu berdua dengan orang yang gw sayang. Tanpa gw dengar
kicauan sahabat gw yang selalu bikin gw kesal. Dan satu hal yang bakal gw
ingat. Ketidaksengajaan pertemuan bibir tadi. Itu moment terbai sepanjang masa.
Juga, sedih aja liat Dan sendirian.
Gw musti ngerubah sikap gw ke-dia. Karena waktu gw juga berkurang dengan
bergantinya hari. Gw harap gw bisa nerima dia kayak dia diterima Ricky juga
Shodiq.
Berangsur, diary Micky sudah mulai habis akan
tulisan-tulisan hatinya. Terfikir bahwa belum satupun kalimat yang ia tuliskan
tentang belahan jiwanya. Ia senyam-senyum sendiri ketika mengingat setiap kali
ia beradu mulut dengannya. Juga mulai timbul perasaan was-was, ia juga terfikir
bagaimana jika nantinya ketika Raisa juga mempunyai rasa yang sama dengannya
tetapi ia akan meninggalkannya untuk sementara atau selamanya. Tiba-tiba
ponselnya berdering pertanda adanya pesan masuk.
“Ayo, tadi ngapain lu sama Raisa?” ternyata sms
dari Shodiq. Yang mana Shodiq disuruh oleh Ricky dan Rajif.
“Lu Diq, emang gw ngapain tadi ya?” tanya Micky
pura-pura tak mengetahui apa-apa tentang yang dibicarakan Shodiq.
“Hahaha, Micky Micky. Gw tau kali. Kita-kita kan
ngikutin lu”
“Ha? Jadi?”
Tiba-tiba saja para sahabatnya telah berdiri
didepan kamarnya dengan tawa yang tak bisa mereka tahan. Dan Micky, hanya bisa
menahan amarah ketika privasi diacak-acak oleh para sahabatnya.
“Stop! Lu bertiga jangan masuk?” cegah Micky
sebelum para sahabatnya melanjutkan langkah mereka kedalam.
“Lu kenapa Mick, biasa aja kali Mick” ucap Rajif
santai menuju tempat tidur Micky
“Jif, gw bilang stop. Lu semua pada mikir gak,
gw gak suka sama cara lu semua. Lu ngacak-ngacak privasi gw tau ndak” jelas
Micky dengan emosi yang tak bisa diluapkan.
“Ha? Jadi Cuma karena itu?” tanya Shodiq dengan
polosnya.
“Mick, emang salah kalo kita ngikutin lu?” mulai
ada emosi yang muncul diperkataan Ricky.
“Menurut lu bertiga mungkin gak apa-apa. Tapi
menurut gw?” benar, Micky meluapkan segala kekesalannya kepada sahabatnya malam
itu juga setelah ia mengetahui mereka mengikuti perjalanannya bersama Raisa.
“Mick, dewasa kenapa? Kita-kita juga Cuma pengen
tau lu gimana kok. Itu doank!” balas Rajif memberi alasan. Juga memyuruh agar
Micky lebih bersikap dewasa.
“Ini neh, gw kan bisa cerita selesai gw pergi.
Lu semuanya aja yang terlalu ingin tahu privasi gw” emosi Micky masih meluap.
Terungkap
Tingkah Micky memang
telah keterlaluan. Ia memang tak bisa berfikir lagi ketika segala yang ingin ia
wujudkan berubah jadi kekacauan yang membuat fikirannya keruh. Tapi secepatnya
Micky meminta maaf kepada para sahabatnya. Ketika itu, para sahabatnya tengah
sarapan dan telah berganti seragam sekolah. Rajif melihat Micky sinis. Tapi itu
tak lama, karena Rajif tahu sikap Micky yang jika marah hanya bertahan
sebentar. Ya, beginilah cara mereka berbaikan. Tak ada ungkapan resmi layaknya
seseorang kepada seseorang. Mereka hanya melalui seperti air.
“Maafin yang semalam ea?
Gw parno bgt kalo privasi gw di acak-acak kek gitu” pinta Micky ketiga
sahabatnya yang memang tak mempermasalahkan itu lagi.
“Gak apa-apa Mick, kita juga ngerti kok” jawab
Ricky.
“Mick” sapa Dan singkat.
“Ada apa Dan?” tanya Micky pun singkat.
“Terimakasih” Dan hanya mengucapkan kalimat
tersebut dan membuat yang lain penasaran. Juga Micky penasaran dengan apa yang
dibicarakan Dan.
“Gini deh, gw ngomong sama lu juga Rajif
sekarang. Jadi buat Shodiq dan Ricky maaf ea. Kalian duluan kesekolah. Hehehe”
Micky bermaksud membicarakan segala hal yang telah dan akan ia lakukan terhadap
Dan. Rajif, Micky akan memberi kepercayaan kepada Rajif untuk membimbing Dan
kedepannya. Karena waktu Micky tak banyak lagi. Shodiq dan Ricky berangkat
duluan kesekolah. Tinggalah 3 orang itu diruang tamu membicarakan maksud dan
tujuan Micky mengumpulkan mereka berdua.
“Sorry, gw ngumpulin kalian disaat seperti ini.
Tapi gw ingin kelar cepat. Terutama buat Rajif” Micky bermukaddimah sebelum ia
masuk kepokok pembahasan.
“Kok gw Mick?” tanya Rajif singkat.
“Gini Jif. Jujur ea, gw sebenernya pengen grup
kita berjalan lancar seperti ini. Kita berdua egois namanya Jif. Kita belum
melihat kualitas dari Dan, tapi kita udah mandang dia kek gini”
“Mick, kalo seandainya kalian emang gak bisa
nerima gw. Gak apa-apa Mick. Gw baik-baik aja” ucap Dan berlapang dada.
“Gw nerima dia Mick. Tapi, gw kan musti liat
mentalnya dia kek gimana dulu. Baru awal kita kek gini, dianya udah nyerah.
Seharusnya dia berusaha meyakinkan kita untuk bisa nerima dia kan?” ya,
perkataan Rajif memang benar adanya. Perasaan Dan yang awalnya was-was, berubah
menjadi perasaan yang tak bisa diungkapkan.
“Jadi Dan, bagaimanapun sikap kami ke lu. Lu
jangan putus asa. Karena disini, bakal banyak hal yang akan lu saksikan. Bakal
banyak hal yang terungkap. Bakal banyak hal yang tak akan bisa lu lupain” Rajif
akirnya memberi kepercayaan kepada Dan untuk bergabung disini dengan segala hal
yang ia miliki. Dengan segala hal yang bisa ia tunjukan kepada para sahabatnya.
“Guys, thanks banget udah nerima gw. Thanks
banget buat pagi ini. Ini awal buat gw ngebuktiin kepada kalian dan juga kepada
orang lain bahwa gw layak berada disini” dengan semangat Dan mengungkapkan isi
hatinya yang tengah dilanda kebahagiaan yang teramat sangat.
Setelah pembicaraan yang lumayan serius, mereka
menyusul Ricky dan Shodiq kesekolah dengan cepat. Dikarenakan Dan memang anak
baru, jadi Dan harus melapor keruangan guru dimanakah kelas yang akan ia
tempati. Dan kelas yang akan ia tempati adalah kelas dimana tak ada satu teman
yang ia kenali disana. Dimana Micky dan yang lain tak menempatinya. Tapi dengan
senag hati ia menerima kelas barunya itu.
***
“Kelas lu dimana Dan?” tanya Shodiq yang duduk
berhadapan dengan Dan diruangan Kantin.
“11A2” jawab Da singkat yang masih menunggu pesanannya
datang.
“Ha” semua sahabatnya terkejut mendengar kelas
yang disebutkan Dan tadi.
“Emang kenapa dengan kelas gw?” Dan menanyakan
hal yang ia ketahui tentang kelas yang telah ia duduki.
“Lu mau jujur apa bo’ong?” berbalik Shodiq
memberi pertanyaan kepada Dan. Dua pilihan. Karena bohing ataupun jujur sama
saja jawabannya.
“Diq, ribet lu ya. Ngasih jawabannya aja musti
pake ToD segala” komplain Micky kepada Shodiq yang memang selalu bergurau
dengan segala hal.
“Gini Dan, kelas 11A2 itu setau kita-kita itu
kelas neraka. Kenapa? Lu bisa liat isinya Dan anak brandalan semua. Tapi gak
tau seh menurut lu gimana” Rajif menjelaskan tentang kelas 11A2. Langsung saja
Dan merasa rada aneh.
“Hahaha, emang kenapa kalo itu kelas neraka?
Bahkan gw suka punya kelas kek gitu. Disekolah gw yang lama kelas ge juga
disebut kek gitu. Tapi anak-anaknya pada asyik kok” jawaban Dan sangat berbeda
dari apa yan difikirkan mereka.
“Jujur ya, gw lebih suka kelas kek gitu daripada
kelas yang adem-adem ayem gitu. Garing tau gak. Mending brandal, tapi asyik dan
juga heboh” lanjut Dan memuji kelas yang didominan anak-anak brandal.
“Yadeh-yadeh. Terserah lu. Oh ya, tadi pagi si
Micky sama Rajif ngomong apa aja?” Shodiq bertanya penasaran akan hal yang
dibicarakan Micky dan Rajif tadi pagi. Langsung keduanya hanya tersenyum
membalas pertanyaan Shodiq.
“Oh itu, gak ada. Cuma mereka ngasih penjelasan
aja tentang segalanya” masih Dan menjelaskan semuanya.
“Eh Diq, lu kepo ya!” canda Micky
“Iya donk. Kalo gak kayak gitu, gw gak
maju-maju” jawab Shodiq cuek menjulurkan lidahnya kepada Micky. Mereka tak
pernah menemukan orang sekocak Shodiq sebelumnya, hanya ia yang bisa mencairkan
suasana dengan gokilnya sikap yang ia miliki. Rajif merasa ia perlu berbicara
dengan Ghea, karena feeling-nya selama ini ternyata salah terhadap Ghea.
“Guys, gw cabut dulu ya!” Rajif langsung saja
mencari Ghea tanpa mempedulikan sahabatnya lagi. Karena bagaimanapun, ia telah
salah.
Berbeda tempat dengan mereka, Raisa dan Ghea
malah asyik menceritakan segala hal yang Raisa lalui bersama Micky kemaren.
Tapi diselang pembicaraan Ghea malah memtong pernyataan Raisa karena apa yang
dibicarakan Raisa telah ia lihat. Lain sikap dengan Micky, Raisa hanya
tersenyum ketika Ghea menceritakan bahwa ia dan sahabat Micky menguntiti mereka
kemana mereka pergi.
“Jadi, lu udah pacaran sama dia?” pertanyaan
yang sebenarnya ingin ia jawab dengan jawaban ‘ya’. Tapi dikenyataan, Micky
belum mengungkapkan maksud hatinya kepada Raisa.
“Belum” jawab Raisa singkat tanpa memperdulikan
perasaan yang sebenarnya merasa kurang nyaman dengan statusnya sekarang.
“Ha? Masih belum ditembak?” Ghea terkejut
mendengar pernyataan Raisa yang ternyata masih belum mempunyai hubungan yang
pasti antara Raisa dan Micky. Tiba-tiba Rajif muncul saja didepan mereka berdua.
“Jif, lu gak sama sahabat-sahabat lu ya?” tanya
Raisa yang memang tak mengetahui hubungan antara Rajif dan Ghea.
“Oh itu, Cuma gw ada perlu aja sekarang sama
Ghea” Rajif menjelaskan.
“Oh. . . ok, gw cabut ya Ghe” dan Raisapun
berlalu dari hadapan mereka. Setelah Raisa pergi, barulah terjadi pembicaraan
yang serius antara dua insan yang pernah menjadi sepasang kekasih itu.
“Kamu mau ngomong apa?”
“Mau ngomong apa ya. Jadi ngilang gini”
“Kok gitu seh, katanya mau ngomong sesuatu?”
“Ya kan jadinya grogi aja”
“Masih grogi? Santai aja”
“Maaf aja karena sikap aku kemaren kekamu”
“Yang mana?”
“Yang aku mikirnya kalo Micky itu punya perasaan
sama kamu. Ternyata gak”
“Ha? Kan Micky sukanya ke Riasa. Lagian emang
siapa yang bilang dia suka sama aku?”
“Aku sangat-sangat minta maaf Ghe, aku parno”
“Gak apa-apa ko Jif. Aku juga udah lupai hal
itu”
“Jadi?”
“Jadi apa?”
“Kita mulai dari awal lagi!”
“Maksudnya apa neh?”
“Aku pengen kita kek dulu lagi. Dimana aku dan
kamu jadi kita”
“Kesambet apa Jif? Perasaan dulu gak gini-gini
amat”
“Aku kan juga belajar dari segalanya”
“Berarti udah pinter dong gombalin setiap cewek?”
“Hehehe, gak lah. Jadi gimana neh Ghe? Apa perlu
aku teriak disini lagi kayak tahu kemaren?”
“Jangan lah Jif”
“Tapi kamunya gak ngerespon pertanyaan aku”
“Ya deh aku jawab”
Ghea berfikir ragu. Rajif menahan-nahan hati.
Perasaan cemasnya lebih besar dari pertama ia menyatakan cinta kepada Ghea.
Karena Ghea masih lama memikirkan jawaban apa yang akan ia jawab, kembali Rajif
melakukan hal yang ia lakukan sebelumnya.
“Semuanya” teriak Rajif yang mengundang
perhatian teman-temannya yang berada disekitar itu. Sahabatnya yang telah
selesai makan tadi dan tenga berbincang didepan kelas juga tertarik untuk
melihat kejadian siang itu. Merekapun mendekati tempat yang telah dikerumuni
teman-teman satu sekolah mereka.
“La, itu kan Rajif!” ucap Dan. Melihat kejadian
tersebut, Micky Shodiq dan Ricky mengingat kejadian tahun lalu yang persis sama
dengan apa yang mereka lihat sekarang.
“Ghea” mereka bertiga berteriak histeris. Karena
apa yang mereka fikirkan, memang benar adanya. Disana juga ada Ghea yang tepat
berada disamping Rajif.
“Guys, tahun lalu gw juga sempat berdiri disini
untuk memastikan apakah gw diterima oleh cewek yang gw sayang. Sekarang, gw
harap apa yang gw lakuin ini samahalnya dengan apa yang terjadi tahun lalu”
Rajif kembali berteriak agar status hatinya pasti.
“Jadi gimana Ghe? Apa kamu?”
“Gini, tahun lalu memang ada hal yang tak
terlupakan. Tahun lalu, aku memang merasakan perasaan itu. Tapi sekarang” Ghea
masih ragu-ragu dengan jawaban apa yang akan ia katakan. Perasaan was-was Rajif
bertambah ketika ia melihat teman-temannya tersenyum kepadanya dianatara
keramaian.
“Ne anak nekad mulu ya!” celoteh Ricky.
“Emang dulu Rajif pernah nembak Ghea?” tanya Raisa
tak tahu-menahu tentang itu.
“Mending Micky yang jelasin ya Sa” canda Shodiq.
“Apaan seh lu Diq” kesal Micky. Juga terjadi
pandangan yang tak bisa antara mereka berdua.
“Kalo dilihat dari pandangan Ghea ke Rajif
bakalan diterima neh” potong Dan.
“Kalo Raisa ke Micky?” kembali Shodiq membuat
suasana menjadi berantakan.
“Jujur ya, bakalan diterima juga” sigap Dan.
“Ngapain seh bahas ini, mending liat tu anak mau
ngapain” Micky menunjuk kearah Rajif yang memang terlihat berbeda.
“Ghe, aku Cuma pengen mendengar jawaban kamu.
Terserah kamu mau bilang apa, yang penting kamu jawab. Please!”
“Iya” jawab Ghea singkat. Jawaban itu langsung
membuat suasana menjadi indah. Rajif terpekik bahagia dengan jawaban yang ia
dapat. Ramalan Dan pun memang benar.
“Iya kan, diterima” ungkap Dan belagak sombong.
“Dan berarti” Shodiq tak ingin kehilangan akal
untuk membuat sahabatnya memerah.
“Udah Diq, kita kekelas yuk! Lagian udah selesai
kan” semua kembali kekelas masing-masing tanpa terkecuali.
Karena Dan sendiri dikelasnya, maka sahabatnya
menemaninya hingga sanpai kekelas. Dan
tak ada yang mereka ucapkan ketika telah sampai dikelas Dan, karena mereka
menyadari mereka takut masuk kekelasnya Dan. Melihat teman sekelas Dan saja,
mereka canggung. Yang berani mereka lakukan melanbaikan tangan kepada Dan tanda
mereka pamit untk masuk kekelas masing-masing. Dan hanya memaklumi sikap
kawan-kawannya.
***
Dari awal Ricky dan Shodiq memang merahasiakan
kisah cinta mereka. Tak ada satupun yang benar-benar tahu bagaimana kisah cinta
mereka berlalu. Hingga pada suatu pembicaraan, menjuruslah pembicaraan kekisah
cinta masing-masing.
“Rick, maaf ya. Kemaren gw kan megang ponsel lu.
Nah, ternyata ada pesan masuk dari yang namanya Flo. Bisa lu jelasin ndak dia
siapa?” tanya Shodiq yang memang kemaren Ricky menitipkan ponselnya kepada
Shodiq.
‘Terungkap juga deh jadinya’ ungkapnya
dalam hati.
“Rick, jujur kali sama kita” usaha Dan agar
Ricky bisa menjelaskan semuanya kepada mereka.
“Pacar gw” jawab Ricky memerah.
“Aciye. . .”
“Maaf neh sebelumnya Rick, dari awal lu kan gak
bilang kalo lu punya pacar. Sejak kapan coba lu punya pacar?” pertanyaan itu
keluar dari mulut Micky yang memang tak sabar mendengar penjelasan lebih lanjut
dari Ricky.
“Oh itu, tahun lalu. Dan sebelum Rajif nembak
Ghea” Ricky mencoba jujur menjawab setiap pertanyaan sahabatnya.
“Juga, sekarag kita lagi LDR gitu. Dikarenakan
dia udah pindah ke Makassar. Tapi, akhir tahun ini dia bakal balik ke Jakarta
lagi” lanjutnya.
“Berarti malam tahun baru bareng dia dong?” Dan
membuat Ricky kembai memerah.
“Mungkin aja kan?” balasnya.
“Jadi, yang setiap malam nelpon itu lu? Yang
tertawa sendiri itu?” Rajif melemarkan pertanyaan yang ia rasa sering ia dengar
disetiap malam. Jawabannya hanya sebuah senyum dari Ricky. Ricky telah menjelaskan
kisah cintanya kepada semua. Dan mata mereka tertuju ke Shodiq yang memang
sangat susah mendapatkan cinta. Melihat tatapan yang tak biasa diantara
sahabatnya, Shodiq mencoba melarikan diri. Tetapi terlebih dahulu ditahan oleh
Ricky.
“Ayo, mau kemana lu Diq? Sekarang giliran lu”
pungkas Ricky.
“Ya, kok gw seh. Dan kan juga” potongnya.
“Ada waktunya kali Diq. Yang selalu bikin onar
kan lu, jadi lu duluan” jelas Rajif.
“Yadeh-yadeh” Shodiq mengalah dan kembali duduk
diantara sahabat-sahabatnya.
“Dimulai deh Diq” pinta Micky.
“Sampe sekarang gw masih belum berani pacaran”
Shodiq memulai mejelaskan.
“Kenapa?” Rajif memotong pembicaraan Shodiq
“Gak tau juga seh, tapi gw lebih suka lihat lu
pada pacaran aja. Gw masih belum punya nyali besar untuk pacaran” lanjutnya.
“Lu kan orangnya kocak Diq, masa gak punya nyali
buat pacaran?” Dan mencoba meyakinkan Shodiq untuk lebih percaya diri.
“Dulu sempat seh nembak cewek, tapi ditolak.
Trauma aja gw berurusan sama hawa-hawa itu” disela pembicaraan serius, Shodiq
masih mengusahakan suasana yang sedikit cair.
“Ha? Don’t give up Diq” hibur Micky.
“Jadi kapan lu mau nyari pacar?” pertanyaan yang
keluar dari Micky membuat Shodiq shock. Bagaimana tidak, seolah pertanyaan itu
menusuk keras dijantungnya.
“Kita liat nanti aja deh” jawabnya jutek.
“Dan sekarang giliran . . .” Rajif hanya
mengucapkan setengah kalimat itu. Karena memang hanya Dan yang belum
menjelaskan kisah cintanya.
“Oh gw, gw seh lagi berusaha buat gak pacaran.
Karena sekarang tujuan gw ini dulu. Nanti kalo emang ketemu kenapa gak” Dan menjelaskan
dengan dewasa.
“Tapi sebelumnya lu pernah pacaran gak?”
seolah-olah pertanyaan Rajif memberi tema pembicaraan hari ini ‘kepo time’.
“Dulu seh sempat pacaran dengan adik keas gw
waktu SMP. Gw nya aja bodo’ dikerjain sama dia. Dianya malah lari sama sahabat
gw” Dan telah tegar dengan kejadian yang menimpa dirinya diwaktu SMP. Memang
itu adalah hal yang tak akan hilang dalam hidup. Tak akan pernah.
“Dan bertahannya pun Cuma 10 hari” lanjutnya.
“Wow, sampe sekarang lu udah pernah bertemu dia
belum?” tanya Ricky.
“Belum” balasnya singkat. Dan jelaslah bagaimana
kisah cinta mereka masing-masing. Ricky yang ternyata mempunyai seorang pacar
dan mengalami LDR. Shodiq yang masih dalam pencarian. Serta Dan yang berusaha
tak memikirkan hal-hal seperti itu. Pertanyaan langsung mendarat kepada Micky
dari Shodiq.
“Lu Mick, udah pasti belum status lu sekarang?”
“Status apa?” Micky bertanya seolah tak mengerti
dengan pertanyaan Shodiq.
“Tu kan. Giliran ditanya pura-pura gak tau”
lanjut Shodiq kesal.
“Itu tuh sama si JELEC” sindir Rajif.
“Kalo si Rajif kan udah pasti tuh balikan sama
Ghea. Nah lu?” kembali Ricky memaksa Micky untuk berbicara statusnya dengan
Raisa.
“Kita ikutin aja alurnya dulu. Mana tau gw sama
dia beda jalan nantinya” Micky berusaha menyembunyikan perasaannya yang
was-was.
“Tapi lu berharapkan?” pancing Shodiq. Dan yang
tak mengetahui apa-apa hanya diam melihat para sahabatnya meng-interview Micky.
Micky membalas dengan senyum licik. Suasana ruang tengahpun berisi banyak cerita
yang canda setelah semua menjelaskan cerita masing-masing yang berbeda. Walau
hanya membahas kisah cinta, tapi Shodiq mempunyai banyak materi untuk membuat
sahabat-sahabatnya malu.
***
November 30, 2013
Hari ini banyak cerita, kami
membahas kisah cinta masing-masing yang memang sangat berbeda. Rajif dan Ricky
memang mempunyai status yang pasti. Shodiq masih mencari, Dan tak ingin
memikirkan hal itu sekarang. Nah gw? Gak tahu musti ngeletakin status apa
dihati gw. Walau begitu, gw senang ternyata hadirnya Dan memberi warna baru
dalam hidup kami.
Perasaan gw juga was-was, karena
waktu gw hanya tinggal sebulan penuh lagi. Gw belum miirin gimana acara ultah
Rajif, gimana cara gw nyatain cinta ke Raisa, juga materi tahun baru belum ada.
Gw Cuma masih jalan ditempat aja. Semoga 4 atau 5 hari sebelum ultah Rajif
semua sudah terfikirkan dan bisa terwujud dan berjalan dengan lancar.
Micky tak lupa menuliskan setiap kejadian yang
ia lalui kedalam diary yang memang ia siapkan setelah mamanya memintanya untuk
terbang ke Jerman bersama sang mama. Hany itu yang akan bisa ia berikan kepada
para sahabatnya. Juga ia masih menyimpan beberapa fotonya bersama sang sahabat,
tapi sebelum Dan datang. Niatnya, ia ingin mengabil gambar baru berlima dengan
Dan.
“Jelec, gw bisa minta waktu sama lu gak?” Micky
kembali mengirimi Raisa pesan. Ada hal yang sangat perlu ia bicarakan dengan
Raisa.
“Bisa. Gw juga mau ngomong sesuatu sama lu”
jawab Raisa singkat diseberang sana.
“Besok malam gw jemput lu, gw mau hanya kita”
“Ok”
Paginya Micky menjemput Raisa kerumahnya. Tak
sadar dengan kedatangan Micky, karena Micky janjinya malam ini. Hingga sang
mama harus mengingatkan Raisa bahwa Micky datang menjemputnya.
“Nyun, lu kan bilangnya nanti malam” protes
Raisa telah duduk disamping Micky.
“Iya, emang gak boleh jemput lu?”
“Ya boleh seh, tapi kabarin dulu kek ato gimana”
“Yaudah maaf deh”
Micky langsung manancap gas mobilnya menuju
sekolah. Tanpa perbincangan yang pasti. Micky tak bisa mengucapkan kata-kata
apa, karna yang ia fikirkan bagaimana acara nanti malam berlangsung sesuai
dengan yang ia inginkan. Tak lama pula, mereka telah sampai disekolah.
Sahabat-sahabatnya telah sampai duluan kesekolah.
“Jam 7 udah cantik ya!” pinta Micky. Karena
Micky ingin Raisa terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Selain membicarakan
tentang perasaan, Micky akan menjelaskan segala rencananya kepada Raisa. Micky
hanya menghitung jam untuk menjelaskan segalanya. Perasaannya berbeda, jam
istirahatpun Micky tak keluar. Karena ia takut, takut nantinya keceplosan disaat
pembicaraan dengan para sahabatnya. Mengingat pesan yang dikirim Micky
kepadanya bahwa hanya ada mereka berdua, niat untuk membicarakan kepada yang
lainnyapun diurungkan. Para sahabat hanya diam melihat sikap Micky yang
tiba-tiba berubah itu. Sampai malam menjelang Micky tetap tak berbicara kepada
sahabatnya.
“Jif, gw keluar bentar ya. Bilang sama yang
lain” Micky meminta izin kepada Rajif. Rajif tak sempat menjawab Micky karena
Micky terlebih dulu hilang dipenglihatannya. Micky langsung menuju kerumah
Raisa untuk menjemputnya. Raisa terliaht sangat menawan dengan gaun pink hingga
lutut dan juga sedikit polesan dipipi. Micky tak bisa berkata apa-apa dengan
itu. Ia hanya bisa memandangi Raisa. Akhirnya mereka sampai ditempat yang
ternyata Micky membawa Raisa kemaren. Telah tersedia bangku ditempat yang
paling strategis. Dari awal, Micky telah mempersiapkan dengan baik tempat itu.
Juga telah disediakan menu yang dipesan leh Micky.
“Kamu cantik” puji Micky singkat atas apa yang
ia lihat.
“Terimakasih” jawabnya merendah.
“Jadi apa yang bakal diomongin neh. Jangan bikin
penasaran ya?”
“Mending makan dulu deh, nanti semua pasti akan
aku jelaskan”
Menu yang tersedia tadipun disantap dengan
nikmat oleh mereka sampai-sampai mereka terasa kenyang dan berhenti.
“Yaudah, omongin geh” paksa Raisa. Micky menahan
setiap aura negarif yang ada dalam dirinya. Dia hanya mencoba jujur dengan
segala hal yang telah ia tutupi selama ini.
“Terimakasih untuk selama ini ya Jelec, gw
seneng”
“Hanya itu?”
“Janji lu gak bakal cerita kesahabat-sahabat kita sebelum
waktunya?”
“Janji deh”
“Selesai liburan panjang nanti. Gw bakal pindah”
“Pindah kemana?”
“Ke Jerman”
“Ha? Jerman?”
“Iya, orang tua gw udah ngurus segalanya buat
perpindahan gw. Tinggal pergi aja”
“Kenapa gak bareng gw aja seh kesana?”
“Maksudnya?”
“Iya, setelah lulus baru kita ke Jerman. Orang
tua gw kan disana sekarang”
“Sebenernya, hari ini gw udah terbang. Tapi,
karena gw ingat 3 hal yang harus gw wujudin sebelum gw pergi. Makanya orang tua
gw ngasih waktu ke gw”
“3 hal. Jelasin lah?”
“Pertama, gw pengen ngerayain ultahnya Rajif
untuk yang terakhir. Kedua, gw ingin tahun baruan sama kalian. Dan ketiga, gw
ingin jujur dengan perasaan gw ke lu” suasana mulai berubah, Raisa mencoba
menelan semua perkataan Micky.
“Tunggu, selama ini gw senang jalan sama lu
nyun. Tapi, lu gak pernah jujur bakal ke Jerman secepat ini”
“Tapi Lec, gw juga musti menggapai cita-cita gw
disana. Ini kesempatan terakhir gw Lec”
“Kesempatan terakhir? Trus bagaimana dengan gw?
Sahabat-sahabat lu?”
“Gw juga bakal bilang kemereka. Secepatnya”
“Terserah lu Mick” Raisa marah, dan yang hanya
bisa ia lakukan pergi dari sana dan pulang. Micky mencoba menahannya, tapi
Raisa tak merespon. Dan dengan terpaksa Raisa mau diantar Micky pulang tapi tak
ada yang diucapkan Raisa dan Micky selama perjalanan. Nyampe rumahpun Raisa tak
mengucapkan satu katapun. Dia menelan kecewa besar. Sangat besar. Micky
langsung menuju kamar Rajif dan memeluknya. Air matanya mengalir begitu saja.
Rajif merasa aneh dengan apa yang ia lihat.
“Mick, lu kenapa?”
“Jif, besok gw gak masuk kesekolah ya. Bilang
aja sakit”
“Iya, tapi jelasin dulu lu kenapa sampe kek
gini?”
“Gw masih belum bisa cerita Jif”
“Ok deh, lu tidur disini aja ya?”
Jelas Micky tak bisa menjelaskan disaat ia
tengah dilanda kesedihan yang amat besar. Tak ada yang bisa menebak kenapa
Micky bisa menangis seperi ini. Karena Micky adalah orang yang slama ini susah
untuk menangis
***
Micky memutuskan untuk tidak masuk kesekolah.
Tak jauh berbeda, Raisa juga tak menghadiri pelajaran hari ini. Keanehan
dirasakan para sahabatnya. Apakah sesuatu terjadi antara Micky dan Raisa?
“Ghe, Raisa ada cerita sesuatu sama lu?” tanya
Ricky.
“Gak ada. Emangnya kenapa?” Ghea berbalik
menanyakan hal yang sama.
“Gini Ghe, tadi Rajif cerita kekita. Katanya
semalem Micky nangis sehabis pulang dari mana gitu. Kita seh mikirnya ada
hubungannya sama Raisa” Ricky menebak dengan pasti apa yang tengah terjadi
antara Micky dan Raisa.
“Malahan gw belum dapet kabar dari Raisa. Nanti
deh gw coba cari informasi kerumahnya” janji Ghea yang akan mencari informasi
kerumah Raisa. Pembicaraan tentang Micky dan Raisa terus berlanjut hingga
akhirnya Rajif, juga Dan datang.
“Hayo, lagi bicarain siapa?” tanya Rajif
becanda.
“Ada Rajif neh. Takut, nanti ditendang” Shodiq
kembali menyudutkan Rajif, tapi Rajif telah kebal. Karena dia lebih berhak dari
Shodiq.
“Ada yang kurang deh kayaknya?” Ghea coba
menebak.
“Emang iya. Tuh si Ricky, kebetulan akhir-akhir
ini dia sibuk sama ponselnya” tutur Dan memberi teka-teki.
“Sibuk sama ponsel. Emang dia dapet kerjaan
baru?” Ghea tak mengerti dengan segala hal yang diungkap Dan.
“Bukan, ceweknya dia bakal balik ke Jakarta”
lanjut Dan.
“Ha? Flo?” Ghea tak menyangka bahwa Flo adalah
pacar Ricky. Flo yang dulu selalu menjadi musuhnya. Yang selalu menjadi biang
disetiap masalah yang ia hadapi.
“Iya, emang kamu kenal dia?” tanya Rajif.
“Siapa seh yang gak Flo. Cewek yang pernah mati
dengan musuh” Ghea mengingat masa-masa nya awal semester bersama Flo.
“Dia pernah sekolah disini?” tanya Shodiq shock.
“Iya. Emang kalian gak tau? Yaiyalah kalian gak
tau. Kami kelas 10A4, sedangkan kalian kelas 10C6” Ghea menjelaskan lebih
rinci.
“Oh gitu, jadi Ricky pacaran sama devil dong!”
tebak Shodiq.
“Hush Diq. Jangan bicara kek gitu. Mana tau Flo
itu sekarang udah gak jahat lagi kan” pungkas Rajif dewasa.
Ricky sekarang memang terlihat lebih sibuk.
Sibuk dengan cintanya yang dipisahkan oleh jarak. Yang tak lama lagi akan
bertemu kembali setelah satu semester lebih tak bertemu. Para sahabatnya hanya
memaklumi itu. Micky dan Raisa yang dilanda sedikit kesalahpahaman yang tak
sempat Micky jelaskan pada Raisa. Kembali Micky membuka diary-nya untuk
meluapkan segalanya.
December 2, 2013
Gw bener-bener dilanda perasaan yang
sangat tak wajar. Perasaan yang belum pernah gw rasa sebelumnya. Niat untuk
menceritakan dengan baik, berubah drastis setelah Raisa menganggap bahwa gw gak
jujur sama dia. Gw sayang sama dia, gw pengen dia jadi milik gw.
Sekarang, gw pasrah sama waktu yang
nuntun hubungan gw sama dia. Gw ikhlas seandainya kalo akhirnya gw gak bisa
bersatu sama dia, jika dia bisa bahagia dengan orang lain. Sahabat-sahabat gw,
gw harap kalian semua mengerti dengan semua ini. Jika nanti gw pergi sebelum
waktunya, gw titip segala hal tentang kita. Gw juga nitip Raisa ya!!
Micky tlah memiliki rencana untuk merayakan
ultah Rajif. Dia hanya mengirimi teman-temannya apa yang ia rencanakan
nantinya.
‘Guys, gw punya rencana. Bagaimana nanti kalo
ultahnya Rajif kita bikin pesta dipantai tempat kemaren. Sebelumnya, kalian
jangan nyapa dia dulu ya. 3 atau 4 hari gitu deh. Biar dianya gak tau kalo kita
ngerjain dia. Jangan lupa kaih tau Ghea juga Raisa’ balasan yang
dikirim Ricky, Shodiq, juga Dan menerima rencana Micky. Dan 3 hari sebelum
ultah Rajif rencanapun dijalankan. Tapi Micky masih tetap tak disapa Raisa.
Janji yang Raisa ucapkan kepadanya, tetap Raisa pegang. Yaitunya tidak
menceritakan kepada para sahabatnya bahwa ia akan terbang ke Jerman jika belum
waktunya.
***
Rajif merasa heran dengan ke-4 sahabatnya,
sahabat yang selalu berbicara banyak kepadanya. Kini tak mengucapkan satu
kalimatpun. Rasa sedih mulai menghingggapi, karena Ghea sang pacar juga tak
ingin berbicara kepadanya. Satu dua hari ia menerima sikap para sahabatnya,
dihari kelahirannya ia komplen kepada sahabatnya yang tengah
berbincang-bincang.
“Woy, salah apa seh gw sama kalian? Sehingga
kalian kek gini sama gw?” Rajif tetap mengoceh, tapi tak ada satu sahabatnya
yang merespon pertanyaan Rajif. Ditengah ucapannya, sang ponsel berdering ‘Aku
musti bicara penting sama kamu. Aku tunggu nanti malam jam 8 dipantai tempat
biasa’. Rajif tak membalas, tapi ia berjanji dalam hatinya akan datang
tepat waktu. Menurutnya mungkin ada hal yng penting dibicarakan Ghea, padahal
sebenarnya mereka ingin mengadakan birthday party untuk Rajif.
Rajif bersiap-siap untuk datang kepantai.
Berdandan layaknya model. Celana Skiny-jeans abu-abu dan dipadu dengan
kemeja yang ditutupi cardigan abu-abu seolah memberi kesan dewasa pada diri
Rajif. Para sahabatnya oun telah siap-siap juga untuk datang ketempat pesta.
Sebelum Rajif sampai kelokasi, sahabatnya telah dulu sampai dilokasi. Tapi ada
yang aneh, yaitunya Micky dan Raisa yang masih belum ada pembicaraan. Sahabat
mereka cuek, karena hari ini adalah harinya Rajif. Ghea duduk dibelantaran daun
kelapa yang sengaja didekor demi malam itu. Ghea terlihat sangat cantik dengan
gaun hijau muda yang disatukan dengan bando putih kesukaannya. Rajif
mendekatinya. Para sahabatnya telah bersiap-siap dengan aksi masing-masing.
Rajif tak menginggat bahwa hari ini adalah hari
ulang tahunnya, otomatis ingatan ulang tahun hilang begitu saja. Fikirannya
tentang pesta ulang tahun juga tak ada, ia hanya terfikir kenapa 3 hari ini
para sahabat dan pacarnya tiba-tiba tak ingin bicara kepadanya. Dan juga
tiba-tiba Ghea mengajakinya untuk bertemu ditempat yang memiliki sejarah
untuknya dan juga sahabatnya.
“Aku telat gak?”
“Gak, bahkan tepat waktu”
“Tunggu, kamu anggun banget malam ini Ghe. Oh
ya, emang mau bicara apa?” wajah Rajif berubah menjadi was-was. Apakah Ghea
akan mengucapkan kalimat yang tak ingin dia dengar? Ghea mulai memasang wajah
murung, sedih.
“Rajif, aku sayang sama kamu. Dan sepertinya
malam ini . . .” Ghea menahan agak lama kalimatnya. Menunggu ia melihat
sahabat-sahabatnya keluar dari persembunyian.
“Malam ini kenapa?” Rajif mendesak Ghea untuk
melanjutkan kalimatnya.
“Sepertinya malam ini . . .”
“Happy Birthday to you ..........” para
sahabatnya keluar dan membawa sebongkah kue berbentuk hati kehadapannya. Rajif
tercengang dengan pemandangan malam itu. Karena tak ada fikiran sampai kesana.
Sahabat dan pacar yang kemare dingin kepadanya, ternyata mempunyai satu ambisi.
Yaitunya ulang tahunnya.
“Ghe, jangan bilang ini ide kamu?”
“Bukan, itu idenya Micky”
“Micky, lu” Rajif mengejar Micky, tapi Micky tak
tinggal diam. Ia lari secepat mungkin ditepi hempasan pantai. Disaksikan oleh
sahabat mereka yang tak henti-henti tertawa. Micky akhirnya menyerah setelah ia
dan Rajif sama-sama jatuh dihempasan pantai. Mereka saling tertawa.
“Mick, lu tega ya sama gw. 3 hari itu lama tau
Mick” Rajif berusaha mengingatkan kejadian kemaren kepada Micky. Micky tak
menggubris, ia masih tertawa dengan kencangnya.
“Tapi gw berhasil kan?” tutur Micky. Tak lupa
Shodiq mengabadikan moment dimana Micky dan Rajif berendam di pantai. Karena
ulah mereka yang jahil, mereka juga memaksa Ricky,Dan, juga Shodiq untuk gabung
bersama mereka. Tapi acara inti belum, makanya mereka tak jadi gabung dengan
Rajif dan Micky.
“Thank you banget buat semua yang hadir hari
ini. Thank you banget buat pacar, juga sahabat-sahabat gw yang udah ngerjain gw
selama 3 hari kemaren. Swear, gw gak ingat hari ini adalah hari ultah gw. Big
tahks buat semuanya” ungkap Rajif.
“Tapi sebelum gw niup lilin ataupun motong kue.
Gw boleh minta satu permintaan gak ke Micky?” pinta Rajif.
‘Mampus deh’ keluh Micky dalam hati.
“Gw pengen malam ini status hubungan lu sama
Raisa itu pastinya malam ini” permintaan yang akan sulit untuk dipenuhi.
‘Tu kan. Tuhan, tolong aku’ kembali ia
mengeluh dalam hati.
“Ternyata saya dikerjain juga” keluhnya. Ghea
menarik tangan Raisa untuk berdiri tepat disamping Micky. Pandangan Raisa masih
sinis kepada Micky. Memang keduanya memiliki perasaan yang sama. Tapi mereka
berdua memiliki persepsi yang berbeda-beda.
“Ok, sebelum status diantara kami dijelaskan.
Saya mohon dengan sangat, mohon dijelaskan apa rencana yang telah dibuat Micky
kepada kita semua yang ada disini” Raisa mengalihkan pembicaraan. Wajah semua
yang hadir berubah menjadi serius. Semua tak tahu akan apa yang dibicarakan
Raisa.
“Sa, kamu salah tempat kalo ingin dengar
penjelasan tentang itu”
“Mick, emang tentang apa?” sorak Ricky.
“Please, gw harap kalian gak dengerin ucapan
Raisa. Kita ingin malam ini seneng-seneng kan?” Micky kembali mengalihkan ke
acar semula.
“Sepertinya terjadi kesalahan teknis pemirsa.
Masalah itu biar nanti dijelaskan dibelakang layar. Yang jelas sekarang pesta
ini musti berlangsung dengan semestinya” ungkap Ricky.
Kembali ke awal, pesta berlangsung. Setelah tiup
lilin dan potong kue, Micky menarik Raisa jauh dari kerumunan.
“Sa, gw mohon banget. Ini hari kebahagiaan
Rajif. Gw gak mau sahabat-sahabat gw sedih”
“Trus mau sampe kapan lu kek gini Mick”
“Sampe gw nemu waktu yang tepat untuk ngejelasin
kemereka”
“Mick, lu salah. Semakin lama lu mendam ini,
semakin berat buat lu menjelaskan semua kemereka. Apa salahnya seh? Cuma
menceritakan”
“Tunggu-tunggu. Ini maksudnya apa ya?” tanya Dan
yang telah berdiri dari tadi tak jauh dari tempat Raisa dan Micky.
“Dan? Sejak kapan lu disitu?” tanya Micky heran.
“Sejak lu narik Raisa dari pesta” jelasnya.
“Syukur deh ada Dan disini. Gw bisa cerita kedia
sekarang” pancing Raisa.
“Cerita apa?” Dan ingin mendengar semua
penjelasan dari apa yang tadi ia dengar.
“Dan, gw bisa jelasin. Tapi gw minta sama lu
untuk nyimpan ini” akhirnya Micky mencoba untuk menjelaskannya kepada Dan.
***
“Gak bisa secepet itu dong Mick?” komplen Dan
setelah mendengar semua penjelasan Micky dan Raisa.
“Dan, maaf banget gw baru cerita. Tapi gw musti
gimana? Gw gak ada jalan lain” seolah, hanya itu jalan yang Micky punya untuk
masa depannya.
“Tapi kan Mick” tak sempat mengakhiri
kalimatnya. Micky terlebih dahulu memotong kalimat Dan.
“Gw percaya sama lu Dan. Lu satu-satunya orang
yang tahu diantara kita berlima” Micky berlalu dan kembali kedalam pesta malam
itu. Hanya tinggal Raisa juga Dan. Tiba-tiba saja Dan merasakan perasaan aneh
ketika ia memandangi Raisa lebih lama. Mickypun melihat tatapan Dan kepada
Raisa bahwa sebenarnya Dan memiliki perasaan yang juga dimilki Micky kepada
Raisa. Mungkin siapa yang akan ia percayai untuk melindungi Raisa adalah Dan.
“Sa, lu suka kan sama Micky?”
“Kok lu nanya gitu?
“Gak, gw Cuma mastiin aja”
“Emang seh gw suka sama dia. Kemaren dia ngajak
dinner juga. Trus dia juga nembak gw. Tapi gara-gara ini gw gak jawab
perasaannya” perasaan Dan mulai aneh lagi saat ia mendengar pengakuan dari
Raisa. Ada panah yang tertancap dihatinya, dan itu sangat sakit sekali.
“Kenapa gak jawab langsung aja seh?”
“Gak tau juga seh”
“Nanti lu nyesel lo”
“Udah jangan mikirin itu, meding balik ke party
yuk”
Setelah party selesai, semua balik kerumah
masing-masing. Ghea meminta Micky mengantarkan Raisa kerumahnya. Tapi Ghea
memilih untuk diantarkan Dan. Jelas sekali ada masalah diantara mereka berdua.
Dan yang bukan siapa-siapa, sepertinya akan menggantikan kedudukan Micky dihati
Ghea. Micky memaklumi keadaan itu, walau hatinya terasa perih sekali.
“Dan, sebelumnya thanks ya udah mau ngaterin gw”
“Sep Cha”
Apa yang bisa dilakukan ketika seorang idaman
hati tak mau lagi menyapa kita? Hanya bisa menunggu waktu yang menentukan.
Walau bagaimanapun akhirnya, Micky akan menerimanya.
December 10, 2013
2 hal yang tak akan gw lupain hari
ini. Pertama, sukses ngerjain Rajif dan juga sukses ngasih party birthday buat
dia. Juga perbedaan pendapat dengan Raisa, hal menyedihkan. Karena ia lebih
memilih pulang dengan Dan daripada gw.
Itu juga gak apa-apa.
Sekuarang-kurangnya gw udah nemuin orang buat nemenin dia saat gw jauh. Jikapun
dia harus jadian dengan Dan gw ikhlas.
Setelah menulis segalanya, Micky keluar dan
duduk diatas genteng rumah. Hal aneh yang selalu terjadi ketika salah satu dari
mereka sedih. Disaat dia tengah tenang diatas genteng sambil memasang headset
ketelinganya, Rajif masuk kekamarnya hendak ingin mendengar penjelasan kenapa
ia dan Raisa seperti memiliki jarak. Ia menemukan buku diary yang terletak
berantakan diatas meja Micky. Ia berniat tak akan melihat isi bukunya, tapi
entah apa yang merasukinya, iapun membaca isi buku tersebut. Lembar perlembar
ia baca. Tak ada satu katapun yang ia tinggalkan. Mulai dari cerita bahagia,
kejadian aneh, perasaan Micky, juga kenyataan yang belum sempat Micky ceritakan
ia baca. Hitungan detik, Micky masuk kekamarnya. Dan melihat Rajif sedang
membaca diary-nya. Ia terpana, karena apa yang akan ia ceritakan telah terbukti
jelas dalam buku tersebut. Micky cepat-cepat merebut buku itu dari Rajif, tapi
Rajif tak ingin kalah dari Micky.
“Kenapa lu gak pernah cerita Mick?”
“Jif, gw butuh waktu”
“Mau sampai kapan?”
“Ok, lu mau gw jelasin semua. Fine, gw tunggu
kalian berempat diruang tengah”
Rajif menyambangi setiap kamar sahabatnya untuk
berkumpul diruang tengah ditengah malam seperti ini. Semua cahaya mati, hanya
ada satu cahay lampu dari atas meja disamping Shodiq duduk. Mungkin wajah-wajah
mereka masih mengantuk, tapi setelah mendengar cerita dari Micky mungkin saja
mereka tak bisa tidur.
“Terimakasih sebelumnya karena kalian udah kumpul
disini. Juga, maaf karena gw udah gak jujur sama kalian” pembukaan Micky.
“Mungkin sekaranf waktunya buat kalian tau, gw
bakal pindah ke Jerman” ungkapan itu membuat mata Ricky dan Shodiq jadi melek
besar. Dan juga Rajid tak terkejut dengan pernyataan itu, karena mereka telah
mendengarnya.
“Gw minta sama mama gw agar perginya awal 2014
nanti, tapi tadi gw sms mama gw. Nah, beliau bilang akan jemput gw tanggal 12
ini. Yang otomatis adalah dua hari dari sekarang”
“Mick, lu bilang ke gw kita bakal ngadain malam
tahun baru bareng. Tapi kok gini?” tanya Dan yang merasa tlah dibohongi Micky.
Suasana tak terbendung ketika air mata Rajif jatuh. Ketika Micky melihat Rajif
menangis, ada sebuah sayatan dihatinya. Ia mencoba untuk menyimpan air matanya,
tapi air matanya memang sangat ingin keluar simbol bahwa ia juga sangat sedih
dengan keadaan ini.
“Jadi, gw minta maaf kalo selama ini gw banyak
salah sama kalian. Gw yang selalu egois. Gw juga punya sesuatu buat kalian dan
gw titip ke Rajif. Itu diary gw. Gw pengennya kalian baca setelah gw terbang ke
Jerman” Micky langsung memeluk Rajif, dan sahabatnya merangkul mereka. Air mata
mereka seolah memberi semangat kepada masing-masing.
Hari ini Micky tak masuk sekolah karena ia harus
packing barang yang akan ia bawa untuk besok. Sahabat-sahabatnya juga tak
masuk, karena ingin membantu Micky mem-packing barangnya. Dan saat itu, sangat
kental sekali terasa kekeluargaan mereka. Juga masih terselip canda dibibir
Shodiq.
Ghea mendapat kabar dari sang pacar bahwa Rajif
tak bisa hadir kesekolah karena harus membantu Micky mempacking barang. Ghea
mencoba menjelaskan semua kepada Raisa, tapi Raisa terlanjur tak ingin
mendengar cerita tentang Micky lagi. Setelah mempacking barang, siangnya mereka
berlima tertidur lelap karena kelelahan. Ghea datang disaat yang tepat. Pukul
15:00 WIB, mereka telah bangun. Mereka melihat Ghea telah menyiapkan makanan
untuk mereka.
“Sorry ya gw gak bangunin kalian tadi. Habisnya
kalian lelah banget kayaknya” ungkap Ghea menghidangkan makanan dimeja makan.
Semua telah duduk rapi dimeja makan.
“Raisa gak ikut ya Ghe?” tanya Micky khawatir.
Takut jika ia tidak bisa bertemu dengan Raisa lagi.
“Mick, sabar ya. Gw udah berusaha jelasin semua
ke dia. Tapi dia gak mau dengar apa-apa lagi” jelas Ghea. Micky bernafas
terpaksa. Mencoba mencerna penjelasan dari Ghea. Wajah sahabat-sahabatnya
berubah menjadi kasihan. Tapi Micky memaklumi keadaannya sekarang ini. Dan
mungkin inilah jalan yang digariskan Tuhan untuknya.
“Atau gak, nanti malam lu samperin dia
kerumahnya aja” Ricky memberi opini.
“Ide bagus” balas Rajif dan Ghea kompak.
***
Selesai makan malam bersama, Micky langsung
menuju rumah Raisa yang berjarak 100m dari rumahnya. Ia ragu, karena ia takut
Raisa tak mau berbicara kepadanya. Tapi ia tetap meyakinkan hatinya agar ia
berani menanggung setiap resiko yang akan terjadi. Tak lama, Micky sampai
dirumah Raisa.
“Tante, Raisa ada?”
“Duduk dulu deh, tante panggil dulu ya?”
Micky duduk dengan perasaan was-was yang
berkecimbuk.
“Cha, ada orang yang ingin bicara sama kamu”
sang mama hanya memberi tahu Raisa seperti itu dan langsung ke dapur untuk
membuatkan Micky minuman. Karena penasaran, Ghea keluar untuk mencari tahu
siapa yang ingin menemuinya. Ternyata!
“Lec”
“Mick, lu mau ngomong apa?
“Gw Cuma mau pamit sama lu”
“Oh lu mau pergi. Yaudah”
“Lec, gw serius. Gw gak ada waktu sekarang. Gw
besok bakal terbang ke Jerman. Dan gw harap lu bisa datang buat lihat gw
terakhir kalinya”
“Udah kan? Gw masih banyak tugas”
Dengan sakit hati yang teramat, Micky pulang.
Tapi ia lega, karena ia telah memberi tahu Raisa kebenarannya. Sedang Raisa
teriris. Penyesalan datang. Ia hanya bisa menangisi apa yang ia dengar dari
Micky. Malamnya menjadi semakin buruk, ia tak bisa tidur karena memikirkan
Micky yang akan meninggalkannya. Dan akhirnya Raisa terlelap dengan air mata
yang masih membasahi pipinya. Wajah kecewa Micky mengantarkannya pulang. Ia
sadar Raisa sedih, tapi Raisa mencoba untuk tidak memperlihatkan kesedihannya.
Kata Maaf Terakhir
“Dan, gw nitip Raisa ya. Bagaimanapun
nantinya, gw harap lu orang yang akan jaga dia” pinta Micky ditengah kesedihan
yang melanda. Ia sengaja tak tidur. Karena ia ingin datang secepatnya ke
bandara di esok harinya.
“Maaf Mick, maksud
pembicaraannya gimana neh?”
“Gw tau kali Dan, dari awal lu liat Raisa. Lu
punya rasa sama dia. Please!” ungkapan Micky memang benar. Tak ada yang bisa
Dan lakukan selain meng-iyakan permintaan sahabatnya. Dan mulai memiliki beban
atas kepercayaan yang diberikan Micky kepadanya.
Pada jadwalnya, Micky akan terbang ke Jerman
pada pukul 9 tepat. Dan karena itu jam 7 tepat, Ghea melaju kerumah Raisa
terlebih dahulu sebelum ia pergi dan sang pacar mengantarkan Micky kebandara.
“Ghe, buat apa seh masih bicarain tentang dia?”
“Raisa, kenapa lu gak pernah jujur sama perasaan
lu? Faktanya Cha, lu sama Micky cocok”
“Terimakasih. Tapi gw gak bisa”
“Emang apa yang bikin lu ilfeel sama dia? Ini
Cuma masalah kecil yang terus lu besar-besarin”
“Gw emang sayang sama dia, bahkan sangat. Gw
juga mikir bagaimana kedepannya”
“Cha, sebuah hubungan itu kuncinya kepercayaan.
Gw yakin, Micky pasti balik. Kalopun gak, dia bakal bawa lu kesana”
“Gini deh, kalo lu suka sama dia lu aja yang
jadian sama dia”
“Terserah lu Cha, yang jelas gw Cuma kasih tau
lu Micky terbang ke Jerman jam 9 tepat nanti. Dan gw harap lu pikir-pikir lagi.
Karena Micky nunggu lu buat ngeliat dia untuk yang terakhir”
Karena Rajif telah menunggu didepan rumah Raisa,
Ghea bergegas pergi ke bandara. Raisa kembali memikirkan akan apa yang ia
lakukan sekarang. Apakah datang ke bandara? Atau membiarkan Micky pergi dengan
hati hampa?
“La, kok manyun gitu? Senyum dong” rayu Rajif
melihat sang pacar manyun-manyun sendiri.
“Gimana gak manyun, Raisa nya aja susah
dibilangin”
“Yaudah lah. Nanti dia juga bakal tau kok mana
yang bener”
“Udah yuk, takut sahabat-sahabat kamu nunggu
lama”
Micky telah stay dibandara dari jam 7 tadi
bersama Ricky juga Dan, jadwal terbangpun masih sekitar satu setengah jam lagi.
Harap-harap cemas pun timbul berharap agar Raisa bisa datang. Tak lama, Rajif
dan Ghea datang. Rajif tetap membiarkan pacarnya ngomel-ngomel sendiri, karena
jika ia lawan akan berdampak buruk juga baginya.
“Ghe, lu ngapain ngomel kek gitu? Jelek banget”
canda Dan.
“Itu tuh, Raisa. Masih aja keras kepala”
jawabnya.
“Emang dia kenapa Ghe? Gak mau datang ya?” cemas
Micky.
“Maaf ya Mick, kita gak bisa bawa dia kesini’
ucap Ghea menyesal. Micky menelan kekecewaan lagi. Dia benar-benar berharap
agar Raisa tak datang sekalipun.
“Ya udah lah. Gw kan masih terbang satu jam
lagi. Bentar lagi ada pesawat yang terbang. Nah, kalo dia datang bilang aja gw
udah pergi. Gw mau kebelakang dulu”
Micky menyendiri, melihat setiap kapal terbang
kian kemari layaknya harapannya yang terombang-ambing. Ia pun hanya melihati
jam tangan yang masih setia berdetak ditangannya. Sebenarnya, ia yakin bahwa
Raisa akan datang. Tapi entah kapan. Lupa dengan waktu, Micky tak menyadari
bahwa ia akan segera terbang ke Jerman. Para sahabat berpencar, bergegas
mencari Micky disetiap sudut bandara.
“Mick, pesawat lu mau terbang” sorak Ricky yang
menemukan Micky yang terlihat tak bersemangat. Ia tak kaget, karena memang ini
adalah waktunya. Micky dan Ricky pun bergegas ke pintu utama tempat Micky akan
masuk kedalam pesawat.
“Guys” mulai ada air mata yang membasahi pipi
Micky. Sama hal nya dengan apa yang terjadi dengan 3 sahabatnya.
“Gw minta maaf ya kalo selama ini gw banyak
salah sama kalian. Jara diri kalian ya. Diq, tetap jadi diri lu ya,
bagaimanapun keadaannya gw mau lu tetap menjadi Shodiq yang kocak” ucap Micky
menampar pundak Shodiq pelan.
“Ghe”
“Iya Mick” jawab Ghea lirih.
“Jaga Raisa ya. Gw titip salam buat dia”
“Pasti Mick”
Terdengar suara panggilan untuk semua penumpang
agar segera masuk kedalam pesawat, karena waktu hanya tinggal beberapa menit.
Sebelum masuk, para sahabat itu berpelukkan dengan erat dan membiarkan air mata
mengalir apa adanya. Berbeda dengan itu, Raisa harap-harap cemas dalam taxi,
berharap agar pesawat Micky belum terbang. Ia berlarian disetiap sudut bandara
mencari Micky, telah lama ia berlari tapi tak juga ia temukan. Akhirnya, ia
melihat dari kejauhan Ghea yang tengah berdiri disamping 5 sahabat yang tengah
berpelukan itu. Ia berusaha menyoraki, tapi suaranya terlalu pelan untuk itu.
Dan satu-satunya cara umtuk adalah mengejar kesana.
“Nyun” sorak Raisa yang tersisa jarak 10 meter.
Matanya merah akan air mata. Wajahnya penuh akan keringat perjuangan, dan
kalimatnya penuh dengan kekakuan. Micky mendengar ada yang memanggil panggilan
yang hanya dimiliki oleh Raisa. Dalam fikirannya, itu hanya khayalan semata.
Tapi ketika ia melepas pelukan sahabatnya, ia melihat Raisa berdiri dengan
harapan tak jauh dari dirinya. Raisa berlari kearah Micky dan spontan
memeluknya.
“Maafin gw ya Nyun, karena semalam gw bentak lu”
“Gw kali yang minta maaf. Jec, maaf ya buat
segalanya. Maaf karena gw udah bikin lu sedih, sakit hati, kesal, dan
lain-lain”
“Tapi lu jangan tinggalin gw. Trus gw sama
siapa?” tangisan Raisa pecah, permintaannya memang sangat wajar. Tapi ini
adalah harga mati yang harus dibayar Micky untuk orang tuanya.
“Katanya gak mau datang. Trus kenapa ada
disini?” celoteh Mick melepas pelukan Raisa.
“Gw sayang kali sama lu, makanya gw datang. Lu
mau gw nyesel seumur hidup karena gak kesini?
“Gak juga seh”
‘Diberitahukan kepada semua penumpang agar
menempati tempat duduk secepatnya. Karena penerbangan tinggal 3 menit lagi’
Terdengar panggilan kedua dari pusat suara yang
menyudutkan Micky untuk secepatnya masuk kedalam pesawat.
“Jec, gw harus pergi” air matanya pecah lagi
mengucapkan kalimat itu. Para sahabatnya hanya bisa menahan tangis.
“Janji, gw bakal balik lagi buat lu, dan buat
sahabat-sahabat gw” ada senyum yang terselip dalam air matanya.
“Tapi lu janji kan?” protes Raisa.
“Iya, gw janji”
Micky masih sempat memberi kecupan perpisahan
dikening Raisa. Akhirnya, ia terbang ke Jerman dengan perasaan yang lega. Para
sahabatnya, hanya melambaikan tangan sampai akhirnya Micky hilang dalam
penglihatan.
“Cha, Micky nitip ini buat lu” ucap Rajif
memberikan sebuah dus yang berisi barang-barang yang menjadi saksi ketika
mereka berdua. Ada photo-photo yang diambil ketika mereka hangout. Juga
photo-photo yang diambil Micky iseng ketika Raisa dengan pose anehnya. Ada
miniatur mobil yang mirip dengan Raisa. Menurut Rajif, itu adalah mobil yang
membuat Micky bertemu dengan Raisa walau dalam keadaan buruk. Dan masih banyak
hal yang diberikan Micky kepada Raisa. Photo-photo tersebut tal lupa Raisa
pajang dikamarnya yang bernuansa biru laut itu.
Senyum Micky masih menghiasi kehidupan mereka.
Raisa hanya bisa menunggu kehadiran Micky kembali. Diberi kepercayaan, Dan
memang membuktikan bahwa ia bisa menjaga kepercayaan Micky. Mulai antar-jemput
Raisa, hingga menemani Raisa kemanapun ia pergi. Sekali seminggu Micky tak lupa
menyapa sahabatnya memalui Skype. Karena Flo telah balik ke Jakarta, pada suatu
ketika, Ricky memperkenalkan Flo kepada Micky melalui Skype pribadinya.
Hubungan Ghea-Rajif makin romantis, karena setiap sekali 3 hari, Rajif
mengirimi bunga kesukaan Ghea kerumahnya. Dan Shodiq masih dalam pencarian cintanya.
***
The End
J J J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar