Sabtu, 01 Maret 2014

d'Reason



Dunia Baru

Biasanya setiap pagi Micky selalu mengajak Shodiq, Rajif, dan Ricky untuk jogging. Tapi entah kenapa pagi ini Micky merasa ada yang lain ketika Micky memutuskan pergi jogging sendiri, karna mereka telah kembali ke pulau kapuk setelah Shubuh tadi. Sepasang headset ia pasang ketelinganya dg suara maksimalnya dering musik. Micky cuek dengan tiga sahabatnya yang entah telah sampai alam mana saat ia jogging sekarang.
Ketika diperjalanan pulang, tak sengaja sepasang mata itu melihat sesosok yang membuat hati tenang. Ya, dia adalah Ghea. Cewek yang selalu ada dalam fikiran Micky akir-akir ini. Ia juga tak mengerti kenapa ia mendadak memikirkan cewek yang jelas-jelas adalah pacar sahabatnya, Rajif. Untunglah perasaannya ini tak terlalu, jadi Micky bisa menghadangnya dengan sigap.
Tiada hujan, tiada badai. Ghea mendekati Micky dan mengajak menemaninya untuk beberapa saat.
“Rajif mana?” Jelas, sebelum dia bertanya seperti itu Micky telah berfikir bahwa dia akan menanyakan pacarnya tersebut.
“Tadi selesai Shubuh dia langsung tidur lagi. Soalnya semalam begadang bikin tugas kita berempat” dengan cuek Micky menjelaskan ketidakhadiran Rajif pagi ini.
Selama satu jam lebih dua insan berjalan sambil berbincang-bincang hal-hal yang mulai dari lucu sampai menyedihkan. Disaat Ghea berbicara, Micky hanya terpaku melihat liukan bibirnya yang selalu menjadi bunga dalam setiap tidur Micky.
Dan akirnya mereka berpisah ketika jam telah menunjukan pukul 08:30. Disaat Micky kembali kerumah, (dimana rumah tsb hanya Micky dan 3 sahabatku yang mendiami) mereka masih setia menyulam mimpi diranjang mereka masing-masing. Dan kesempatanpun terlihat, Micky berinisiatif untuk membangunkan mereka dengan caraku. Memutar lagu One Direction yang selalu menjadi lagu andalan mereka disaat mereka dalam keadaan apapun. Tak berapa lama play, mereka mengeja setiap kata yang keluar dari lagu tsb tapi mata mereka masih dalam keadaan tertutup.
“Kalo One Direction aja pasti langsung berubah” berubah semua mata mereka beranjak ketika Micky mengucapkan kalimat tsb. Akirnya kesadaran mereka pulih.
“Sebenernya masih belum puas molor, tapi karna lu ngebangunin kita dengan lagunya One Direction makanya kita cepet bangun” ucap Rajif yang masih berebahan diranjangnya.
“Mandi yuk , kita pacu renang. Siapa yang kalah bikinin breakfast kita. Siapa berani?” Micky mengajak mereka melawanku berenang. Dimana kolam dalam rumah kami terletak dibagian tengah rumah kami.
“Dengan senang hati” serempak mereka bertiga menerima ajakan Micky. Mereka tak lupa berpacu menggapai kolam. Dalam hitungan 3 mereka telah siap diposisi masing-masing. Dan mereka saling mengejar posisi satu.
Akirnya Micky berhasil menjadi juara 1 dalam perloambaan ini, dan Rajif kalah dalam kesempatan ini. Sesuai perjanjian yang mereka setujui tadi, maka Rajif harus membuatkan mereka breakfast pagi ini.

***

Kring Kring Kring...
Ponsel Rajif berdering, karena Rajif masih dibelakang sedangkan ponselnya diruang makan bersama Micky, Shodiq, dan Ricky.
“Mick, ponselnya Rajif bunyi tuh. Lu cek deh. Mana tau ada yang perlu” Ricky menyuruh Micky mengangkat panggilan diponsel Rajif. Ketika Micky melihat ponsel Rajif, nomor baru yang tertera disana. Dengan terpaksa Micky menjawab panggilan itu. Micky terkaget ketika apa yang ia dengar adalah sebuah kabar baik. Seorang manager dari label perusahaan musik tempat mereka mengirimkan demo lagu yang mereka cover diterima oleh perusahaan tersebut. Micky langsung memanggil Rajif yang masih setia membuatkan yang lain breakfast. Dengan mudah ia meninggalkan pekerjaannya tsb.
“Jadi kapan kita kesana?” tanya Shodiq dengan semangatnya.
“Secepatnya” jawab Rajif singkat.

***

Dengan wajah penuh bunga, mereka melaju ke label musik yang menerima demo musik yang telah mereka kirimkan. Lebih tepat nama labelnya adalah MelonMusica. Sang manager langsung menyodorkan beberapa konsep tentang lagu mereka yang segera akan dibuatkan VC-nya.
Oh My God, it’s our dream. We make it come true.
“Baiklah, minggu depan VC kalian akan segera dibuat, diharapkan kepada kalian berempat agar bisa bekerjasama dengan baik dan datang tepat waktu” sang manager memberikan pengarahan kepada mereka berempat.
Belum apa-apa, disekolahan nama mereka menjadi melonjak layaknya angka pertumbuhan manusia dimuka bumi ini. Semua siswa yang berada di SMA 06 JAKARTA selalu mengelu-elukan nama mereka. Ada perasaan bangga pasti dalam diri mereka, juga perasaan risih saat jam pelajaran berlangsung mereka tak bisa mengikuti dengan kondusif seperti hal nya hari sebelum mereka menjadi seperti ini. Akirnya mereka menjadi selebriti yang masih belum tentu akan meledak atau tidak.
Sebelumnya, mereka adalah 4 anak cowok yang suka mengcover lagu-lagunya 1D. Entah itu lagu ngebeat atau slow, mereka selalu melakukannya. Seiring itu keberuntungan untuk mereka berempat bisa masuk dapur rekaman dengan background penyanyi cover. Ada risih sih sebenarnya, tapi kami tak melihat itu. Malah kami melihat bahwasanya penyanyi cover itu bisa lebih melejit dari penyanyi aslinya. Coba saja lihat Maddi Jane dan Megan Nicole, mereka adalah segelincir dari bukti bahwa penyanyi cover itu bisa melejit. Dan mereka akan membuktikan itu kepada dunia baru mereka ini.
Akirnya minggu yang mereka tunggu datang, saat dimana awal langkah mereka didunia musik dimulai. VC perdana ini mereka tak memakai model terkenal, mereka hanya bermodalkan wajah masing-masing dalam project awal ini. Tak lupa mereka saling mengingatkan hal-hal yang sengaja atau tidak yang mereka lakukan. Lucunya, yang banyak melakukan kesalahan adalah Shodiq. Karena disetiap scene, Shodiq tak pernah lupa untuk menyelipkan senyumnya. Scene tersebut adalah scene yang juga paling susah untuk Shodiq. Namun, karena ia serius dan mampu melengkapi scene tersebut dengan baik. Pembuatan VC yang berdurasi 03:55 itu hanya berlangsung 7 jam, itupun banyak kesalahan yang dilakukan Shodiq. Jika Shodiq tidak melakukan kesalahan, bisa saja dalam waktu 4 jam mereka menyelesaikannya.
“Gokil” ucap Micky singkat ketika mengingat hari ini, juga mereka bertiga masih tertawa selepas mereka. Shodiq cuek, dia juga ikut tertawa walaupun yang ditertawakan adalah dia.
“Bentar-bentar, yakin gak VC kita itu bisa menarik setiap orang?” Shodiq menghentikan tawanya, sebuah pertanyaan yang seharusnya setelah VC selesai ia lontarkan malah ia keluarkan sekarang.
“Yaelah Diq, VC kita kan baru selesai di take. Nanti kan diedit sama management, harus optimis VC kita bisa menarik banyak orang” Rajif menjawab pertanyaan Shodiq dengan dewasanya, walaupun sesungguhnya dia adalah member paling kecil.
“Bener Diq, ngapain kita mikirin itu sekarang? Mending kita mikir langkah kita selanjutnya kedepan. Apakah tetap jadi artis coveran? Atau kita keluar dari image cover tersebut?” lanjut Ricky. Shodiq mulai tenang mendengar jawaban dari para sahabatnya. Dan malampun menghilang saat pulau kapuk menyambut mereka dengan hangatnya.

***

Sinar mentari pagi yang tak ada tandingannya didunia kembali menggitari bumi, dengan awal senyum saat embun masih berderai didedaunan. Hawa dingin menjelang hangat terasa jelas, saat yang tepat untuk jogging. Mereka berempat akhirnya bisa jogging lagi, setelah satu minggu lamanya kami masih terpulas diranjang ukuran 1x3 meter ini. Mereka tak lagi mendengarkan lagu yang biasa mereka dengar, mereka fokus dengan apa yang mereka punya sekarang. Memang masih awam, tapi mereka berfikir bahwasanya vocal mereka tidak begitu jelek jika dibandingkan dengan para penyanyi dunia. Kembali, saat hendak pulang Micky sempat melirik kearah Ghea yang notabennya adalah gebetan sahabatnya. Faktanya saat itu, Rajifpun masih tak menyadari bahwa Ghea juga jogging, tapi berlawan arah dengan mereka. So, i make secret for my life. Apa yang  Micky kehendaki juga belum berpihak kepadanya.
Ghea menyadari bahwa seseorang tengah memperhatikannya, ketika ia melirik kearah Micky dia langsung mendatangi mereka yang sedang beristirahat dibawah pohon kecil nan rimbun.
”Aishhh, ada Ghea tuh” ucap Shodiq bercanda melihat kearah Ghea.
“Ghea?” Rajif melirik kemana mata Shodiq melirik. Tak lupa, Micky dan Ricky akhirnya memalingkan wajah kearah Ghea yang dengan seksinya berjalan kearah mereka mengusapkan handuk kecil kewajahnya. She looks so beautiful. Micky kembali terpana dengan wajah asri tersebut. Micky tak dapat melawan hasrat pria nya untuk memiliki Ghea. Tapi Micky kecolongan start sama si Rajif.
“Hey” ucap Ghea singkat mulai beranjak duduk disamping Rajif. Ada keresahan dimuka Rajif saat Ghea duduk disampingnya. Entah apa itu, tapi Micky merasa bahwa Ghea adalah cewek terbaik yang pernah Rajif temui selama ini. Tapi Rajif malah menyia-nyiakan kesempatan emas untuk bisa bersama-sama dengan Ghea. Seandainya yang diberi kesempatan itu Micky, ia akan menjaga kesempatan itu selama ia mampu menjaganya dan selama hidupnya.
“Eh, kita kesana dulu ya!” pinta Micky menunjuk kearah kolam kecil yang tak jauh dari tempat kami berada. Spontan Ricky dan Shodiq mengikuti langkah Micky, Rajif menatap kecewa sahabatnya yang mulai menjauh dari sampingnya.
“Berarti sekarang statusnya udah jadi artis ya?” sela Ghea tersenyum ke Rajif. Bingung, entah kepada Ghea bertanya sebenarnya. Karena satu-satunya orang disana adalah sang pacar, tapi dia tak menyelipkan nama Rajif dalam pertanyaannya.
“Mau nanya kesiapa?” tanya Rajif menatap Ghea tajam. Ada ketidaksukaan dalam diri Rajif yang tampak dari tatapannya. Ghea malu, akhirnya inisiatif lainpun datang. Tapi sebelum Ghea melontarkan kalimat selanjutnya, Rajif terlebih dulu mengisinya.
“Sekarang udah berapa orang yang kamu bohongi?” tanya Rajif meluapkan emosinya yang telah ditahannya selama 2 bulan ini.
“Aku tau kamu Ghea, aku ini pacar kamu. Tapi kamu gak pernah jujur sama aku. Aku bosan Ghea diginiin, kalo aja kamu jujur dari awal” Rajif menghentikan kalimatnya, ada kesedihan dan kebingungan dari wajah Ghea nan memerah itu.
“Maksud kamu apa? Sejak kapan aku bohongin kamu Rajif?” Ghea berbalik melontarkan pertanyaan kepada Rajif, Rajif telah tahu apa yang akan dikatakan Ghea, maka dari itu mudah untuknya menjawab pertanyaan itu.
“Pertama, sejak kapan kamu jadi anak kost-an yang minim akan uang? Kedua, kamu nyadar gak bahwa ada orang lain yang bahkan lebih menyayangi kamu dari aku?” ok, pertanyaan pertama mungkin mudah untuk Ghea menjawabnya, tapi untuk jawaban kedua?
“Jadi kamu ingin aku jujur?” tanya Ghea melemah. Hendak menjawab pertanyaan Ghea, Ghea lebih dulu mengambil tempat untuk menjelaskan semuanya.
“Memang, aku baru pindah ke kost sekitar 4 bulan yang lalu. Tapi aku ngakunya sejak awal sekolah disini. Aku bosan hidup dengan aturan busuk yang ayahku berikan. Putri raja tanpa teman, layaknya burung disangkar emas. Aku bisa melihat dunia seperti apa yang aku inginkan, tapi aku gak bisa menggapainya. Aku hanya terpaku disangkar kecilku itu. Dan dari itulah aku memilih keluar dari sana dengan melepas semua falisiltas yang ayah berikan kepadaku dan hidup dengan caraku sendiri” panjang lebar jawaban yang dilontarkan Ghea kepada Rajif, Rajif tanpa kedipan mendengar penjelasan yang diberikan sang pacar.
“Kedua, aku gak tau siapa yang lebih menyayangi aku dari kamu. Kamu musti tau, seberapapun besar cinta dia kepada aku, aku hanya ingin kamu” lanjut Ghea. Sontak, ada yang menyayat hati ketika Ghea mengucapkan kata tersebut. Telinga Micky terlalu tajam mendengar ucapan yang akan membuatnya merasa orang paling bodoh sedunia. Lemas, hanya itu yang bisa aia rasakan saat itu. Gila, kenapa Micky bisa memendam perasaan gila ini didalam jiwanya sampai sekarang. Bodoh.
“Tuan putri, kita itu beda masa. Saya harap anda bisa kembali kekeluarga anda yang dahulu. Cara anda mengubah hidup anda, ok anda berhasil. Tapi tidak untuk membohongi saya” Rajif masih mempermasalahkan status Ghea yang memang adalah seorang anak pemilik salah satu perusahaan rekaman musik terbesar di Indonesia ini. Sebenarnya, jika Rajif membicarakannya dengan baik mungkin tak akan ada emosi belaka seperti ini.
”Rajif, ok kamu membenci aku karena aku gak jujur sebelumnya sama kamu dan sahabat-sahabat kamu. Tapi itu aku lakuin karena ku gak ingin kalian perlakukan khusus nantinya, aku hanya ingin jadi orang biasa seperti kalian. Aku ingin berusaha dengan caraku sendiri, walaupun aku harus melepas segala kemewahan yang aku miliki” terkesan air mata mengalir dipipi Ghea. Emosinya meluap ketika harus menceritakan segala kehidupan suramnya dikeluarga besar Bramantyo.

***

Ketika perbincangan selesai mengenai status Ghea, Rajif dan Ghea akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Ikhlas, Ghea melepas Rajif. Rajifpun demikian. Tapi mereka tetap menjadi sepasang sahabat layaknya bunga yang membutuhkan matahari. 08:45, mereka mengajak Ricky dan Shodiq untuk balik kerumah. Ricky dan Shodiq tak lupa menjelaskan bahwa Micky telah duluan pulang karena tadi ia terlihat sangat lemas. Rajif menebak kenapa Micky sampai seperti itu? Dan itu adalah tebakan yang sangat tepat. Terlebih dulu 3 cowok tersebut mengantarkan Ghea ke kost-an nya yang tak jauh dari tempat mereka jogging. Setelah itu, barulah mereka kembali kerumah. Walau tanpa Micky diperjalanan pulang, tapi yang namanya gelak-tawa tak pernah lepas.
Ok, telah sampai dirumah. Tak terlihat jejak Micky didalam rumah tersebut. Semua barang masih seperti tadi, masih bersih tanpa sentuhan manusia. Heran, alasan yang dilontarkanpun tiba-tiba menjadi teka-teki. Inisiatif mencari Micky datang, dimanapun dan bagaimanapun caranya mereka harus menemukan Micky. Tak lama memang menemukan orang seperti Micky, karena belum sempat memegang ganggang pintu, Micky telah hadir dihadapan mereka semua.
“Darimana aja Mick?” tatap Shodiq ketus, karena khawatir sanga sahabat akan kenapa-kenapa.
“Mata lu sembab. Lu habis ngapain?” dilanjutkan dengan pertanyaan Ricky yang langsung
membuat Rajif berfikir panjang. Apakah tadi Micky mendengar pembicaraannya dengan Ghea? Micky hanya membalas senyum kepada sahabatnya tersebut.
“Tadi gw dapat telpon dari label, katanya kita besok jam 4 sore harus sudah ada di studio” jelas Micky yang benar saja mengalihkan pembicaraan dari sahabat-sahabatnya.
“Micky, jangan bahas itu dulu lah. Gw pengen dengar sedikit penjelasan dari lu, kenapa mata lu sembab? Trus lu darimana? Tantang Shodiq yang tak ingin ada pembahasan lain selain membahas keadaan Micky sekarang.
“Mungkin ngantuk aja kali Diq, thanks udah khawatir” jawaban singkat dan langsung langkah kaki Micky menuntunnya keruangan pribadinya. Masih ada sayatan yang terasa ketika ingatan tadi pagi ia ingat. Jelas sekali.
Rajif memendam kekesalan yang mulai tumbuh dihatinya. Ada ketidaksukaan saat Micky tak menjawab jujur pertanyaan sahabat-sahabatnya tadi. Tanpa fikir panjang, mereka juga berangkat keruang masing-masing dan kembali tertelap. Dikarenakan sekarang libur, tak ada batasan tidur untuk mereka. Malah mereka semakin siang semakin nyenyak. Ketika terbangun sekitar jam 14:30, ada 7 panggilan tak terjawab diponsel Rajif dengan nomor yang sama. Tak lain adalah sang pemilik label yang ingin bertemu dengan mereka.

***

Sesampainya di studio, sang pemilik telah berdiri tegap didepan pintu untuk menyambut artis baru tersebut. Adakah sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan? Mungkin ada.
“Bagaimana? Kalian suka dengan dunia baru kalian?” tanya sang pemilik label meletakkan secangkir teh panas yang baru selesai diteguknya. Mungkin mereka belum mengetahui bahwasanya sang pemilik label adalah ayah dari Ghea, yaitunya pak Bramantyo. Mereka hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman kecil.
“Mungkin saat ini kalian harus mempunyai manager untuk me-manage jadwal kalian kedepan. Karena saya lihat, sudah ada 30 undangan manggung untuk kalian sampai akhir tahun ini” lagi-lagi, mereka terpana dengan apa yang diucapkan oleh pak Bramantyo. Nyatanya, keberuntungan tengah berpihak kepada mereka. Tak lama, sebuah nama terlintas difikiran Micky. Ghea, ya memang hanya Ghea yang bisa menjadi manager mereka.
“Kami sudah menemukannya pak” jawab Micky penuh semangat. Wajah melongo 3 sahabatnya terpampang menatapi Micky yang tengah senyum-senyum sendiri. Bingung, karena mereka belum tahu siapa yang dimaksud Micky. Tapi, mereka hanya bisa mengikutinya untuk saat ini.
“Baiklah, saya tunggu kedatangan kalian Rabu sore disini. Juga dengan manager kalian” akhirnya pertemuan itupun berakhir. Pak Bramantyo memang adalah orang yang sangat mewah. Tangannya tak pernah memegang ganggang pintu mobil. Selalu ada asistennya yang setia. Itulah yang membuat Ghea memutuskan untuk keluar dari rumah. Karena ia tak dapat melakukan apapun.
Tak ada pertanyaan yang terlontar ketika Micky dengan mahirnya mengendarai mobil. Masih, hanya tatapan bingung dan penasaran yang ada dalam jiwa 3 sahabat Micky. Micky juga tak ingin menceritakan itu kepada sahabatnya, karena ia hanya akan menceritakannya ketika mereka telah sampai dirumah. Karena jam telah menunjukkan pukul 17:30 WIB, 4 sahabat itu langsung menuju rumah. Selesai mandi dan shalat, waktu makan malam datang. Dan disaat itulah Micky menceritakan semua.
“Apa?” teriakan itu keluar serempak keluar dari mulut 3 sahabat Micky yang masih berisikan makanan.
“Ghea? Kenapa harus Ghea?” tiba-tiba pertanyaan bodoh keluar dari mulut Rajif. Hal yang tak
diketahui oleh sahabat-sahabat Rajif adalah statusnya yang sekarang telah single sama seperti sahabatnya.
“Kan gak apa Jif. Pertama, dia pacar lu. Kedua, kita bisa bantu dia kan untuk biaya hidupnya. Dan yang paling penting adalah, kita bisa bekerja dengan orang yang dekat dengan kita dan bisa kita percayai sepenuhnya” jelas Micky yang memang tak mengetahui apa yang telah terjadi dalam dunia nyata ini.
“Micky, bukan masalah gw pacaran sama dia atau ngak. Tapi, dia itu cewek. Gak mungkinlah kita punya manager cewek. Lagian ya, dia kan punya banyak uang. Ngapain juga kita make jasanya dia” keceplosan, tanda tanya besar keluar dari otak 3 sahabat Rajif. Apakah yang tengah dibicarakan Rajif?
“La, kok lu ngomong kek gitu sama Ghea Jif? Dia kan pacar lu. Trus soal uang lu darimana tau kalo dia banyak uang? Dia kan gak ada orang tua” dengan polos, Shodiq memberi pertanyaan yang telah Rajif susun rapi jawabannya. Mati. Apakah ini saatnya untuk jujur? Akhirnya Rajif dengan terpaksa mejelaskan segala sesuatunya yang telah ia ketahui dari awal.
“Ok, mungkin ini saatnya menceritakan kepada kalian tentang Ghea. Pertama, gw udah gak ada hubungan sama dia. Kedua, Ghea adalah seorang anak pemilik salah satu label musik terbesar di Indonesia” penjelasan yang mewakili semuanya. Micky, ada perasaan senang dan kecewa.
“Jadi, buat lu Mick. Lu ada kesempatan untuk mendapatkan Ghea” serasa ditampar sahabat sendiri. Micky tak dapat mengatakan apa-apa. Hanya wajah tegar yang bisaia perlihatkan. Micky memang mengetahui jikalau perasaannya memang sangat rahasia, dan karena itulah Rajif mudah untuk menebak perasaan Micky yang memang benar adanya.
“Maksud lu apa Jif?” Micky bertanya seolah-olah tak mengetahui arah pembicaraan Rajif. Micky mulai tak nyaman dengan suasana saat itu, hanya satu hal yang ia fikirkan saat itu, yaitunya keluar dari ruangan suram itu untuk mencari secercah ketenangan yang mungkin akan ia dapat jauh dirumah itu. Tujuan utama Micky saat itu adalah puncak rumah yang ia pijak saat itu. Dengan tegapnya ia bangkit dari kursinya untuk melaju cepat kearah genteng dan meninggalkan sejumlah pertanyaan diwajah para sahabatnya.
“Micky” sorai Rajif yang masih menyimpan sejumlah fakta yang harus ia ceritakan kepada Micky. Tapi Micky tetap melanjutkan langkahnya untuk melaju tujuannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat itu.
Tak lama, Micky telah sampai digenteng tujuannya. Ia terebah diatas genteng dan menatap kedinding bumi nan gelap dan dilengkapi cahaya kecil yang berserakan disana. Mulai ada sinar yang menerangi jiwanya yang gelap karena gumpalan emosi, hirupan nafas yang tenang menjadikannya menjadi lebih tenang. Tangan kecilnya menari-nari menghitung bintang yang berserakan, sebenarnya hal itu tak akan selesai karena bagaimanapun bintang tersebut susah untuk dihitung. Hendak kembali kekamar, kakinya yang kokoh tiba-tiba tergelincir dan saat itu juga ia terjatuh. Ada teriakan yang sampai ketelinga 3 sahabat Micky, langsung mereka memasang ancang-ancang keluar. Dan apa yang mereka temukan? Micky yang sedang kesakitan, yang sedang mengeluh karena baru saja jatuh dari atas genteng rumah. Beruntung, sekelompok rumput 3 senti meter yang menyambut Micky jatuh ketanah. Jika tidak, ia akan langsung dilarikan kerumah sakit. Khawatir, mereka membimbing Micky kekamarnya.
“Lu gak apa Mick?” pertanyaan dasar yang jika seorang terkena musibah dikumandangkan. Tak ada jawaban yang terlontar, hanya sebuah senyuman terpaksa yang ia beri kepada sahabatnya. Rajif yang tadi mempunyai kekesalan kepada Micky, kini luluh karena sang sahabat yang tengah kesakitan. Memang malam itu rumah ditutupi awan gelap, tapi tak berlangsung lama karena solidaritas mereka jelas terlihat sekalipun mereka tengah ada hal buruk yang tak bisa untuk dibicarakan.

***

“Lu udah baikan Mick?” nada lembut itu keluar dari mulut Ricky yang duduk tepat dihadapan
Micky pagi itu diruang makan. Ricky tak pernah lelah untuk menjadi malaikat tanpa sayap untuk para sahabatnya, karena dibalik sosok yang dewasa, Ricky juga mempunyai banyak masalah dalam hidup yang telah terbiasa ia lalui dengan indah. Lain halnya dengan Shodiq yang notabennya yang paling tua, ia adalah orang yang mudah senyum dan juga paling parno-an ketika ada sesuatu terjadi. Contonya, saat malam ketika Micky jatuh dari genteng. Ia adalah orang yang sangat khawatir dengan keadaan Micky. Namun hal lain ditunjukan Rajif, ia lebih menjukkan sikap jutek tapi penuh perhatiannya kepada para sahabatnya. Mungkin bukan lewat kata-kata, tapi melalui setiap perbuatan yang ia bisa lakukan untuk para sahabatnya.
“Lumayan seh. Makasih banyak untuk bantuan kalian” balas Micky memegangi pinggangnya yang masih terasa sakit tapi mulai baikan. Pinggangnya yang menjadi titik korban jatuhnya tubuh tegapnya kerumput semalam, membuatnya harus berdiam dirumah sejenak. Menghilangkan aktivitas, termasuk sekolah dan dunia barunya. Hal itulah yang disayangkan, karena Micky mempunyai daya tarik tersendiri disekolah. Mungkin banyak yang tak suka karena ia mampu lebih cepat dekat seorang wanita dibandingkan yang lain, karena itu juga susah untuk Micky mendapatkan satu cinta seperti yang ia inginkan.
Akhirnya kelas dihari Selasapun terasa sepi, tak ada lagi yang bisa diganggu. Shodiq hebat dalam melucu, tapi itu tak akan berhasil jika tanpa seorang Micky. Terpaksa dengan sangat, Shodiq menutup semua gurauannya pada hari itu. Setelah satu jam pelajaran sang guru tak datang, Shodiq menjangkau ponsel yang ada dikantongnya dan segera menghubungkan keseberang sana yang tak lain adalah nomor Micky. “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silahkan coba beberapa saat lagi” suara seorang perempuan dari call-center mengingatkan bahwa nomor Micky saat itu tak bisa diakses. Karena Micky me-nonaktif-kan ponselnya agar ia bisa istirahat dengan tenang dan bia segera sembuh. Ghea terlihat berdiri menunggu seseorang didepan pintu kelas Rajif, entah siapa yang ia tunggu saat itu, Rajif hanya memandangi sang mantan dari dalam kelas. Tampak Ghea masih gelisah menunggu kedatangan orang yang ia tunggu. Tak sengaja ketika menoleh kekelas Rajif, Ghea mendapati lemparan tatapan dari Rajif sangat tajam kepadanya. Hanya sebuah senyum kecil yang ia beci kepada Rajif dan beranjak.
“Diq, seharusnya Micky datangkan sekarang? Untuk membicarakan hal semalam ke Ghea. Tapi kayaknya kita deh yang harus bicara ke Ghea supaya Ghea bisa menerima ajakan kita” Ricky menyarankan agar perihal manager biar ia dan Shodiq yang membicarakan. Wajah seriusnya menatap Shodiq dalam-dlam seolah memberi isyarat bahwa mereka harus berhasil, tidak boleh tidak. Berlatar kantin yang super rame dikunjungi masyarakat sekolah, dua sahabat itu mengambil jalan tengah akan menemui Ghea sepulang sekolah ini atau setelah mereka selesai bernostalgia dengan nasi goreng pedas dan teh es. Ya, waktu yang tersisa setelah makan ada 30 menit lamanya. Ancang-ancang menemui Ghea menjadi kenyataan, dan dengan mudah Ghea ada waktu untuk berbicara dengan mereka berdua.
“Ok, kalian mau ngomongin apa?” Ghea seolah-olah memberi isyarat bahwasanya ia tak punya banyak waktu. Ia dengan seksama mendengarkan sebuah ajakan dari Shodiq dan Ricky. Hanya ada perasaan bingung dan gelisah ketika ajakan itu berakir diucapkan. Ghea yang pada dasarnya adalah ketua majalah sekolah tak mempunyai banyak waktu, apalagi untuk me-manage 4 orang cowok itu.
Ada sisi positif yang ia dapatkan, yaitu bisa meliput banyak dunia baru 4 sahabat itu. Tak hanya itu, ia juga akan banyak kesempatan besar untuk meliput artis-artis besar di Indonesia ini.
“Besok sore kita bakal pergi ke studio dan ngenalin lu ke owner. Supaya mereka ngizinin langkah kita ini” akhirnya Shodiq langsung mengatakan jadwal untuk Ghea yang segera akan dikenalkan dengan pemilik label MelonMusica. Kesalahan, mereka lupa untuk menyebutkan nama label musik yang sekarang tengah menjadi ladang kesuksesan untuk mereka.
Kring... Kring... Kring...
Suara bel besi tua masih setia menjadi alarm para siswa untuk menandakan setiap pelajaran akan dimulai, istirahat, dan waktu pulang. Semua siswa SMA 06 JAKARTA berbondong menuju satu pintu keluar dari kepenatan yang selalu menjadi hantu ketika ada pelajaran yang tak mengasyikan, ketika tugas menjadi lawan, dan ketika sebuah kisah tertulis dengan kegelapan. Tak jauh berbeda dengan pasar. Bising, suara knalpot keras yang siap memecahkan gendang telinga, suara tawa disetiap sudut genk, setiap pembajakan terhadap anak-anak kutu buku dan tentunya cupu. Itu semua adalah dunia. Dunia dimana 4 sahabat itu menimba ilmu,mereka beruntung tak mengalami hal terakhir yang disebutkan, malahan mereka adalah orang yang sangat dielukan disetiap kelas dan ruang guru. Suara mobil yang sekarang diambil-alih oleh Shodiq sangatlah tenang, tak akan mengganggu pendengaran, tak sama dengan motor anak-anak remaja zaman sekarang yang lebih mementingkan kesenangan sendiri daripada keadaan disekitarnya. Karena Micky tengah dalam keadaan sakit dan harus beristirahat dirumah, Ghea dengan kekeh menawarkan diri untuk melihat sekilas keadaan Micky. Rajif masih menutup kata untuk sang mantan pacar. Tapi Ghea tahu, bahwa Rajif masih memainkan bola matanya untuk sekejap melihat wajahnya. Keadaan didalam mobil tampak sunyi walau ada 4 manusia didalamnya, Ricky dengan asyik menantang sepasang headsetnya bermain digendang telinganya, sedangkan Shodiq fokus dengan stir, dan Rajif serta Ghea masih tampak seperti anak baru masuk SMA mencoba untuk saling mengenal tapi perasaan malu menghantui.
“Jif, emang Micky kenapa? Kok sampe sakit gitu?” tiba-tiba sambaran petir menghantar daun telinga Rajif. Semakin kesal, karena Ghea lebih menanyakan Micky daripada keadaannya. Biar bagaimanapun, Rajif malah tak merespon pertanyaan yang dilontarkan oleh Ghea tersebut.
“Semalem tu dia kan lagi ada diatas genteg Ghe, trus gak tau kenapa kkami ngedengar dia lagi teriak kesakitan diluar. Eh pas kami kesana, ternyata Micky yang udah memegang pinggangnya yg kesakitan” jawaban keluar dari mulut Ricky. Sebenarnya, Ghea lebih berharap agar Rajif yang menjawab, tapi Ricky lebih dulu mengutarakan penyebab Micky sakit hari ini dan tak menghadiri PBM. Sedikit lega, karena ada jawaban walaupun bukan dari orang yang diharapkan.
Akhirnya, mobil biru langit itu sampai didepan rumah dan langsung memasuki garasi. Ghea masih menunggu aba-aba untuk segera masuk. Ketika Ricky mengajaknya untuk masuk, barulah kakinya melangkah hati-hati kedalam rumah tersebut. Yang ia saksikan saat pertama masuk kedalam rumah tersebut adalah pajangan foto berukuran 2R sampai 10R. Foto 4 sahabat yang sangat intim dan sangat tak bisa melihat kedekatan mereka. Pandangan terpana jelas ditunjukan Ghea. Bagaimana tidak? 4 cowok itu adalah orang yang beruntung yang bisa menemukan kecocokan antara sahabatnya yang lain. Fikiran dewasanya menjelaskan ketika mereka ada dalam masalah, pasti mereka bisa melalui itu semua secara bersama, termasuk juga cinta. Alah, itulah masalah yang sekarang tengah Rajif simpan dengan baik. Masih terlalu dini menyampaikannya ke Micky. Jika sekarang, persahabatan tersebut hanya akan tinggal pajangan.
Selanjutnya, Ghea dan 3 sahabat itu beralih kekamar Micky yang berada disudut rumah paling belakang tapi adalah kamar favorit, karena 3 sahabat Micky banyak menghabiskan waktu disana untuk bersanai-santai, bercanda, ataupun bercerita hal sedih yang bisa menguras air mata mereka.
Ketokan pintu dari luar tak menjangkau indera pendengaran Micky. Ia masih lelap. Matanya terlalu kuat untuk dibuka. Beruntung pintu tak terkunci, jadi mereka bisa masuk kekamar Micky tanpa harus membuat kerusuhan. Entah kenapa, Ghea merasa tenang melihat Micky yang tidur dengan lelap. Mungkinkah ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dalam diri Ghea? Mungkinkah ia merasa hal yang sama ketika bersama Rajif? Mungkinkah ia merasa sesuatu itu adalah... Rancu, Ghea langsung memperoleh tempat disuatu kursi yang ada disamping ranjang Micky. Mencoba untuk biasa saja dihadapan sang mantan dan 2 sahabatnya, agar tak ada kecurigaan dan menumbuhkan kekecewaan. Mengeliat kearah Ghea dan 3 sahabatnya, Micky terkejut saat membuka mata. Matanya berubah seperti bola bekel, besar dan terkejut.
“Kalian kapan disini?” tanya Micky mengucek bola matanya yang sangat tak enak untuk disaksikan. Apalagi ada seorang malaikat hatinya disana.
“Maaf, tadi kami udah ketok pintu, tapi gak ada jawaban. Yaudah, karena pintunya juga gak dikunci, kami berempat akirnya masuk aja” jelas Ghea dengan tenang.
Tanpa ada kata, Ricky dan Shodiq keluar ruangan. Entah mereka mengetahui atau tidaknya hubungan tersebut. Rajif, tak enak dengan suasana saat itu, ia juga keluar ruangan. Mungkin ada hal yang akan dibicarakan Micky dan Ghea selain mengenai hari esok.
“Langsung saja ya Mick, aku gak tau aku bisa atau gak, tapi sepertinya aku gak bisa jadi manager kalian” pernyataan Ghea berbalik ketika ia mengiyakan ajakan Shodiq dan Ricky waktu itu. Micky memasang wajah lesu tepat dihadapan wajah Ghea.
“Kenapa gak bisa Ghe? Kami cuma bisa ngandelin kamu. Gak ada orang lain yang bisa kami percaya selain kamu” Micky berusaha meyakinkan Ghea agar mau menjadi managernya dan sahabat-sahabatnya. Sepasang ata Ghea menagkap tatapan Micky, ia membalas dengan tajam tatapan Micky meyakinkan bahwa memang ia tidak bisa. Tapi Micky tak henti berusaha untuk meyakinkan Ghea untuk mengiyakannya.
“Ghe, ayolah Ghe. Kami butuh orang sepertimu. Hanya kamu yang akan bisa me-manage jadwal kami” sekali lagi, Micky masih meyakinkan Ghea. Masih, dan masih.
“Ok-ok, aku coba. Tapi untuk satu bulan ini aku masih belum resmi ya jadi manager kalian. Aku cuma masih jadi manager yang masih ditraining ceritanya ya?” deadlock, Ghea menerima tawaran tersebut. Refleks, Micky memangku tubuh mungil tersebut dengan senang seolah sakit yang ia dapat telah sembuh setelah mendengar ucapan terakhir dari Ghea. Ghea pasrah. Tersadar, Micky melepaskan pelukannya. Dengan malu dan wajah memerah Ghea berlari kecil keluar dan meninggalkan sesosok tubuh yang masih memandangnya sampai akhirnya hilang dari pelupuk matanya.
“Gw pulang duluan ya. Gak ush dianter, deket cuma kan?” dengan nada tergesa Ghea berlari keluar rumah tersebut. Berbeda dengan Micky, mereka malah menyimpan banyak kebingungan. Akhirnya tersebut kembali kesuasana semuala, dimana hanya ada 4 cowok dan tanpa seorang wanita.
Rajif sibuk mengotak-atik laptopnya untuk mencari folder dimana banyak kenangan yang ia ciptakan dengan Ghea sebelum ada akhirnya memutuskan untuk menjadi sepasang sahabat. Ia memandangi wajah bahagia, manyun, dan sedih sang pacar juga diberngan foto-foto para sahabatnya. Ricky tanpa Shodiq datang dan setengah meter dari Rajif melihat sekumpulan foto mereka bersama, ia juga melihat ada selipan foto-foto Rajif dan Ghea ketika masih bersama.
“Jif, lu masih punya harapan untuk kembali sama Ghea Jif. Lu harus pertahanin perasaan lu. Lu udah dewasa Jif, lu punya jalan sendiri untuk kisah lu yang satu ini” bisikan kecil ditelinga Rajif yang membuatnya terhentak seakan menjadi cahaya untuk masa depannya. Tapi itu hanya akan menjadi perkataan, karena hal itu tak akan pernah ia lakukan.
“Rick, gw sayang sama Ghea, bahkan sangat Rick. Tapi gw gak bisa lagi ngelanjutin itu semua kalo seandainya gw bikin sahabat gw sakit hati Rick”
“Jif, kita semua sayang sama lu, juga Micky. Jika lu emang gak mau balik sama Ghea lagi, apa lu siap dengan resikonya?” Ricky menegaskan bahwa ia siap mendukung Rajif berbalik dengan Ghea.
Masih dalam pembicaraan, Micky dan Shodiq masuk kekamar Rajif yang telah ada didalamnya Ricky. Terlihat ada pembicaraan serius antara Ricky dan Rajif.
“Kalo mau masuk itu, ketok dulu pintunya bisa ndk?” jelas sekali sindiran Rajif kepada Shodiq dan Micky. Itu adalah sindiran pertama Rajif kepada para sahabatnya. Sangat menuruk perkataan tersebut, sehingga Shodiq berbalik arah keluar.
“Yaudahlah Mick, gw keluar aja lah” suara Shodiq melemah berbisik kepada Micky. Wajahnya tertunduk sayu menatap lantai. Rajif merasa sangat tak enak, karena ulah perkataannya Shodiq merasa tak dihargai lagi. Biasanya, mereka tak pernah meminta izin untuk masuk kekamar yang lain. Walaupun apa yang dilakukan yang lain sangat privasi.
”Baru 3 minggu jadi seorang penyanyi, tapi udah lupa sama daratan kayaknya. Ah, gila. Sahabat sendiri sampai digituin. Malunya dimana?” berbalas Micky menyindir Rajif dengan lantang. Rajif diam, karena apa yang dikatakan Micky memang benar adanya. Yang hanya bisa ia lakukan adalah kembali menantang layar monitor didepannya, walaupun sebenarnya rasa lesu juga menghampirinya.
“Mick, lu apaan sih Mick? Lu yang bikin semua jadi berntakan kayak gini?” perkataan Ricky sangat melenceng jauh dan membuat Micky mengerutkan keningnya. Mulai keruh suasana malam itu karena diawali sikap Rajif yang berlebihan.
“Iya, lu yang bikin Rajif kayak gini. Coba aja lu gak nyimpan rasa sama Ghea, pasti Rajif gak bakalan kek gini” plak, Micky serasa ditampar keras oleh kelanjutan perkataan Ricky. Ia mulai mengerti akan sikap Rajif yang akir-akir ini mulai dingin kepadanya. Berusaha mencerna setiap kalimatnya, akirnya dengan berat hati ia menjawab
“Rajif, gw emang suka sama Ghea. Bahkan sebelum lu mengenal dia. Gw juga udah tahu latar belakang dia, jauh sebelum lu mengetahuinya. Sekarang, apa salah gw berharap gw bisa dapetin dia? Apa salah gw nyimpan perasaan ini”
Segumpal tangan melekat dipipi Micky. Keras, sangat keras. Sehingga ia terebah kelantai kamar Rajif yang bersih.
“Diam lu Mick, gw gak pengen denger apa-apa” Rajif dengan lantang menyuruh Micky menghentikan perkataannya. Air itu telah tergenang dikelopak matanya, belum sampai mengalir. Tangannya bermain-main di depan mata Micky. Ricky yang tadi tengah duduk berusaha mencegah perkelahian itu dengan menahan tubuh Rajif.
“Udah lah Jif, tenangin fikiran lu. Jangan biarin fikiran kotor lu ngebuat persahabatan kita jadi ancur kek gini” tahan Ricky memegang pundak Rajif yang bidang.
“Kenapa? Apa setelah lu nonjok gw, gw bisa gitu aja ngelupain perasaan gw? Lu bisa aja berkali-kali lakuin itu ke gw Jif, tapi berapa kalipun lu coba untuk menahan perasaan gw, maaf besar Jif” Micky akirnya berani mengucapkan kata-kata tersebut, kata-kata yang telah dipersiapkannya ketika ada suasana seperti ini.
“Ok, lu berdua baru berantem? Silahkan. Gw keluar” emosi Ricky meledak, cuek ia melangkah keluar dari kamar Rajif dan membiarkan 2 sahabatnya itu berantem. Walau pada akirnya 2 sahabatnya pun menghentikan pertengkaran yang tiada habis itu.
“Jif, mungkin emang gak mudah buat lu. Gw juga Jif. Lu fikir setelah lu putus sama Ghea gw langsung aja gitu nembak dia? Gak Jif. Bahkan gw pengen ngelupain perasaan gw ini Jif ke dia, walaupun susah” suara Micky melemah dikeheningan yang memecah suasana. Mungkin hanya ada satu perasaan yang mewakili perasaannya saat itu, sedih. Dan sosok Micky pun menghilang, ia berbalik menjauh dari kamar Rajif dan menyusuri lorong ruangan menuju kamarnya. Tak disangka, hanya karena seorang perempuan yang datang entah darimana, persahabatan yang dipupuk dari kelas 1 SMP itupun berantakan tak berirama. Apakah ini Ghea menentukan pilihan? Siapakah yang akan ia pilih sebagai kekasihnya? Benarkah Micky ingin melupan perasaannya?

***























Bad Effect

Hari yang ditunggupun datang, hari dimana Ghea akan menandatangai kontrak pertamanya, hari dimana Ghea akan menemukan banyak masalah untuk hidupnya, hari dimana Ghea akan melihat ayahnya lagi setelah satu tahun belakang tak pernah ia temui. Berlapiskan dres putih dengan bawahan hingga lutut dan ditambah dengan sniker hill 3cm menjadikannya lebih anggun, tak lupa wajahnya yang cantik hanya butuh polesn sedikit untuk benar-benar terlihat menawan. Rabu sore tersebut, Rajif dan Micky sengaja tak diizinkan Ricky untuk ikut sebelum permasalahan diantara mereka berdua selesai. Langkah yang dewasa, tapi seharusnya mereka ikut karena akan banyak sekali hal yang dibicarakan mengenai ini dan nantinya akan ada diskusi lebih lanjut tentang project kedepannya.
Saat mereka tlah memasuki ruang pak Bramantyo, beliau belum ada diruangannya. Beliau hanya meninggalkan pesan kepada sang sekretaris untuk menyampaikan bahwa ia akan sedikit telat untuk datang karena ia ada meeting penting dengan pemilik saham dari luar negeri. Dan saat yang menyebalkan datang, saat dimana menunggu menjadi bayangan gelap. Disaat ketidakpastian dan harapan mendekap, ketika hendak sampai, lenyap dan membuat kesedihan yang mendalam.
Ketika Ricky dan Shodiq berada di studio untuk membicarakan kontrak Ghea, Micky dan Rajif masih dingin untuk bersapaan. Tak ada kalimat yang keluar, bahkan senyumpun sulit untuk mereka lemparkan satu sama lain. Diruang tengah itu, mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Rajif yang sibuk dengan laptop masih dengan hal sama seperti yang ia lakukan semalam. Sedangkan Micky, serius dengan lirik-lirik baru yang berkemungkinan besar akan dia ajukan ke label untuk dijadikan lagu selanjutnya, dan akan keluar dari background “PENYANYI COVERAN”. Lirik pertama yang ia ciptakan adalah “Jarak Kita”, sebuah lirik yang menceritakan tentang persahabatan anak-anak manusia tapi karena hal kecil semua berantakan, hancur tak bersisa bagai selembar tisu yang diguyur panasnya hujan api.
Ghea merasa familiar dengan ruangan yang ia masuki dengan Ricky dan Shodiq tersebut. Berasa ruangan tersebut pernah ia masuki atau bahkan ruangan itu sama persis dengan selera seseorang yang pernah ia kenal. Ia masih meraba-raba ingatannya, belum ada jawaban yang bisa ia dapatkan dari semua itu. Tapi kembali lagi, bukan itu yang harus ia fikirka sekarang, tapi bagaimana caranya meyakinkan sang pemilik label bahwa Ghea yang akan menjadi manager Shodiq dan para sahabatnya. Blank, tiba-tiba sang owner datang. Wajah Ghea tertagun tercengang melihat orang tersebut. Ya, dia adalah ayah Ghea. Hal yang sama juga terjadi pada sang ayah. Sang ayah masih mengingat jelas wajah sang anak yang telah satu tahun meninggalkannya tanpa kabar.
“Papa, papa ngapain disini?” pertanyaan yang dilontarkan Ghea membuat tanda tanya besar dikening Shodiq dan Ricky. Mereka benar-benar tak tahu alur sekarang.
“Ghea, satu tahun kamu ninggalin rumah bukan berarti papa harus berhenti berinvestasi kan untuk kamu? Papa bahkan dengan semangat melanjutkan pembangunan studio ini. Sebelumnya papa gak pernah kan ceritain sama kamu tentang ini. Karena ini adalah nantinya untuk kamu. Untuk msa depan kamu” pak Bramantyo menjelaskan dengan detail pertanyaan dari Ghea.
“Maaf sebelumnya pak jika kami berdua lancang. Apakah bapak dan Ghea saling mengenal?” Shodiq mengambil alih pembicaraan. Itulah pertanyaan yag harus ia keluarkan saat itu. Hanya pertanyaan itu yang ada sebelum merek benar-benar masuk ke kontrak yang sebenarnya.
“Hmm, saya yang seharusnya minta maaf karena saya telah mengulur waktu kalian banyak. Dan bahkan sekarang saya tidak berbicara dengan kalian, malah dengan anak saya” pak Bramantyo menjawab pertanyaan Shodiq dengan semangat, semangat karena sudah tak lama bertemu dengan Ghea sang anak tercinta.
“Apa? Anak?” serentak Ricky dan Shodiq berteriak kaget dengan pernyataan tersebut. Pernyataan yang akan membuat dampak positif untuk masa depan mereka tentunya. Pak Bramantyo akhirnya menyuruh tiga anak remaja tersebut bersantai digumpalan gabus yang dilapisi oleh jehitan benang empuk didepan meja pak Bramantyo. Ghea mulai tak nyaman, Ghea merasa sang ayah akan membujuknya untuk balik kekandng harimau itu. Kandang yang selalu menguncinya. Kandang yang tak pernah membiarkannya melakukan pekerjaan apapun. Lama, dan telah lama berbincang, akirnya sampai diinti pembicaraan.
“Jadi kalian mengajak Ghea menjadi manager kalian?” tanya pak Bramantyo mulai serius dengan project yang akan dijalaninya dengan 4 cowok remaja didunia baru merek ini.
“Iya pak” jawab Ricky singkat, jelas, dan padat.
“Apa dia setuju?” kembali pak Bramantyo bertanya untuk meyakinkankan 2 sahabat itu.
“Pertama kita tawarkan ia setuju, mungkin pas bertemu bapak ia bahkan sangat setuju” jawaban yang sangat melenceng dari Shodiq.
“Gak, aku gak setuju. Sekarang juga aku gak akan mulai pekerjaan ini” Ghea menyusul jawaban Shodiq dengan lekas.
“Maaf pa. Aku gak bisa kerja kalo sistemnya kayak gini” lanjut Ghea berdiri dan mencoba untuk meniggalkan ruang pak Bramantyo.
“Ghe, kenapa kek Ghe? Jangan anggap pak Bramantyo papa lu, lu jadi gak nyaman kek gini. Anggap aja kita bekerja sama orang lain Ghe” Shodiq mencegah Ghea yang mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Ok, Ghea berlanjut melangkahkan kakinya keluar. Akhirnya pertemuan hari itupun selesai setelah Ricky dan Shodiq mengejar ketertinggalan mereka dari Ghea. Pak Bramantyo hanya menyaksikan peristiwa hari itu dengan senyuman kecil. Ia yakin bahwa penyanyinya akan membawa anaknya beserta tanda tangannya. Dan pak Bramantyo hanya mengirimkan pesan singkat ke ponsel Ricky yang berisikan ”mungkin saya akan memberi kabar pertemuan selanjutnya, kalian harus berusaha membujuk Ghea untuk masa depan kalian nantinya”. Ricky tak membalas pesan tersebut, karena ia sibuk mengejar Ghea yang memiliki kecepatan lumayan lebih untuk jangkauan seorang perempuan.

***

“Ketika sahabat tengah bahagia, disana canda dan tawa pecah
Ketika sahabat tengah bersedih, disana tangisan menemani semua
Atap ini tak akan melindungi kita dari bahaya,
Tapi, sahabat punya itu semua

Kenapa sekarang kita berjarak sekarang?
Kenapa kita mempermasalahkan
Perihal yang tak penting untuk dipertengkarkan?

Aku tahu apa yang akan menyelesaikan semua
Aku berusaha untuk menatanya kembali
Kawan,
Jika nanti aku kembali mencintainya
Ingatkan aku bahwa aku salah menaruh rasa

Lirik hanya segumpal kata-kata
Lagu hanya permainan kata
Dan drama, hanya permainan ekspresi muka
Tapi kita?
Bukan bagian dari itu semua
Kita, dunia nyata yang melebihi karya luar biasa

Ingatlah saat diawal kita bertemu
Janji persahabatan yang akan menjadi benteng kita semua
Janji yang akan selalu membuat kita bersama

Kawan,
Bebahagiaanmu kebahagiaanku, tangisanmu tangisanku
Kembalilah kemana kau akan kembali
Agar kau bahagia dengan pilihan mu yang pasti
Kembalilah kesini”

Micky meringis keras setelah selesai menyatukan kata-kata itu menjadi sebuah lirik, tepatnya itu adalah sebuah puisi, bukan lirik lagu. Walau tangisannya terdengar keras, tapi tak akan ada efek karena kamar Micky adalah kamar yang kedap suara. Sebesar apapun suara yang keluar dari kamarnya, tak akan pernah terdengar dari luar. “Tuhan, hanya ini yang bisa aku perbuat. Izinkan aku menjaga sahabat-sahabatku ketika aku berada dalam setiap musimku Ya Allah” Micky kembali merintih. Ya , hanya itu yang bisa ia lakukan saat itu. Hanya tangisan yang bisa mewakili setiap perasaan sedihnya. Berbeda dengan Micky, Rajif mencoba mengingat setiap kalimat-kalimat Micky yang diucapkannya tadi malam.
“Mungkin gw emang salah Mick, maaf banget Mick. Gw juga terlalu sayang sama Ghea Mick. Kalau aja gw gak nyucapin kalimat itu ke dia Mick, mungkin sekarang dia masih milik gw Mick” nada penyesalan tertumpu dimata Rajif yang juga mulai memerah. Rajif menatap lemah kesetiap atap-atap rumah yang setia berbaris bak para tentara yang tengah menjalani latihan militer. Waktu memang tak terhitung, waktu memang susah untuk dimengerti. Waktu yang menjadikan mereka sebegitu dekatnya, dan waktu jugalah yang menjadikan persahabatan mereka sebegitu renggangnya.

***

Rabu malam menjadi malam kesekian kali antara Rajif dan Micky tak saling sapa. Micky telah memulai hal positif tersebut, tapi Rajif benar-benar belum bisa menerima apa yang ia alami saat ini. Tak ada langkah lebih lanjut yang diambil oleh Ricky dan Shodiq, kecuali mereka berpencar untuk menjelaskan hasil pertemuan tadi sore. Ricky menemui Rajif, dan Shodiq menemui Micky. Akhirnya Shodiq sampai didepan pintu kamar Micky yang rada merenggang. Ketika hendak masuk, Shodiq melirik Micky yang tengah bersimbah air mata mengotak-atik keyboard laptop berwarna blue-soft nya. Tanpa ada suara dari gerakannya, Shodiq mengedap-ngedap melaju dari belakang Micky. Mulutnya sibuk mengomat-ngamit membaca setiap lirik yang ditulis Micky, awalnya hanya seperti candaan ekspresi wajah Shodiq, tapi akhirnya ada kekhawatiran yang mulai tumbuh ketika Shodiq sampai dikalimat terakhir lirik tersebut.
“Mick” ucap Shodiq tenang memegang pundak Micky mengisyaratkan berusaha menghibur dan memberi Micky semangat agar dia bisa memalui ini semua.
“Lu sejak kapan disini Diq?” Micky terkejut, karena privasi-nya kembali dicolong sahabatnya.
“Maaf gw nyolong privasi lu lagi Mick. Gw tahu sekarang emang suasana lagi bad banget, tapi lu juga harus punya waktu donk buat gw!!!” hibur Shodiq tanpa menghiraukan apakah perkataannya salah ataukah benar.
“Gimana hasil pertemuan tadi?” tanya Micky mengalihkan pembicaraan. Air matanya masih mengalir, tapi disana ada sedikit senyum untuk Shodiq yang juga mulai merasa Micky bisa melupakan hal-hal kemaren yang membuatnya down sampai hari ini. Dan semua terjelaskan dengan rinci tanpa cacat sedikitpun, tanpa tambahan juga pengurangan kalimat. Juga pada Ricky dan Rajif, semua tersusun rapi seperti yang direncanakan Ricky dan Shodiq tadi. Megingat perkataan pak Bramantyo tadi bahwa mereka harus bisa meyakinkan Ghea untuk bekerja dengan mereka, disanalah jalan untuk kembali bersma terbuka lebar.  Disanalah jalan untuk berdamai, jalan untuk menuju persahabatan yang seperti dulu.
“Ok, kita punya satu misi. Yaitu menyakinkan Ghea untuk bisa bergabung dengan kita” Ricky mengambil alih pembicaraan yang dilatarbelakangi mainroom tersebut. Bisa dilihat bahwa Rajif dan Micky juga duduk disana tapi berjauhan.
“Ada masukan?” Ricky bertanya melirik satu persatu sahabatnya yang masih terpaku akan suasana tak bersahabat.
“Untuk lu Jif juga lu Mick, gw harap lu berdua bisa bekerjasama dengan baik. Karena kita akan dibagi menjadi 2 kelompok. Gw sama Shodiq, trus lu sama Rajif” Ricky akhirnya memberi jalan terang kepada 2 sahabatnya, Shodiq senyam-senyum sendiri melihat Ricky yang masih berdiri didepan para sahabatnya. Juga Shodiq menyelipkan jempol kanan kearah Ricky tanpa sepengetahuan Rajif dan Micky. Wajah pasrah akhirnya Rajif dan Micky tujukan kepada Ricky. Awalnya mereka berdua sangat terkejut dengan saran Ricky tersebut, mana bisa 2 orang yang tengah dilanda masalah yang tak biasa bisa bekerjasama apalagi dengan baik.
”Ada pertanyaan?” tak respon akan pertanyaan Ricky. Daritadi hanya dia yang sibuk mengoceh didepan untuk menjelaskan bagaimana cara meyakinkan Ghea yang tak ingin bekerja dilabel ayahnya.
“Kenapa harus dibagi menjadi 2 kelompok kek gini? Kan bisa kita bekerja sebagai satu tim 4 orang ini” akhirnya respon berbalik ke Ricky. Rajif butuh penjelasan. Apakah memang ini tujuannya agar bisa manggaet Ghea untuk bekerja? Atau hanya akal-akalan sahabatnya itu.
“Jif, kita punya sistem Jif. Nanti kita akan jelaskan kepada kalian” Shodiq membalas dari arah yang berlawanan. Tepat disamping Micky ia menjawab singkat pertanyaan Rajif. Malam itupun menjadi malam pertama mereka berkumpul setelah adanya konflik cinta antara kedua sohib tersebut. Memang tak banyak yang diuraikan malam itu, tapi sedikit banyaknya ada titik terang itu mulai bersinar ditaman persahabatan mereka.
Berbalik kekamar masing-masing, Micky sangat tak menduga kedatangan Rajif yang tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya yang mulai gelap oleh waktu. Karena sang kamar tak dikunci, juga mempunyai sedikit spasi untuk melihat siapa yang datang. Rajif mulanya ragu untuk mendatangi Micky, tapi selagi ia terus mengingat setiap jepretan persahabatan mereka dilaptopnya ia menguatkan hatinya untuk melangkahkan kakinya kedalam. Terdiam kaku, Rajif hanya meraba-raba ranjang Micky yang telah 3 hari ini tidak ia rasakan. Tak ada perubahan, tetap saja empuk dan nyaman untuk berada disana.
“Mick” sapa Rajif melemah diremang-remang cahaya kamar Micky yang sengaja ia pasang agar terkesan misterius. Ada 2 tipe cahaya kamar yang Micky letakkan dikamarnya, yaitu cahaya remang dan terang. Ketika ia memasang cahaya terang alias white light, berarti bisa dilihat ia jauh dari perasaan sedih, sebaliknya ketika cahaya remang itu menjadi backlightnya.
“Ya” jawaban singkat itu memulai tatapan tajam Micky kepada Rajif yang tak bisa Rajif balas sedemikian bagusnya, karena Micky mempunyai tatapan yang sangat tajam untuk bisa dilumpuhkan.
”Apakah ketika sahabat kita bahagia kita juga harus bahagia walau kebahagiaannya adalah sakit untuk kita?” pertanyaan yang akan menjelaskan semuanya untuk persahabatan ini. Pertanyaan yang tak akan pernah terjawab dengan sempurna, jawaban yang hanya akan kembali membuat persahabatan itu semakin terpuruk, semakin dan semakin. Inilah pertanyaan yang tak akan dijawab oleh Micky, ia enggan menjawab pertanyaan yang pada dasarnya menyindirnya saat itu. Micky hanya diam dan tetap merebah memalingkan wajah kelangit-langit kamar yang dilapisi oleh beberapa goresan tangan 4 sahabat tentang arti sahabat bagi mereka per individu.
“Dan bagaimana perasaan seseorang ketika impiannya yang akan terwujud tetapi dengan mudahnya jatuh hanya karena hal yang tak pantas untuk dipermasalahkan?” Micky berbalik bertanya dengan nada balau, ia masih tetap menatap lurus tanpa mengedip. Rajif yang duduk diranjang juga hanya bisa terdiam dengan pertanyaan konyol seperti itu. Mereka berbeda, tapi mereka selalu punya pendapat yang sama tentang 2 pertanyaan tersebut. Hanya saja belum mereka uraikan satu sama lain.
“Mick, impian kita dari awal tak akan pernah pecah. Karena itu impian kita bersama, tak akan pernah berubah walaupun emang sekarang kayak gini keadaannya” Rajif menguraikan tentang impian mereka yang tak akan diubah oleh masalah apapun yang tengah mereka hadapi. Rajif ikut larut merebah tepat disamping Micky menyaksikan kalimat-kalimat dilangit-langit kamar Micky.
“Andai aja gw gak pernah kenal sama Ghea, mungkin gak akan pernah ada masalah seperti ini Mick” lanjut Rajif mulai menikmati suasana yang mulai cair diantaranya dengan Micky yang walaupun masih belum sepenuhnya.
“Rajif, penyesalan itu emang datang diakhir waktu. Tak usah kau sesali apa yang telah terjadi, cukup kau ambil hikmahnya untuk persahabatan kita juga untuk hidup kau” akhirnya Micky menjawab dengan dewasanya, kalimat “kau” menandakan bahwa ia tengah berada dalam sikap dewasanya. Itulah yang tengah ia rasa, ia tak ingin persahabatan ia kembali seperti dulu.
“Jadi?” tanya Rajif singkat menatap berharap kearah Micky.
“Jadi apa?” berbalik pertanyaan Micky keluar seraya ia memalingkan wajahnya membalas tatapan Rajif.
“Sekarang maafin gw donk?” Rajif berharap agar ia dimaafkan oleh Micky. Untuk memulai lembaran baru lagi.
“Tapi ada syaratnya?” Micky megeluarkan satu ultimatum agar dipatuhi oleh Rajif yang nantinya akan ia uraikan juga kepada 2 sahabatnya yang lain.
“Apa?” tanya Rajif singkat memasang wajah penasaran.
“KITA SEMUA GAK BOLEH PACARAN SEBELUM KITA MERAIH APA YANG KITA IMPIKAN” sedikit gila mungkin ultimatum yang dikeluarkan Micky. Sebab ia yang tengah jatuh hati kepada Ghea, ia juga yang memasang rambu-rambu melarang untuk berpaacaran.
“Lu yakin? Trus gimana perasaan lu yang sekarang?” pertanyaan Rajif seolah memberi pencerahan untuk Micky.
“Gw gak ingin pacaran Jif, walaupun perasaan gw berkata terbalik. Gw ingin fokus sama masa depan gw, terserah perasaan gw kayak gimana” dengan PD-nya Micky mengungkapkan hal tersebut. Rencananya, setelah lulus dari SMA 06 JAKARTA ini, ia ingin langsung take off ke Jerman untuk melanjutkan study-nya. Dan mungkin setelah ini tak akan ada lagi dunia seperti sekarang ini.
Terlalu dini untuk menceritakan cita-cita Micky kepada para sahabatnya, walau suatu saat mereka pasti mengetahui itu.
“Ok, diantara kita gak boleh pacaran sebelum kita semua sukses dengan cita-cita kita masing-masing” Rajif bagkit dari tidurnya. Dengan lantang kalimat tersebut keluar dari mulutnya, tak menghiraukan jika suaranya keluar. Karena pintu kamar Micky tak ditutup rapat, maka suara Rajif keluar dengan bangganya. Disanalah Eicky dan Rajif mendengar adanya suara teriakan dari kamar Micky, bergegas mereka melaju kekamar Micky untuk memastikan apa yang tengah terjadi dikamar Micky. Melirik kejadian tersebut dari luar, membuat Ricky dan Shodiq merasa lega karena dua sahabatnya sudah kembali akur dan tertawa keras bersama lagi. Tak ada spasi untuk mereka masuk kedalam, karena sepertiya 2 sahabat itu tengah bahagia dan tak ingin berbagi.

***

“Sepertinya pagi ini cerah banget ya? Gak ada mendung, bahkan mungkin hanya akan ada hujan tawa terus neh!!” ucap Ricky mengode ke Shodiq dengan senyum, menyindir kebahagiaan 2 sahabatnya yang lain yang telah berbaikan. Micky dan Rajif yang dengan lahap mengunyah sarapannya, tiba-tiba tersedak berbarengan. Tanpa aba-aba mereka juga dengan kompaknya mengambil susu digelas masing-masing dan menuangkannya kemulut masing-masing.
“Hmm, belum apa-apa, udah kompak kek gitu” sindiran candapun diperjelas Shodiq. Hanya tatapan kecil yang mereka lemparkan satu sama lain. Setelah itu, Shodiq tak lupa memberi tawanya yang selalu membuat 3 sahabatnya tak ingin kalah tertawa menyainginya.
“Kita jalan kaki ke sekolah yuk!!! Udah lama juga gak jalan kaki kan? Lagian sekolah kita kan masih terbilang dekat sama rumah kita ini” Ricky mengalihkan pembicaraan agar tak ada lagi kecanggungan antara dua sahabatnya itu. Semua menyetujui ajakan Ricky tanpa terkecuali. Sebelum itu, nada tanda pesan Micky berbunyi dengan lantangnya. Micky membaca dengan rinci setiap kalimat didalamnya yang berbunyi “2 MINGGU LAGI MAMA AKAN JEMPUT KAMU, DAN KITA LANGSUNG TERBANG KE JERMAN” Shock besar, tangan Micky melemah. Hampir saja ia menjatuhkan ponselnya kelantai.
“Kenapa Mick?” akhirnya Rajif memberi pertanyaan pertama pagi ini. Ia memperhatikan wajah Micky yang mulai lesu. Micky awalnya memang semangat ketika mendengar nama Jerman, bahkan ingin sekali mengunjungi negara tersebut. Tapi tidak seperti ini harusnya, kenapa 2 minggu lagi? Kenapa tidak selesai Ujian Nasional aja?
Micky berusaha untuk merahasiakan hal penting tersebut kepada para sahabatnya. Tapi bagaimanapun Micky mencoba untuk merahasiakan, pasti sahabat-sahabatnya akan mengetahui hal tersebut bagaimanapun caranya itu tersampaikan. Dalam perjalanan ke sekolah, Micky lebih banyak diam. Tapi tetap mengikuti arus para sahabatnya. Ia tak ada tempat berbagi saat itu, tak ada satupun. Para sahabatnya tak mengetahui sikap Micky mulai rada berubah, mereka hanya mengetahui bahwa Micky ada bersama mereka. Tak lama memang perjalanan dari rumah ke sekolah. Hanya memakan waktu 18 menit lamanya, gerbang ilmu di SMA 06 JAKARTA telah terlihat dengan gagahnya. Mereka susah dikatakan sebagai siswa yang selalu datang telat, karena mereka adalah orang-orang yang selalu datang on-time, bahkan mereka sering juga datang satu jam sebelum jam pelajaran dimulai. Melirik kearah yang berlawanan dengannya, Micky belum melihat jejak datangnya Ghea pagi itu. Hal yang tak biasa ketika Micky telah sampai Ghea pun juga telah berdiri didepan gerbang sekolah.
“Lu ngelihat apaan sih Mick?” tanya Shodiq melihat Micky yang sibuk memalingkan wajah kesana-kemari. Micky tak menggubris pertanyaan Shodiq, tapi malah berpsah dengan para sahabatnya dan berusaha mencari Ghea. Tapi apa yang didapat? Hanya angin pagi yang ia dapat, hampa.
Ketika tlah sampai dikelas, tak ada tanda-tanda bahwa Micky telah datang. Mereka berinisiatif untuk Micky, beruntung pak Yega masih berada di Bangkok selama beberapa hari ini sehingga sampai jam 10:00 WIB mereka bisa membuang waktu untuk mencari Micky disegala sudut. Semua usaha memang tak ada yang sia-sia, pukul 08:50 WIB merekapun akhirnya bertemu Micky yang tengah berusaha meyakinkan Satpam sekolah agar ia diberi izin untuk masuk.
“Pak, Cuma untuk kali ini saja pak. Saja kan juga gak sengaja telat pak, . . . .” mereka melihat Micky yang tengah bersitegang dengan Satpam digerbang sekolah. Segera mereka berlari kerah Micky untuk membantu sang sahabat untuk bisa masuk.
“Dek, maaf dek. Kamu gak lihat jam tangan kamu? Kamu sudah 1 jam telat. Apa bisa ditolerir lagi?” jelas pak Satpam yang mulai jenuh melihat setiap siswa yang telat meringis-ringis minta diberi izin masuk. Dengan terpaksa Micky berbali kearah pulang tanpa sepatah katapun keluar darinya untuk 3 sahabatnya.
“Micky” kata yang percuma yang diucapkan Shodiq, karean tak ada jawaban dar Micky. Ia hanya menundukan kepala dan menatap kerikil-kerikil batu yang tersusun jadi jalanan aspal.
Kejadian burukpun hampir mencelakai Micky disaat ia hendak menyebrangi jalan didepan rumahnya. Bukan salahnya, karena ia berjalan dizerbra cross yang kebetulan tersedia didepan rumahnya. Perasaan was-was terlihat jelas dari sang pengendara mobil jazz merah tersebut.
“Woi, kalo bawa mobil tu hati-hati dong” omelan Micky menuntun sang pengendara keluar dari mobilnya. Dengan wajah polos, ternyata ia adalah seorang perempuan yang juga menggunakan seragam putih abu-abu.
“Kak, maaf kak. Aku gak sengaja” pinta sang cewek meraba-raba setiap sudut seragam Micky. Micky merasa geli dengan kejadian tersebut, tapi sang cewek masih sibuk mencari sudut badan Micky yang apakah ada luka atau memar atau apakah itu.
“Stop-stop-stop. Jangan pegang-pegang” Micky berusaha menjauhkan badannya dari sang cewek.
“Sekali lagi maaf ya kak” sang cewek kembali memohon agar bisa dimaafkan oleh Micky.
“Punya mata?”
“Punya kak”
“Untuk apa mata lu?”
“Untuk ngelihat kak”
“Tapi kenapa tadi lu gak ngelihat gw?”
“Karena tadi tu temen aku nelpon kak”
“Oh!! Kalo lagi nyetir fokus ya sama penglihatan kedepan. Jangan lakuin hal-hal aneh. Kalo aja tadi lu gak lihat gw, gimana jadinya raga gw ini?”
“Kak, saya kan sudah minta maaf. Apakah perlu saya digituin? Kalo mau maafin terimakasih. Kalo gak mau yaudah”
“Lu anak sekolah mana sih sebenernya? Nyolot lu minta ampun”
“SMA 06 JAKARTA”
Sang cewek mulai emosi dengan lagat Micky yang tak bersahabat, percuma ia minta maaf karena Micky hanya memberi ia kata-kata yang membuatnya down dan emosi untuk melawan perkataannya. Dan hal tak terduga, sang cewek ternyata berasal dari SMA yang sama dengan Micky, tapi kenapa selama ini Micky tak pernah melihatnya?
Akhirnya sang cewek yang beridentitas “Raisa” tersebut memilih untuk pergi berbalik kesekolah dan meninggalkan Micky yang penuh dengan ocehan dan masih belum dikeluarkan. Dari awal berbalik, wajah Raisa masih dalam keadaan bad yang tak bisa dijelaskan. Satu lagi fakta yang tak diketahui orang banyak, bahwa Raisa adalah sahabat Ghea. Hanya saja sebelumnya Raisa menetap di Jerman beberapa bulan karena memang orang tuanya ada perkerjaan disana dan sekarang baru bisa balik kesekolah, dan itupun jika sang ayah sudah menetap di Jakarta. Jika belum, terpaksa selama sekali dua bulan Raisa musti bolak-balik Indonesia-Jerman guna melaporkan setiap hal nya kepada san ibu. Untunglah Raisa sekarang dipermudah dengan teknologi, jika memang sang orang tua akan balik ke Jerman, ia hanya perlu mengaktifkan acc Skype-nya dan bisa berkomunikasi setiap saat dengan sang Ibu.
“Ghe, gila ya!! Hari ini gw apes banget, masa’ tadi gw gak sengaja hampir nabrak cowok, trus tuh cowok nyolotnya kayak ibu-ibu” Raisa menjelaskan setiap detail kejadian buruk yang ia alami pagi ini, Ghea hanya senyam-senyum melihat sang sahabat yang ngos-ngosan menceritakan semua.
“Salah lu juga, udah tu cowok kayak gitu, masih diladenin” hibur Ghea yang belum mengetahui siapa cowok yang diceritakan Raisa kepadanya. Tengah asyik berbincang, Televisi yang tadi dinyalakan ibu kantin tiba-tiba menyajikan berita tentang Rajif cs yang membicarakan tentang sedikit bocoran lagu terbaru mereka yang ternyata akan keluar dari image cover mereka.
“Nah, itu tuh cowok yang bikin gw apes pagi ini” Raisa menunjuk kearah foto Micky yang terpampang dalam berita.
“Jadi dia artis? Gak pantes banget” ucap Raisa nyengir iblis.
“Hushhh, mereka itu hebat tau cha. Mereka bisa menggaet pemilik label besar untuk mempromosikan mereka” ucap Ghea sombong mempromosikan label musik sang ayah yang sebenarya sekarang tengah ia fikirkan akankah ia bergabung dengan sang ayah atau membiarkan 4 cowok itu mencari manager baru.
“Temen-temennya okelah, mereka bisa jual tampang kalo seandainya mereka gak laku. Tapi, cowok nyebelin itu?” Raisa masih belum puas dengan segala caciannya terhadap Micky. Ia masih menyebut Micky dengan label “COWOK NYEBELIN” yang entah sampai kapan akan ia letakkan.
“Awas lo ntar malah kesensem kalo liat pribadinya Micky” Ghea mencoba merayu Raisa yang masih memasang wajah jutek, asem, dan kesal itu.
“Tapi, tadi lu ketemu dia dimana?” wajah Ghea tiba-tiba menjadi penasaran. Ia memasang wajah serius untuk mengetahui dimanakah Raisa bertemu dengan Micky pagi ini sampai-sampai Micky membuat Raisa menjadi kesal setengah gila seperti ini.
“Gak jauh dari sini lah, tapi emang seh tu cowok ganteng seh. Trus kayaknya juga gak brandalan gitu. Bearti mereka berempat udah jadi artis ya? Gimana reaksi anak-anak disini? Pasti gw ketinggalan banyak cerita ya disini selama gw di Jerman? Udah berapa cowok yang berhasil ngegaet lu? Masih pacaran ndak lu sama tu cowok?” tiba-tiba kepo Raisa kambuh, Ghea tak bisa berkutik ia hanya bisa mendengar, juga sekali-sekali ia mengangguk tak jelas dengan pertanyaan sang sahabat.
“BTW neh, oleh-oleh dari Jerman mana neh?” Ghea mengalihkan semua pertanyaan Raisa. Memang, seharusnya itulah hal pertama yang harus Ghea tanya kepada sahabatnya yang baru saja balik dari Jerman. Yang padahal disana Raisa bukan untuk menghambur-hamburkan uangnya, melainkan untuk mengikuti orang tua untuk mencari seberkas penghidupan untuk keluarganya.
“Ada seh, tapi nanti deh sepulang sekolah gw bawa lu kerumah. Lu tinggal pilih mana yang lu suka. Ok” segitu baiknya Raisa kepada setiap orang yang menganggapnya penting untuk kehidupannya, sehingga mudah untuknya mengajak setiap orang yang ingin melihat seisi rumahnya yang walaupun tujuan utamanya adalah untuk menuntut oleh-oleh. Tapi itu adalah salah satu cara Raisa menarik setiap sahabatnya agar betah berada dirumahnya.

***
November 10, 2013 19:45

2 minggu lagi, itu tak lama. Gw harus meninggalkan setiap kehidupan gw disini. Gw gak yakin kalo seandainya gw menceritakan kesahabat gw, mereka akan ikhlas ngelepas gw ke Jerman. Gw tau, emang awalnya Jerman adalah negara destinasi utama gw, tapi gw gak pengen pergi dengan cara seperti ini. Gw pengen pergi disaat temen-temen gw bahagia. Sekarang? Gw belum melihat para sahabat gw merasakan itu. Bahkan sekarang gw melihat para sahabat gw sibuk tak menetu mengurus jadwal nyanyi yang selalu beratakkan dengan jadwal sekolah.
Tuhan, seandainya 2 minggu lagi tersebut aku jadi meratap ke Jerman, izinkan sebelum aku beranjak memberikan kebahagiaan kepada para sahabatnya. Bagaimanapun itu. Bantu setiap langkahku agar setiap jalan yang kuambil bisa membahagiakan sahabat-sahabatku. Beri aku satu jalan untuk mengadakan suatu perpisahan dimana para sahabatku akan mengenangku seumur hidupnya. Juga, biarkan aku berada disamping para sahabatku untuk sama-sama berjuang menjadikan nama kami disanjung setiap nafas yang kau beri didunia ini. Jangan biarkan kami terpecah lagi, aku berharap agar ini adalah perjuangan pertamaku bersama para sahabatku, dan izinkan kami bertemu kagi nanti disaat kami telah berada dititik sukses kami masing-masing.
Aku masih ingin selalu berkomunikasi dengan mereka Tuhan jika aku telah berada di Jerman nanti, jadi jangan halangi komunikasi kami Tuhan jika kami punya segudang cerita yang bisa kami ceritakan satu sama lain.

Micky kembali merana setelah surat pertama yang ia tulis selesai. Ia hanya berani menyimpannya ditumpukan buku mapel yang tersusun rapi dimeja belajarnya. Ia tak sanggup memperlihatkan kepada para sahabatnya isi surat tersebut. Hanya sebuah senyuman kecil yang ia beri ketika 3 sahabatnya bertanya apakah gerangan yang telah ia tulis barusan.
Tak lama, ia mengumpulkan para sahabatnya diruang tengah guna membicarakan langkah mereka kedepannya, langkah untuk menuju kesuksesan yang lebih.
“Guys, kita gak bisa diam terus. Kita musti ambil langkah, agar kita gak monoton jadi artis. Jujur, gw gak pengen jadi penyanyi satu lagu trus ngilang” Micky menjelaskan semua harapan terbesarnya agar ia dan teman-temannya bisa lebih berkarya lagi.
“Sebelum itu kita harus bikin nama untuk itu agar kita juga tidak susah nantinya. Nah, disana kita bakal kasih bocoran tentang konsep baru kita” Rajif melanjutkan perkataan yang tak sempat keluar dari mulut Micky.
“G’Action” singkat, spontan Shodiq mengeluarkan sebuah nama yang tlah lama ia ingin keluarkan agar bisa digunakan untuk menjadi nama group mereka nantinya. Awalnya lucu mendengar nama tersebut, tapi ya hanya itu nama yang unique, nama yang bisa digunakan untuk nama group mereka.
“Rick, ada tambahan?”
“Untuk saat ini belum, tapi gw dukung namanya, lucu” Ricky memberi respon positif atas nama yang diusulkan Shodiq tadi. Berarti untuk nama group mereka telah menemukan, tinggal memikirkan konsep baru, jika untuk lirik lagu, Micky bisa mengkondisikan itu, karena Micky adalah salah satu pencipta lagu berbakat yang pernah ada di jagadraya.
“Nah, gw ada tambahan. Kita kan memilih nama G’Action, jadi logo kita ambil dari inisial G itu sendiri, tapi dengan format bold agar terlihat kuat dan soal warna kita ambil old blue ato skyblue gimana?” barulah inisiatif yang dimaksud, setiap member memberikan potongan suara mereka agar group ini benar-benar lahir dari hasil jerih payah bersama.
“Kenapa harus blue?” tanya Rajif singkat, “Kan masih banyak warna lain Micky” tambahnya.
“Ya, karena gw suka warna biru. Tapi itu terserah kalian sih, itu kan Cuma pendapat gw Rajif” Micky menjawab pertanyaan Rajif dengan tepat.
“Hey, itu bisa kita fikirkan nanti teman. Yang jelas kita jaga kekompakan dahulu” sela Ricky ditengah perbincangan antara Rajif dan Micky.
Micky kembali kekamar, karena ia rasa pembicaraan malam ini cukup menghibur dirinya dari kegundah-gulanaan. Ia berfikir jika ia pergi 2 minggu lagi berarti 25 November ia akan take off ke Jerman, dan bagaimana pesta ulang tahun Rajif yang jatuh tak lama setelah itu? Micky mencoba mengontact sang mama. Tersambung, tapi Micky harus menunggu lama untuk bisa berbicara dengan sang mama.
“Ma”
“Iya sayang”
“Boleh aku minta perpanjangan waktu?”
“Maksudnya?”
“Jika aku pergi ke Jerman habis tahun baru aja gimana Ma?”
“Tapi kan kamu janji 2 minggu lagi, sayang. Kamu berat meninggalkan teman-teman kamu?”
“Bukan itu Ma, tapi tanggal 10 mendatang ulang tahunnya Rajif, aku ingin memberi dia kebahagian. Juga, aku ingin malam tahun baru bersama mereka. Setelah itu, terserah Mama mau bawa aku kemana. Yang penting aku telah bersama mereka disaat yang hanya akan datang satu kali setahun ini”
“Baik, tapi gunakan waktu kamu sebaik-baik mungkin. Mama gak ingin pas nanti mau pergi kamu berubah fikiran lagi”
“Makasih ya Ma”
“Yasudah, kamu tidur sana”
Telepon-pun terputus setelah terjadinya transaksi penanggulangan masa aktif dikota ini. Aku sangat bersyukur, karena hari-hariku bersama mereka ditambah 2 minggu lagi. Tiba-tiba Micky terfikir cewek yang hampir menabraknya tadi siang. Ada penyesalan. Kenapa ia harus megeluarkan kata-kata kasar kepada sang cewek? Padahal sang cewek juga tak sengaja. Rencananya Micky akan meminta maaf kepada sang cewek tersebut, secepatnya saat ia bertemu kembali dengan cewek itu.
Dikamar  Raisa, Ghea telah terlelap pulas. Sedangkan Raisa samahalnya dengan Micky. Terfikir akan “COWOK NYEBELIN” itu. Mendengar perkataan Ghea tadi bahwa Micky mempunyai pribadi yag menawan, langsung saja ia merasa bahwa itu benar adanya. Tak ada fikiran lain yang terfikir, hanya bagaimana mendapatkan informasi lengkap tentang “COWOK NYEBELIN” itu.
“Woi, lagi mikiran siapa, hayoo?” tiba-tiba Ghea menepuk punggung Raisa dari belakang. Jelas Raisa terkejut, karena yang ia ketahui bahwa Ghea telah pulas dan susah untuk bangun. Tapi sekarang?
“Apaan sih lu Ghe? Kaget gw tau” Raisa mencoba berlaku seperti biasanya.
“Habisnya, siapa suruh lu ngelamun kek gitu. Gw tau, pati lu mikirin Micky ya?” tebakan yang sangat tepat, walau Raisa mencoba berbohong.
“Hmm, kepo ya? Ada deh” Raisa melemparkan candaan kepada Ghea, yang langsung dibalas dengan candaan oleh Ghea. Selang beberapa saat tertawa terbahak, Raisa mengajukan beberapa pertanyaan yang memang aneh untuk seseorang yang belum mengenal seseorang.
“Ghe, kalo seandainya kita Cuma bertemu orang itu sekali. Tapi kita langsung suka karenanya, wajar gak?” wajah serius Riasa menatap tajam mata Ghea yang siap menangkap beberapa jawaban dari Ghea.
“Gini cha, itu wajar aja. Karena kebanyakan suka emang dari first sight. Habis itu baru deh yang gitu-gitu” Ghea merayu Raisa yang mulai terbaring disampingnya. Banyak hal yang diceritakan Ghea tentang Micky kepada Raisa dikarenakan Raisa tiba-tiba saja penasaran tentang siapa Micky.

***

Tok . . . Tok . . . Tok . . .
Rajif kembali mengetuk pintu kamar Micky yang telah tertutup rapat. Ini bukan jam 10 ataupun jam 11 lagi, jarum jam telah menujukkan angka 2 dinihari. Micky berjalan lemah menuju pintu kamarnya, berharap yang mengetuk pintu kamarnya bukanlah sesuatu yang tak diinginkan.
“Mick, gw numpang ea?” Rajif juga masih malas untuk membuka mulutnya untuk berbicara. Hanya itu kalimat yang diucapkannya. Tanpa meminta persetujuan dari Micky, Rajif langsung menuju tumpukkan kapas yang telah meransangnya menuju alam mimpi. Tak lama keduanya berbalapan menuju mimpi masing-masing.

***

Beruntung hari ini libur, jadi jam 11 bukanlah masalah jika Micky dan Rajif bangun. Namun mereka telah ditunggu 2 sahabatnya untuk menghadiri rapat dengan direksi dikantor label ayah Ghea. Katanya, Bp. Bramatyo akan memperkenalkan seseorang kepada mereka yang akan menjadi partner mereka untuk kedepannya, atau malah akan menjadi bagian untuk G’Action seterusnya. Juga, disana Ghea akan menyampaikan beberapa hal yang akan membuat mereka menjadi lebih baik kedepannya.
Sesampainya, Micky melirik Raisa yang tepat berada disamping Ghea yang telah menunggu mereka sejak tadi. Wajah Micky berubah kesal, karena sang cewek sempat membuat mood nya mati dipagi hari.
“Ghe, lu bawa makhluk darimana?” tanya Micky menyindir kearah Raisa.
“Ha? Maaf ea COWOK NYEBELIN. Gw kesini juga karena diminta sama Ghea kali. Kalo gak, ngapain juga disini?” Raisa melawan sebisa ia melawan cowok yang memang telah membuat mood nya berubah menjadi buruk itu.
“Tunggu!!! Tujuan kita kesini apa?” bentak Ghea.
“Ini bukan jalanan tempat kalian mengalami masa silam, jadi stop buat fight disini, ok?” tiba-tiba Ghea marah dengan dua orang yang membuat otaknya menggelegar tak menentu.
“Gw fikir ini awal yang baik untuk sebuah hubungan” sindir Rajif secara halus.
“Maksud lu apa?” serempak mereka berdua mengajukan pertanyaan yang telah jelas kearah mana pembicaraan itu. Shodiq dan Ricky sedikit geli dengan tingkah temannya itu. Great Job, Mick.
Memang, telah sampai didalam ruangan. Seseorang yang mempunyai tinggi tak lebih dari Ricky duduk disamping pak Bramantyo. Wajahnya terlihat masih anak sekolahan. Wajahnya juga tak jelek-jelek, juga tak terlalu awesome jika dibandingkan dengan 4 sahabat itu. Semua duduk ditempat, tanpa terkecuali. Panjang lebar berbicara, akhirnya pak Bramantyo menyimpulkan bahwa G’Action akan bertambah satu anggota. Yaitunya manusia yang duduk disamping pak Bramantyo tadi. Dan inilah saatnya dia memperkenalkan dirinya.
“Ok, gw Dan Nugroho. Gw sama seperti kalian, masih SMA. Dulu gw ngimpi punya grup vocal, dan sekarang pak Bram ngasih gw kesempatan itu. Gw harap kalian akan jadi pembimbing juga teman yang baik buat gw” ya, namanya Dan. Dan akan menjadi anggota terakhir jika kami semua menyetujui rencana pak Bram ini.
“Juga, gw bakal pindah sekolah tepat dimana kalian sekolah sekarang”  lanjut Dan. Ada ketidaksukaan Micky dan Rajif kepada cara pak Bram yang seenaknya merekrut anggota baru untuk masuk digroup yang telah sempurna itu. Apakah nanti Dan bisa meyesuaikan diri dengan yang lainnya? Apakah kehadiran Dan membuat G’Action semakin baik atau semakin memburuk?




Ketidaksukaan

Dengan kehadiran yang tak diundang, wajar Micky dan Rajif susah untuk menerima kehadiran Dan. Tapi itu hanya berlaku untuk Micky dan Rajif, tidak untuk Shodiq dan Ricky. Mereka malah menerima Dan dengan sangat baik. Bukan hanya itu, Dan juga akan tinggal ditempat tinggal mereka sekarang. Beruntung masih ada beberapa kamar yang kosong, jadi tak perlu ada satu kamar dua orang. Ghea juga merasa aneh dengan sang ayah, ada apakah antara ayahnya dengan Dan?
Semua memutuskan untuk balik kerumah masing-masing, termasuk Ghea dan Raisa. Raisa sempat memegang handphone Ghea, tujuannya hanya satu: memindahkan CP Micky dan teman-temannya ke handphone-nya. Perdebatan kecil antara Raisa dan Micky akan terus berlanjut, akan. Karena sekarang Raisa telah memiliki CP-nya Micky, berarti ia memiliki banyak kesempatan untuk mengerjain “COWOK NYEBELIN” itu.

***

Dan bergabung dengan Micky, Rajif, Ricky, serta Shodiq diruang dimana mereka sering menceritakan segala hal.
“Weis Dan. Sini bro, gabung aja” ajak Shodiq ramah, yang tak tahu betapa anehnya kedua sahabatnya yang tak tahu harus berkata apa.
“Lagi pada apa emangnya?”  tanya Dan duduk disamping Ricky dan Shodiq menghadap kepada Micky dan Rajif.
“Kebetulan lu disini, ceritain donk gimana bisa lu ketemu sama pak Bram?” Shodiq memohon agar Dan menceritakan kepada semua bagaimana ia bisa bertemu dengan pak Bram.
“Waktu itu gw kan lagi manggung sama teman-teman sekolah gw, nah kebetulan pak Bram meghadiri acara itu. Ia ngelihat gw, dia bicara sama gw, mungkin 2 jam pembicaraan gw sama dia. Langsung deh dia ngajak gw kesini. Sebenernya sih katanya gw dijadiin SoloSinger, tapi dia punya rencana lain setelah gw nyampe disini” panjang lebar Dan menceritakan kronologi bagaimana ia bisa direkrut ke grup ini. Cerit panjang lebar tersebut membuat Micky dan Rajif merasa ngantuk.
“Boy, gw kekamar duluan ea!” tanpa izin dari 3 sahabatnya, Micky langsung menuju kamarnya yang terletak diujung ruangan. Rajif menyusul tanpa mengucapkan satu patah katapun. Bukan kekamarnya, tapi ia menyusul Micky kekamar Micky.
“Mereka kenapa Diq?” pertanyaan singkat tertuju. Memang Dan merasa aneh dengan dua orang itu. Adakah yang salah dari dirinya sehingga mereka belum bisa menerima?
“Bukan gitu Dan, mereka emang butuh banyak waktu nerima seseorang kedalam hidup mereka” jawab Ricky dewasa. Mereka mencoba memaklumi sikap Micky dan Rajif yang belum bisa menerima kehadiran Dan.
“Oh ya Dan, kamar lu ada didepan kamarnya Micky. Tepat banget diujung lorong sana” Shodiq memberi instruksi lokasi kamar Dan yang akan menjadi miliknya. Dan melirik arah yang ditunjuk Shodiq, dan membalas dengan senyum.
Setelah semua berbalik kekamar, Dan masih setia duduk didepan TV yang telah diam semenjak satu jam yang lalu. Ia masih mengotak-atik ponselnya. Kebetulan disaat tersebut Rajif keluar karena tak bisa tidur. Awalnya Rajif ingin nangkring digenteng juga dikarenakan cuaca tengah berbaik hati. Tapi karna melihat sosok Dan diruang tengah, Rajif mengurungkan niatnya dan malah mendekati Dan yang sibuk dengan ponselnya.
“Jif” ucap Dan singkat karena terkejut tiba-tiba Rajif telah duduk disampingnya. Rajif hanya diam tanpa menoleh kearah Dan. Ia sempat duduk sebentar disamping Dan. Tak lama, ia mulai bosan. Dan memilih menjauh dari Dan. Tanpa disadari hal tersebut membuat raut wajah Dan berubah drastis menjadi sedih.  Ini awal Dan, lu musti maklumi. Suatu saat mereka akan nerima lu, bahkan malah sangat butuhin lu. Rajif yang tadi beranjak, melaju kearah kamar Micky. Susah untuk Rajif masuk kekamar Micky, karena kamar Micky telah tertutup rapat. Tanpa keterangan yang pasti, Rajif mencoba menobrak pintu kamar Micky. Micky yang telah terlelap, akirnya terbangun. Dengan wajah malas, Micky membuka pintu kamarnya yang telah ia kunci rapat-rapat. Rajif langsung saja menuju tempat tidur Micky yang mulai berantakan.
“Jif, ngapain malam-malam gini lu masih keliaran? Lu gak tidur apa?” Micky memajang wajah kesalnya ke Rajif.
“Gak bisa tidur Mick” jawab Rajif manja. Dan akhirnya menuju kamarnya, tetapi sebelum ia masuk kekamarya, ia melihat kamar Micky terbuka. Mencoba untuk mengintip, ternyata Micky tengah berbincang serius dengan Rajif. Dengan terpaksa berdiri didekat pintu untuk mendengarkan setiap perkataan yang coba mereka ungkapan.
“Mick, gini. Apa kita akan terus begini?”
“Maksud lu?”
“Dulu, kita berempat berjanji bahwa cuma ada 4 orang dalam grup ini. Tapi sekarang kita kedatangan satu anggota lagi. Nah, lu ngerasanya gimana?”
“Gw gini Jif, sebenarnya gak ada masalah dengan itu. Tapi cara dianya masuk kekitanya yang gw gak suka. Jadi kesannya kita itu tempat pelarian gitu. Ok kalo dianya gabung kekita dengan persetujuan kita berempat, tapi ini? Sama sekali kita gak tau”
“Bener, mana  dianya juga mau gabung sama kita” Perasaan Dan was-was mendengar lontaran dari dua calon sahabatnya itu. Tak bisa berkata-kata, hanya bisa memurungkan wajah sambil mengucap dalam hati Ya, ini bukan tempat gw. Secepatnya gw bakal pergi dari kehidupan kalian.
”Dan” sorak Ricky yang telah berdiri didepan Dan. Sontak suara itu memicu reaksi Micky dan Rajif, dan ketika melihat Dan tengah menelan wajah kecewanya merekapun merasa tak enak dengan apa yang mereka ucapkan. Dan tanpa menghiraukan himbauan Ricky, langsung masuk kekamarnya dan menguncinya rapat-rapat. Ricky heran. Tapi ia tak terlalu memperdulikan itu, karena memang ia tak tahu pasti apa dan bagaimana ia seperti itu. Mungkin esok hari ia bisa menanyakan kepada Dan. Wajah sedihnya masih terlihat jelas. Ia tak bisa mengucapkan satu kalimatpun, ia hanya bisa menelan air matanya dalam-dalam. Ma,aku gak kuat disini ma. Terlalu banyak mata yang menganggapku rendah. Aku ingin pulang.

***

Hari berlanjut, Rajif beserta Micky merasa canggung untuk menatap wajah Dan. Memang terlihat samar, tapi mereka tahu bahwa sosok semalam adalah Dan yang mencoba menguntit setiap kalimat mereka.
“Guys, hari ini kita ada jadwal di SMP N 3 Bekasi. Jam 5. Jadi, sekitar jam 4 kita harus sudah hadir disana” Ricky menjelaskan pesan dari Pak Bram yang baru saja ia terima.
“Maaf sebelumnya, setelah beberapa hari disini. Mungkin lebih baik gw balik kekehidupan gw yang dulu” Dan berkata seolah memberikan teka-teka untuk semua orang yang telah duduk sarapan pagi itu.
“Maksud lu Dan? Lu mau balik kesekolah lu yang dulu? Lu mau balik jadi musisi amatiran?” Shodiq menyindir tak menginginkan Dan mengambil langkah terburuk itu.
“Bukan gitu Diq, ngapain gw disini sedangkan gw gak diterima? Mending gw jadi musisi amatiran kan tapi gw punya sahabat yang sangat sayang sama gw, tapi disini?” kembali Dan teringat akan apa yang ia dengar tadi malam. Wajah Rajif dan Micky berubah drastis.
“Atau ada hubugannya sama yang tadi malam ketika lu berdiri tepat didepan kamar Micky? Saat gw panggil lu tapi lu langsung masuk kekamar” tebakan Rajif dan Micky benar. Dan lah yang mendengar pembicaraan mereka tadi malam. Dan berusaha untuk tidak membahasnya, tapi karna Ricky melontarkan pertanyaan terberat. Dengan berat hati juga ia menjawabnya.
“Micky, Rajif. Gw disini bukan karena keinginan gw. Awalnya Pak Bram bakal ngorbitin gw jadi penyanyi solo. Tapi setelah sampai di studio, ia berfikir ngegabungin gw sama kalian. Gw awalnya juga complain, tapi sekarang? Ia tetap bersikeras dengan pendapatnya. Gw terpaksa ikut kemauannya, karena ini mimpi gw”
“Ini ada apa seh? Kalian berantem?” Shodiq tak mengerti akan apa yang dibicarakan Dan. Ia mencoba mencari jawaban.
“Gw tau tadi malam ada hal yang tak seharusnya kamu bicarakan. Tapi cepat atau lambat lu juga bakal tau kalo gw sama Micky emang gak suka cara kek gini” Rajifpun mencoba untuk menjelaskan hal buruk tersebut.
“Tapi gw musti gimana agar lu berdua bisa nerima gw disini?” Dan menantang Rajif dengan tegasnya.
“Dan, kita cuma butuh waktu. Kita gak perlu lu buktiin apa-apa. Gw tau lu punya bakat, makanya lu gabung disini. Kita semua cuma nunggu waktu yang merubah segalanya” Micky mengambil jalan tengah agar tak ada yang tersakiti dalam rumah ini.
“Jadi untuk jadwal nanti sore?” Ricky masih menunggu pertanyaan dari Dan untuk pertunjukan nanti sore.
“Ya gw belum bisa manggung bareng. Karena belum ada kepastian gw udah gabung disini apa belumnya”
Micky tak ada kesempatan untuk beradu mulut dengan Raisa yang telah menjadi kawan mouth fightnya. Ia merasa kangen dengan sang lawan. Beruntung ia telah ada CP Raisa yang akan ia hubungi.
“Woy”
“Ish, apa? Kangen?”
“Iya. Hehehe. Lagi apa lu?”
“Gw? Lagi males-malesan. Lu sendiri?”
“Sama. Keluar yuk?”
“Kemana?”
“Kemana aja, biar liburan gak ngebosenin kek gini”
“Males ah jalan bareng lu”
“Kenapa?”
“Ya, seharusnya gw jalan bareng cowok yang cool, perhatian, dewasa gitu. Nah lu? Gak ada satupun yang ada di lu :-P”
“Ya deh. Kalo lu gak mau L
“Gw seh sebenernya mau, tapi kita pergi berapa orang?”
“Just us”
“Ha?”
“Iya, tapi nanti selesai gw manggung di Bekasi. Lu ikut ya nonton!”
“Iya deh, gw ajak Ghea juga ya?”
“Ok. J
Jam 4, dan tepat mereka telah sampai di lokasi dimana mereka akan manggung tanpa Dan. Micky meresa sedikit bahagia, karena Raisa benar-benar datang untuk menyaksikannya beraksi diatas panggung.
“Mick, semangat ea”
“Sep. Thanks ea JELEC” mendengar Micky mengucap kalimat itu, para sahabatnya merasa geli. Juga Raisa.
“Emang gw jelek apa?”
“Iya” jawab Micky singkat
“Ciye-ciye, yang udah pake panggilan sayang” Ghea menyelip diantara percakapan mereka. Muka mereka langsung memerah.
“Apaan seh lu Ghe?” ucap Raisa kesal tapi dalam hatinya senang.
“Sudah-sudah, bukan saatnya untuk adu pendapat kan?” ucap Shodiq bercanda yang mengundang tawa para sahabatnya.
Akhirnya waktu untuk G’Action tampil, dengan baju seragam dan berbeda warna, mereka menghibur para siswa dengan semangatnya. Ditambah hadirnya Ghea dan Raisa yang berdiri didepan. Dan waktu pertunjukan berakhir. Niat yang tadinya ingin dipenuhi, muncul kembali dibenak Micky. Seolah ia senyum kepada Raisa memberi kode kepadanya.
“Hmm, ada yang lagi pake bahas isyarat neh” sela Rajif yang tengah menikmati minumannya.
“Bukan itu Rajif, gw inget sesuatu aja gitu!” pernyataan Micky menyajikan sebuah teka-teki kepada sahabatnya.
“Nanti gw pulang rada telat ya? Soalnya gw musti kesuatu tempat” Micky minta izin kepada para sahabatnya untuk memakluminya.
“Ok, dan gw fikir lu pergi gak sendiri. Lu pasti perginya sama someone” Ricky menoleh kearah Raisa ketika kata terakir itu selesai ia kumandangkan.
“Emang. Gw bakal pergi bareng Raisa” jawab Micky tegas.
“Wish, tu kan bener. Yaudah duluan aja” Ghea pun seolah memberi lampu hijau untuk hubungan itu. Micky dan Raisa akhirnya beranjak dari Bekasi menuju tempat yang mungkin akan menjadi tempat terindahnya. Tapi mereka mulai merasa kaku dengan sikap masing-masing. Sigap, Micky menancap gas mobilnya menjauh dari para sahabatnya. Kesempatanpun terfikir, para sahabatnya pun berinisiatif mengikuti mereka. Langsung, merekapun mulai beraksi. Melihat wajah Micky yang manyun, Raisa mempunyai panggilan baru untuk sang lawan.
“Eh manyun, kenapa kita kaku kek gini?” pertama kalinya Raisa memanggil Micky dengan panggilan itu. Dan Raisapun yang membuka perdebatan sore itu menjadi sengit.
“La, kok manyun? Gw gak manyun keles. Lu aja tuh yang jelec” Mickypun menyaingi Raisa dalam perdebatan. Suasana yang tadi kaku sekarang mulai mencair dengan adanya perdebatan itu.
“Serah deh. Gw gak suka suasana kaku-kaku kek tadi. Eh, emang lu mau bawa gw kemana?”
“Gak kemana-mana. Punya pengen punya waktu bareng lu aja” kembali suasana menjadi beku.
“Jangan GR juga lu jelec. Gw Cuma butuh temen nemenin gw kesuatu tempat”
“Dimana?”
“Pantai. Sunset. trus masih banyak”
“Beneran? Gw mau banget. Gw kan udah lama gak liat sunset”
“Jadi lu udah pernah liat sunset? gw belum sama sekali”
“Kasian banget lu ya”
“Ye, kasian. Eh, kemaren awal jumpa kita gak enak banget. Gw minta maaf ya” pembicaraan menjurus keawal mata itu saling bertatap.
“Oh itu, gw juga. Walaupun sebenernya yang salah itu lu”
“Kok gw? Lu kali yang jalannya gak liat-liat”
“Siapa seh yang gak liat jalanan? Gw mah fokus mau nyebrang. Nah lu, malah mainin apa gw gak tau”
“Gw ngambil ponsel yang jatuh gara-gara getarannya yang dahsyat”
“Tapi kan gak musti gak musti ngorbanin gw”
“Iya-iya deh, maaf”
Dan hal tersebut membuat wajah Raisa menjadi bete. Berbeda dengan hal itu, sahabat mereka masih setia membututi mereka yang jarak mobil mereka hanya 10m. Hanya saja Micky dan Raisa tak menyadari akan hal tersebut.
“Eh, kayaknya mereka udah mau nyampe deh” sigap Ricky
“Tunggu-tunggu, ini kan?” Shodiq mencoba mengingat tempat yang didatangi Micky dan Raisa saat itu.
“Emang apaan Diq?” tanya Rajif tak tahu.
“Lo gak ingat Jif, Rick?”
“Gak” jawab mereka serempak tak tahu.
“Gw juga gak tau” jawab Shodiq. Dan tertawa keraslah medengar jawaban yang kocak.
Ya, pantai. Tempat yang akan dikunjungi Micky ketika rasa bosan menghantuinya. Juga, tempat yang selalu menjadi saksi dan mencatat setiap hal indah yang Micky lalui. Wajahnya terlihat berseri, bahkan sangat berseri ketika Raisa melempar senyum kepadanya. Tiba- tiba ia menggandeng tangan Raisa menuju suatu lokasi dimana disana tempat yang asyik untuk menyaksikan sunset. Dan, para sahabatnya masih setia menunggangi mereka dari belakang.
“Nyun, Lu sering kesini ya?”
“Lumayan. Sendiri, bareng sahabat gw, bareng orang yang berarti buat gw, bahkan juga bareng cewek nyebelin kayak lu sekarang”
“La, bersyukur kali gw mau jalan sama lu”
“HAHAHA, gw? Lu kali yang musti bersykur gw ajak kesini”
“Serah lah”
Raisa beranjak menuju hamparan ombak yang siap menyapu pasir disore nan mulai gelap itu. Hatinya memang dipenuhi rasa kebahagiaan saat itu. Dan ketika itu juga, Micky menyusulnya. Sedang asyik menelusuri pantai, tiba-tiba Micky menyiramnya dengan air asin khas pantai itu.
“Eh, apaan neh. Lu mau ngajak perang?” Raisa bersiap melawan Micky. Sigap, iapun menyiram Micky. Kesempatan itu digunakan sahabatnya mengabadikan kekocakan mereka dalam bentuk video dan juga photo.
“Hahaha, kena lu Mick” ucap Shodiq licik.
“Udah yuk. Ngapain seh kita jadi stalker gini. Mending pulang yuk!” ajak Ghea yang mulai tak betah dengan hal tersebut.
“Tanggung Ghe, mataharinya juga bentar lagi hilang Ghe” cegah Rajif.
“Alah Rajif, itu mah mau lu aja” sindir Ricky
Sebelum sunset, Micky dan Raisa telah basah karena ulah masing-masing. Niat yang tadi ingin melanjutkan perjalanan, terhalang karena mereka tak membawa baju ganti. Terpaksa mereka langsung menuju rumah masing-masing. Walau begitu, mereka terlihat sangat bahagia dengan moment hari itu.
Ketika telah berada didepan rumah Raisa, Raisa hendak langsung membuka pintu mobil Micky. Tapi keduluan dicegat Micky. Dan terjadilah hal yang mungkin akan dikenang oleh keduanya. Bibir mereka saling bertemu. Mereka hanya terdiam dengan kejadian itu. Hingga akhirnya mereka tersadar akan apa yang terjadi.
“Lec, thanks ea buat hari ini. Gw seneng bgt” tutur Micky kaku.
“Gw juga, walaupun lu orangnya nyebelin. Tapi gw juga seneng bgt” balas Raisa. Dan Micky berhasil membukakan pintu untuk Raisa.
“Maaf” ucap Micky tersenyum sambil menyentuh bibirnya. Raisa tahu akan yang dimaksud Micky, tapi ia hanya membalas dengan satu senyuman.
Ternyata, ketika Micky sampai dirumah, para sahabatnya belum juga sampai. Tanpa menghiraukan mereka Micky langsung masuk kekamarnya. Ingat bahwa Dan ada dirumah, ia mencoba melihat Dan dikamarnya. Pintu kamarnya tidak terkunci, juga belum tertutup rapat. Ia melihat Dan yang telah terbaring pulas, ia mendekati Dan dan karena Dan hanya memakai celana pendek boxer, ia memakaikan selimut kepada Dan agar ia tak merasa kedinginan. Tak lupa pula ia mematikan lampu ketika hendak keluar dari kamar Dan.

***

November 21, 2013
Hari ini gw bahagia banget, karena gw bisa menghabiskan waktu berdua dengan orang yang gw sayang. Tanpa gw dengar kicauan sahabat gw yang selalu bikin gw kesal. Dan satu hal yang bakal gw ingat. Ketidaksengajaan pertemuan bibir tadi. Itu moment terbai sepanjang masa.
Juga, sedih aja liat Dan sendirian. Gw musti ngerubah sikap gw ke-dia. Karena waktu gw juga berkurang dengan bergantinya hari. Gw harap gw bisa nerima dia kayak dia diterima Ricky juga Shodiq.

Berangsur, diary Micky sudah mulai habis akan tulisan-tulisan hatinya. Terfikir bahwa belum satupun kalimat yang ia tuliskan tentang belahan jiwanya. Ia senyam-senyum sendiri ketika mengingat setiap kali ia beradu mulut dengannya. Juga mulai timbul perasaan was-was, ia juga terfikir bagaimana jika nantinya ketika Raisa juga mempunyai rasa yang sama dengannya tetapi ia akan meninggalkannya untuk sementara atau selamanya. Tiba-tiba ponselnya berdering pertanda adanya pesan masuk.
“Ayo, tadi ngapain lu sama Raisa?” ternyata sms dari Shodiq. Yang mana Shodiq disuruh oleh Ricky dan Rajif.
“Lu Diq, emang gw ngapain tadi ya?” tanya Micky pura-pura tak mengetahui apa-apa tentang yang dibicarakan Shodiq.
“Hahaha, Micky Micky. Gw tau kali. Kita-kita kan ngikutin lu”
“Ha? Jadi?”
Tiba-tiba saja para sahabatnya telah berdiri didepan kamarnya dengan tawa yang tak bisa mereka tahan. Dan Micky, hanya bisa menahan amarah ketika privasi diacak-acak oleh para sahabatnya.
“Stop! Lu bertiga jangan masuk?” cegah Micky sebelum para sahabatnya melanjutkan langkah mereka kedalam.
“Lu kenapa Mick, biasa aja kali Mick” ucap Rajif santai menuju tempat tidur Micky
“Jif, gw bilang stop. Lu semua pada mikir gak, gw gak suka sama cara lu semua. Lu ngacak-ngacak privasi gw tau ndak” jelas Micky dengan emosi yang tak bisa diluapkan.
“Ha? Jadi Cuma karena itu?” tanya Shodiq dengan polosnya.
“Mick, emang salah kalo kita ngikutin lu?” mulai ada emosi yang muncul diperkataan Ricky.
“Menurut lu bertiga mungkin gak apa-apa. Tapi menurut gw?” benar, Micky meluapkan segala kekesalannya kepada sahabatnya malam itu juga setelah ia mengetahui mereka mengikuti perjalanannya bersama Raisa.
“Mick, dewasa kenapa? Kita-kita juga Cuma pengen tau lu gimana kok. Itu doank!” balas Rajif memberi alasan. Juga memyuruh agar Micky lebih bersikap dewasa.
“Ini neh, gw kan bisa cerita selesai gw pergi. Lu semuanya aja yang terlalu ingin tahu privasi gw” emosi Micky masih meluap.







































Terungkap

   Tingkah Micky memang telah keterlaluan. Ia memang tak bisa berfikir lagi ketika segala yang ingin ia wujudkan berubah jadi kekacauan yang membuat fikirannya keruh. Tapi secepatnya Micky meminta maaf kepada para sahabatnya. Ketika itu, para sahabatnya tengah sarapan dan telah berganti seragam sekolah. Rajif melihat Micky sinis. Tapi itu tak lama, karena Rajif tahu sikap Micky yang jika marah hanya bertahan sebentar. Ya, beginilah cara mereka berbaikan. Tak ada ungkapan resmi layaknya seseorang kepada seseorang. Mereka hanya melalui seperti air.
   “Maafin yang semalam ea? Gw parno bgt kalo privasi gw di acak-acak kek gitu” pinta Micky ketiga sahabatnya yang memang tak mempermasalahkan itu lagi.
“Gak apa-apa Mick, kita juga ngerti kok” jawab Ricky.
“Mick” sapa Dan singkat.
“Ada apa Dan?” tanya Micky pun singkat.
“Terimakasih” Dan hanya mengucapkan kalimat tersebut dan membuat yang lain penasaran. Juga Micky penasaran dengan apa yang dibicarakan Dan.
“Gini deh, gw ngomong sama lu juga Rajif sekarang. Jadi buat Shodiq dan Ricky maaf ea. Kalian duluan kesekolah. Hehehe” Micky bermaksud membicarakan segala hal yang telah dan akan ia lakukan terhadap Dan. Rajif, Micky akan memberi kepercayaan kepada Rajif untuk membimbing Dan kedepannya. Karena waktu Micky tak banyak lagi. Shodiq dan Ricky berangkat duluan kesekolah. Tinggalah 3 orang itu diruang tamu membicarakan maksud dan tujuan Micky mengumpulkan mereka berdua.
“Sorry, gw ngumpulin kalian disaat seperti ini. Tapi gw ingin kelar cepat. Terutama buat Rajif” Micky bermukaddimah sebelum ia masuk kepokok pembahasan.
“Kok gw Mick?” tanya Rajif singkat.
“Gini Jif. Jujur ea, gw sebenernya pengen grup kita berjalan lancar seperti ini. Kita berdua egois namanya Jif. Kita belum melihat kualitas dari Dan, tapi kita udah mandang dia kek gini”
“Mick, kalo seandainya kalian emang gak bisa nerima gw. Gak apa-apa Mick. Gw baik-baik aja” ucap Dan berlapang dada.
“Gw nerima dia Mick. Tapi, gw kan musti liat mentalnya dia kek gimana dulu. Baru awal kita kek gini, dianya udah nyerah. Seharusnya dia berusaha meyakinkan kita untuk bisa nerima dia kan?” ya, perkataan Rajif memang benar adanya. Perasaan Dan yang awalnya was-was, berubah menjadi perasaan yang tak bisa diungkapkan.
“Jadi Dan, bagaimanapun sikap kami ke lu. Lu jangan putus asa. Karena disini, bakal banyak hal yang akan lu saksikan. Bakal banyak hal yang terungkap. Bakal banyak hal yang tak akan bisa lu lupain” Rajif akirnya memberi kepercayaan kepada Dan untuk bergabung disini dengan segala hal yang ia miliki. Dengan segala hal yang bisa ia tunjukan kepada para sahabatnya.
“Guys, thanks banget udah nerima gw. Thanks banget buat pagi ini. Ini awal buat gw ngebuktiin kepada kalian dan juga kepada orang lain bahwa gw layak berada disini” dengan semangat Dan mengungkapkan isi hatinya yang tengah dilanda kebahagiaan yang teramat sangat.
Setelah pembicaraan yang lumayan serius, mereka menyusul Ricky dan Shodiq kesekolah dengan cepat. Dikarenakan Dan memang anak baru, jadi Dan harus melapor keruangan guru dimanakah kelas yang akan ia tempati. Dan kelas yang akan ia tempati adalah kelas dimana tak ada satu teman yang ia kenali disana. Dimana Micky dan yang lain tak menempatinya. Tapi dengan senag hati ia menerima kelas barunya itu.

***
“Kelas lu dimana Dan?” tanya Shodiq yang duduk berhadapan dengan Dan diruangan Kantin.
“11A2” jawab Da singkat yang masih menunggu pesanannya datang.
“Ha” semua sahabatnya terkejut mendengar kelas yang disebutkan Dan tadi.
“Emang kenapa dengan kelas gw?” Dan menanyakan hal yang ia ketahui tentang kelas yang telah ia duduki.
“Lu mau jujur apa bo’ong?” berbalik Shodiq memberi pertanyaan kepada Dan. Dua pilihan. Karena bohing ataupun jujur sama saja jawabannya.
“Diq, ribet lu ya. Ngasih jawabannya aja musti pake ToD segala” komplain Micky kepada Shodiq yang memang selalu bergurau dengan segala hal.
“Gini Dan, kelas 11A2 itu setau kita-kita itu kelas neraka. Kenapa? Lu bisa liat isinya Dan anak brandalan semua. Tapi gak tau seh menurut lu gimana” Rajif menjelaskan tentang kelas 11A2. Langsung saja Dan merasa rada aneh.
“Hahaha, emang kenapa kalo itu kelas neraka? Bahkan gw suka punya kelas kek gitu. Disekolah gw yang lama kelas ge juga disebut kek gitu. Tapi anak-anaknya pada asyik kok” jawaban Dan sangat berbeda dari apa yan difikirkan mereka.
“Jujur ya, gw lebih suka kelas kek gitu daripada kelas yang adem-adem ayem gitu. Garing tau gak. Mending brandal, tapi asyik dan juga heboh” lanjut Dan memuji kelas yang didominan anak-anak brandal.
“Yadeh-yadeh. Terserah lu. Oh ya, tadi pagi si Micky sama Rajif ngomong apa aja?” Shodiq bertanya penasaran akan hal yang dibicarakan Micky dan Rajif tadi pagi. Langsung keduanya hanya tersenyum membalas pertanyaan Shodiq.
“Oh itu, gak ada. Cuma mereka ngasih penjelasan aja tentang segalanya” masih Dan menjelaskan semuanya.
“Eh Diq, lu kepo ya!” canda Micky
“Iya donk. Kalo gak kayak gitu, gw gak maju-maju” jawab Shodiq cuek menjulurkan lidahnya kepada Micky. Mereka tak pernah menemukan orang sekocak Shodiq sebelumnya, hanya ia yang bisa mencairkan suasana dengan gokilnya sikap yang ia miliki. Rajif merasa ia perlu berbicara dengan Ghea, karena feeling-nya selama ini ternyata salah terhadap Ghea.
“Guys, gw cabut dulu ya!” Rajif langsung saja mencari Ghea tanpa mempedulikan sahabatnya lagi. Karena bagaimanapun, ia telah salah.
Berbeda tempat dengan mereka, Raisa dan Ghea malah asyik menceritakan segala hal yang Raisa lalui bersama Micky kemaren. Tapi diselang pembicaraan Ghea malah memtong pernyataan Raisa karena apa yang dibicarakan Raisa telah ia lihat. Lain sikap dengan Micky, Raisa hanya tersenyum ketika Ghea menceritakan bahwa ia dan sahabat Micky menguntiti mereka kemana mereka pergi.
“Jadi, lu udah pacaran sama dia?” pertanyaan yang sebenarnya ingin ia jawab dengan jawaban ‘ya’. Tapi dikenyataan, Micky belum mengungkapkan maksud hatinya kepada Raisa.
“Belum” jawab Raisa singkat tanpa memperdulikan perasaan yang sebenarnya merasa kurang nyaman dengan statusnya sekarang.
“Ha? Masih belum ditembak?” Ghea terkejut mendengar pernyataan Raisa yang ternyata masih belum mempunyai hubungan yang pasti antara Raisa dan Micky. Tiba-tiba Rajif muncul saja didepan mereka berdua.
“Jif, lu gak sama sahabat-sahabat lu ya?” tanya Raisa yang memang tak mengetahui hubungan antara Rajif dan Ghea.
“Oh itu, Cuma gw ada perlu aja sekarang sama Ghea” Rajif menjelaskan.
“Oh. . . ok, gw cabut ya Ghe” dan Raisapun berlalu dari hadapan mereka. Setelah Raisa pergi, barulah terjadi pembicaraan yang serius antara dua insan yang pernah menjadi sepasang kekasih itu.
“Kamu mau ngomong apa?”
“Mau ngomong apa ya. Jadi ngilang gini”
“Kok gitu seh, katanya mau ngomong sesuatu?”
“Ya kan jadinya grogi aja”
“Masih grogi? Santai aja”
“Maaf aja karena sikap aku kemaren kekamu”
“Yang mana?”
“Yang aku mikirnya kalo Micky itu punya perasaan sama kamu. Ternyata gak”
“Ha? Kan Micky sukanya ke Riasa. Lagian emang siapa yang bilang dia suka sama aku?”
“Aku sangat-sangat minta maaf Ghe, aku parno”
“Gak apa-apa ko Jif. Aku juga udah lupai hal itu”
“Jadi?”
“Jadi apa?”
“Kita mulai dari awal lagi!”
“Maksudnya apa neh?”
“Aku pengen kita kek dulu lagi. Dimana aku dan kamu jadi kita”
“Kesambet apa Jif? Perasaan dulu gak gini-gini amat”
“Aku kan juga belajar dari segalanya”
“Berarti udah pinter dong gombalin setiap  cewek?”
“Hehehe, gak lah. Jadi gimana neh Ghe? Apa perlu aku teriak disini lagi kayak tahu kemaren?”
“Jangan lah Jif”
“Tapi kamunya gak ngerespon pertanyaan aku”
“Ya deh aku jawab”
Ghea berfikir ragu. Rajif menahan-nahan hati. Perasaan cemasnya lebih besar dari pertama ia menyatakan cinta kepada Ghea. Karena Ghea masih lama memikirkan jawaban apa yang akan ia jawab, kembali Rajif melakukan hal yang ia lakukan sebelumnya.
“Semuanya” teriak Rajif yang mengundang perhatian teman-temannya yang berada disekitar itu. Sahabatnya yang telah selesai makan tadi dan tenga berbincang didepan kelas juga tertarik untuk melihat kejadian siang itu. Merekapun mendekati tempat yang telah dikerumuni teman-teman satu sekolah mereka.
“La, itu kan Rajif!” ucap Dan. Melihat kejadian tersebut, Micky Shodiq dan Ricky mengingat kejadian tahun lalu yang persis sama dengan apa yang mereka lihat sekarang.
“Ghea” mereka bertiga berteriak histeris. Karena apa yang mereka fikirkan, memang benar adanya. Disana juga ada Ghea yang tepat berada disamping Rajif.
“Guys, tahun lalu gw juga sempat berdiri disini untuk memastikan apakah gw diterima oleh cewek yang gw sayang. Sekarang, gw harap apa yang gw lakuin ini samahalnya dengan apa yang terjadi tahun lalu” Rajif kembali berteriak agar status hatinya pasti.
“Jadi gimana Ghe? Apa kamu?”
“Gini, tahun lalu memang ada hal yang tak terlupakan. Tahun lalu, aku memang merasakan perasaan itu. Tapi sekarang” Ghea masih ragu-ragu dengan jawaban apa yang akan ia katakan. Perasaan was-was Rajif bertambah ketika ia melihat teman-temannya tersenyum kepadanya dianatara keramaian.
“Ne anak nekad mulu ya!” celoteh Ricky.
“Emang dulu Rajif pernah nembak Ghea?” tanya Raisa tak tahu-menahu tentang itu.
“Mending Micky yang jelasin ya Sa” canda Shodiq.
“Apaan seh lu Diq” kesal Micky. Juga terjadi pandangan yang tak bisa antara mereka berdua.
“Kalo dilihat dari pandangan Ghea ke Rajif bakalan diterima neh” potong Dan.
“Kalo Raisa ke Micky?” kembali Shodiq membuat suasana menjadi berantakan.
“Jujur ya, bakalan diterima juga” sigap Dan.
“Ngapain seh bahas ini, mending liat tu anak mau ngapain” Micky menunjuk kearah Rajif yang memang terlihat berbeda.
“Ghe, aku Cuma pengen mendengar jawaban kamu. Terserah kamu mau bilang apa, yang penting kamu jawab. Please!”
“Iya” jawab Ghea singkat. Jawaban itu langsung membuat suasana menjadi indah. Rajif terpekik bahagia dengan jawaban yang ia dapat. Ramalan Dan pun memang benar.
“Iya kan, diterima” ungkap Dan belagak sombong.
“Dan berarti” Shodiq tak ingin kehilangan akal untuk membuat sahabatnya memerah.
“Udah Diq, kita kekelas yuk! Lagian udah selesai kan” semua kembali kekelas masing-masing tanpa terkecuali.
Karena Dan sendiri dikelasnya, maka sahabatnya menemaninya hingga sanpai kekelas.  Dan tak ada yang mereka ucapkan ketika telah sampai dikelas Dan, karena mereka menyadari mereka takut masuk kekelasnya Dan. Melihat teman sekelas Dan saja, mereka canggung. Yang berani mereka lakukan melanbaikan tangan kepada Dan tanda mereka pamit untk masuk kekelas masing-masing. Dan hanya memaklumi sikap kawan-kawannya.

***

Dari awal Ricky dan Shodiq memang merahasiakan kisah cinta mereka. Tak ada satupun yang benar-benar tahu bagaimana kisah cinta mereka berlalu. Hingga pada suatu pembicaraan, menjuruslah pembicaraan kekisah cinta masing-masing.
“Rick, maaf ya. Kemaren gw kan megang ponsel lu. Nah, ternyata ada pesan masuk dari yang namanya Flo. Bisa lu jelasin ndak dia siapa?” tanya Shodiq yang memang kemaren Ricky menitipkan ponselnya kepada Shodiq.
‘Terungkap juga deh jadinya’ ungkapnya dalam hati.
“Rick, jujur kali sama kita” usaha Dan agar Ricky bisa menjelaskan semuanya kepada mereka.
“Pacar gw” jawab Ricky memerah.
“Aciye. . .”
“Maaf neh sebelumnya Rick, dari awal lu kan gak bilang kalo lu punya pacar. Sejak kapan coba lu punya pacar?” pertanyaan itu keluar dari mulut Micky yang memang tak sabar mendengar penjelasan lebih lanjut dari Ricky.
“Oh itu, tahun lalu. Dan sebelum Rajif nembak Ghea” Ricky mencoba jujur menjawab setiap pertanyaan sahabatnya.
“Juga, sekarag kita lagi LDR gitu. Dikarenakan dia udah pindah ke Makassar. Tapi, akhir tahun ini dia bakal balik ke Jakarta lagi” lanjutnya.
“Berarti malam tahun baru bareng dia dong?” Dan membuat Ricky kembai memerah.
“Mungkin aja kan?” balasnya.
“Jadi, yang setiap malam nelpon itu lu? Yang tertawa sendiri itu?” Rajif melemarkan pertanyaan yang ia rasa sering ia dengar disetiap malam. Jawabannya hanya sebuah senyum dari Ricky. Ricky telah menjelaskan kisah cintanya kepada semua. Dan mata mereka tertuju ke Shodiq yang memang sangat susah mendapatkan cinta. Melihat tatapan yang tak biasa diantara sahabatnya, Shodiq mencoba melarikan diri. Tetapi terlebih dahulu ditahan oleh Ricky.
“Ayo, mau kemana lu Diq? Sekarang giliran lu” pungkas Ricky.
“Ya, kok gw seh. Dan kan juga” potongnya.
“Ada waktunya kali Diq. Yang selalu bikin onar kan lu, jadi lu duluan” jelas Rajif.
“Yadeh-yadeh” Shodiq mengalah dan kembali duduk diantara sahabat-sahabatnya.
“Dimulai deh Diq” pinta Micky.
“Sampe sekarang gw masih belum berani pacaran” Shodiq memulai mejelaskan.
“Kenapa?” Rajif memotong pembicaraan Shodiq
“Gak tau juga seh, tapi gw lebih suka lihat lu pada pacaran aja. Gw masih belum punya nyali besar untuk pacaran” lanjutnya.
“Lu kan orangnya kocak Diq, masa gak punya nyali buat pacaran?” Dan mencoba meyakinkan Shodiq untuk lebih percaya diri.
“Dulu sempat seh nembak cewek, tapi ditolak. Trauma aja gw berurusan sama hawa-hawa itu” disela pembicaraan serius, Shodiq masih mengusahakan suasana yang sedikit cair.
“Ha? Don’t give up Diq” hibur Micky.
“Jadi kapan lu mau nyari pacar?” pertanyaan yang keluar dari Micky membuat Shodiq shock. Bagaimana tidak, seolah pertanyaan itu menusuk keras dijantungnya.
“Kita liat nanti aja deh” jawabnya jutek.
“Dan sekarang giliran . . .” Rajif hanya mengucapkan setengah kalimat itu. Karena memang hanya Dan yang belum menjelaskan kisah cintanya.
“Oh gw, gw seh lagi berusaha buat gak pacaran. Karena sekarang tujuan gw ini dulu. Nanti kalo emang ketemu kenapa gak” Dan menjelaskan dengan dewasa.
“Tapi sebelumnya lu pernah pacaran gak?” seolah-olah pertanyaan Rajif memberi tema pembicaraan hari ini ‘kepo time’.
“Dulu seh sempat pacaran dengan adik keas gw waktu SMP. Gw nya aja bodo’ dikerjain sama dia. Dianya malah lari sama sahabat gw” Dan telah tegar dengan kejadian yang menimpa dirinya diwaktu SMP. Memang itu adalah hal yang tak akan hilang dalam hidup. Tak akan pernah.
“Dan bertahannya pun Cuma 10 hari” lanjutnya.
“Wow, sampe sekarang lu udah pernah bertemu dia belum?” tanya Ricky.
“Belum” balasnya singkat. Dan jelaslah bagaimana kisah cinta mereka masing-masing. Ricky yang ternyata mempunyai seorang pacar dan mengalami LDR. Shodiq yang masih dalam pencarian. Serta Dan yang berusaha tak memikirkan hal-hal seperti itu. Pertanyaan langsung mendarat kepada Micky dari Shodiq.
“Lu Mick, udah pasti belum status lu sekarang?”
“Status apa?” Micky bertanya seolah tak mengerti dengan pertanyaan Shodiq.
“Tu kan. Giliran ditanya pura-pura gak tau” lanjut Shodiq kesal.
“Itu tuh sama si JELEC” sindir Rajif.
“Kalo si Rajif kan udah pasti tuh balikan sama Ghea. Nah lu?” kembali Ricky memaksa Micky untuk berbicara statusnya dengan Raisa.
“Kita ikutin aja alurnya dulu. Mana tau gw sama dia beda jalan nantinya” Micky berusaha menyembunyikan perasaannya yang was-was.
“Tapi lu berharapkan?” pancing Shodiq. Dan yang tak mengetahui apa-apa hanya diam melihat para sahabatnya meng-interview Micky. Micky membalas dengan senyum licik. Suasana ruang tengahpun berisi banyak cerita yang canda setelah semua menjelaskan cerita masing-masing yang berbeda. Walau hanya membahas kisah cinta, tapi Shodiq mempunyai banyak materi untuk membuat sahabat-sahabatnya malu.

***

November 30, 2013
Hari ini banyak cerita, kami membahas kisah cinta masing-masing yang memang sangat berbeda. Rajif dan Ricky memang mempunyai status yang pasti. Shodiq masih mencari, Dan tak ingin memikirkan hal itu sekarang. Nah gw? Gak tahu musti ngeletakin status apa dihati gw. Walau begitu, gw senang ternyata hadirnya Dan memberi warna baru dalam hidup kami.
Perasaan gw juga was-was, karena waktu gw hanya tinggal sebulan penuh lagi. Gw belum miirin gimana acara ultah Rajif, gimana cara gw nyatain cinta ke Raisa, juga materi tahun baru belum ada. Gw Cuma masih jalan ditempat aja. Semoga 4 atau 5 hari sebelum ultah Rajif semua sudah terfikirkan dan bisa terwujud dan berjalan dengan lancar.

Micky tak lupa menuliskan setiap kejadian yang ia lalui kedalam diary yang memang ia siapkan setelah mamanya memintanya untuk terbang ke Jerman bersama sang mama. Hany itu yang akan bisa ia berikan kepada para sahabatnya. Juga ia masih menyimpan beberapa fotonya bersama sang sahabat, tapi sebelum Dan datang. Niatnya, ia ingin mengabil gambar baru berlima dengan Dan.
“Jelec, gw bisa minta waktu sama lu gak?” Micky kembali mengirimi Raisa pesan. Ada hal yang sangat perlu ia bicarakan dengan Raisa.
“Bisa. Gw juga mau ngomong sesuatu sama lu” jawab Raisa singkat diseberang sana.
“Besok malam gw jemput lu, gw mau hanya kita”
“Ok”
Paginya Micky menjemput Raisa kerumahnya. Tak sadar dengan kedatangan Micky, karena Micky janjinya malam ini. Hingga sang mama harus mengingatkan Raisa bahwa Micky datang menjemputnya.
“Nyun, lu kan bilangnya nanti malam” protes Raisa telah duduk disamping Micky.
“Iya, emang gak boleh jemput lu?”
“Ya boleh seh, tapi kabarin dulu kek ato gimana”
“Yaudah maaf deh”
Micky langsung manancap gas mobilnya menuju sekolah. Tanpa perbincangan yang pasti. Micky tak bisa mengucapkan kata-kata apa, karna yang ia fikirkan bagaimana acara nanti malam berlangsung sesuai dengan yang ia inginkan. Tak lama pula, mereka telah sampai disekolah. Sahabat-sahabatnya telah sampai duluan kesekolah.
“Jam 7 udah cantik ya!” pinta Micky. Karena Micky ingin Raisa terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Selain membicarakan tentang perasaan, Micky akan menjelaskan segala rencananya kepada Raisa. Micky hanya menghitung jam untuk menjelaskan segalanya. Perasaannya berbeda, jam istirahatpun Micky tak keluar. Karena ia takut, takut nantinya keceplosan disaat pembicaraan dengan para sahabatnya. Mengingat pesan yang dikirim Micky kepadanya bahwa hanya ada mereka berdua, niat untuk membicarakan kepada yang lainnyapun diurungkan. Para sahabat hanya diam melihat sikap Micky yang tiba-tiba berubah itu. Sampai malam menjelang Micky tetap tak berbicara kepada sahabatnya.
“Jif, gw keluar bentar ya. Bilang sama yang lain” Micky meminta izin kepada Rajif. Rajif tak sempat menjawab Micky karena Micky terlebih dulu hilang dipenglihatannya. Micky langsung menuju kerumah Raisa untuk menjemputnya. Raisa terliaht sangat menawan dengan gaun pink hingga lutut dan juga sedikit polesan dipipi. Micky tak bisa berkata apa-apa dengan itu. Ia hanya bisa memandangi Raisa. Akhirnya mereka sampai ditempat yang ternyata Micky membawa Raisa kemaren. Telah tersedia bangku ditempat yang paling strategis. Dari awal, Micky telah mempersiapkan dengan baik tempat itu. Juga telah disediakan menu yang dipesan leh Micky.
“Kamu cantik” puji Micky singkat atas apa yang ia lihat.
“Terimakasih” jawabnya merendah.
“Jadi apa yang bakal diomongin neh. Jangan bikin penasaran ya?”
“Mending makan dulu deh, nanti semua pasti akan aku jelaskan”
Menu yang tersedia tadipun disantap dengan nikmat oleh mereka sampai-sampai mereka terasa kenyang dan berhenti.
“Yaudah, omongin geh” paksa Raisa. Micky menahan setiap aura negarif yang ada dalam dirinya. Dia hanya mencoba jujur dengan segala hal yang telah ia tutupi selama ini.
“Terimakasih untuk selama ini ya Jelec, gw seneng”
“Hanya itu?”
“Janji lu gak bakal cerita kesahabat-sahabat kita sebelum waktunya?”
“Janji deh”
“Selesai liburan panjang nanti. Gw bakal pindah”
“Pindah kemana?”
“Ke Jerman”
“Ha? Jerman?”
“Iya, orang tua gw udah ngurus segalanya buat perpindahan gw. Tinggal pergi aja”
“Kenapa gak bareng gw aja seh kesana?”
“Maksudnya?”
“Iya, setelah lulus baru kita ke Jerman. Orang tua gw kan disana sekarang”
“Sebenernya, hari ini gw udah terbang. Tapi, karena gw ingat 3 hal yang harus gw wujudin sebelum gw pergi. Makanya orang tua gw ngasih waktu ke gw”
“3 hal. Jelasin lah?”
“Pertama, gw pengen ngerayain ultahnya Rajif untuk yang terakhir. Kedua, gw ingin tahun baruan sama kalian. Dan ketiga, gw ingin jujur dengan perasaan gw ke lu” suasana mulai berubah, Raisa mencoba menelan semua perkataan Micky.
“Tunggu, selama ini gw senang jalan sama lu nyun. Tapi, lu gak pernah jujur bakal ke Jerman secepat ini”
“Tapi Lec, gw juga musti menggapai cita-cita gw disana. Ini kesempatan terakhir gw Lec”
“Kesempatan terakhir? Trus bagaimana dengan gw? Sahabat-sahabat lu?”
“Gw juga bakal bilang kemereka. Secepatnya”
“Terserah lu Mick” Raisa marah, dan yang hanya bisa ia lakukan pergi dari sana dan pulang. Micky mencoba menahannya, tapi Raisa tak merespon. Dan dengan terpaksa Raisa mau diantar Micky pulang tapi tak ada yang diucapkan Raisa dan Micky selama perjalanan. Nyampe rumahpun Raisa tak mengucapkan satu katapun. Dia menelan kecewa besar. Sangat besar. Micky langsung menuju kamar Rajif dan memeluknya. Air matanya mengalir begitu saja. Rajif merasa aneh dengan apa yang ia lihat.
“Mick, lu kenapa?”
“Jif, besok gw gak masuk kesekolah ya. Bilang aja sakit”
“Iya, tapi jelasin dulu lu kenapa sampe kek gini?”
“Gw masih belum bisa cerita Jif”
“Ok deh, lu tidur disini aja ya?”
Jelas Micky tak bisa menjelaskan disaat ia tengah dilanda kesedihan yang amat besar. Tak ada yang bisa menebak kenapa Micky bisa menangis seperi ini. Karena Micky adalah orang yang slama ini susah untuk menangis

***

Micky memutuskan untuk tidak masuk kesekolah. Tak jauh berbeda, Raisa juga tak menghadiri pelajaran hari ini. Keanehan dirasakan para sahabatnya. Apakah sesuatu terjadi antara Micky dan Raisa?
“Ghe, Raisa ada cerita sesuatu sama lu?” tanya Ricky.
“Gak ada. Emangnya kenapa?” Ghea berbalik menanyakan hal yang sama.
“Gini Ghe, tadi Rajif cerita kekita. Katanya semalem Micky nangis sehabis pulang dari mana gitu. Kita seh mikirnya ada hubungannya sama Raisa” Ricky menebak dengan pasti apa yang tengah terjadi antara Micky dan Raisa.
“Malahan gw belum dapet kabar dari Raisa. Nanti deh gw coba cari informasi kerumahnya” janji Ghea yang akan mencari informasi kerumah Raisa. Pembicaraan tentang Micky dan Raisa terus berlanjut hingga akhirnya Rajif, juga Dan datang.
“Hayo, lagi bicarain siapa?” tanya Rajif becanda.
“Ada Rajif neh. Takut, nanti ditendang” Shodiq kembali menyudutkan Rajif, tapi Rajif telah kebal. Karena dia lebih berhak dari Shodiq.
“Ada yang kurang deh kayaknya?” Ghea coba menebak.
“Emang iya. Tuh si Ricky, kebetulan akhir-akhir ini dia sibuk sama ponselnya” tutur Dan memberi teka-teki.
“Sibuk sama ponsel. Emang dia dapet kerjaan baru?” Ghea tak mengerti dengan segala hal yang diungkap Dan.
“Bukan, ceweknya dia bakal balik ke Jakarta” lanjut Dan.
“Ha? Flo?” Ghea tak menyangka bahwa Flo adalah pacar Ricky. Flo yang dulu selalu menjadi musuhnya. Yang selalu menjadi biang disetiap masalah yang ia hadapi.
“Iya, emang kamu kenal dia?” tanya Rajif.
“Siapa seh yang gak Flo. Cewek yang pernah mati dengan musuh” Ghea mengingat masa-masa nya awal semester bersama Flo.
“Dia pernah sekolah disini?” tanya Shodiq shock.
“Iya. Emang kalian gak tau? Yaiyalah kalian gak tau. Kami kelas 10A4, sedangkan kalian kelas 10C6” Ghea menjelaskan lebih rinci.
“Oh gitu, jadi Ricky pacaran sama devil dong!” tebak Shodiq.
“Hush Diq. Jangan bicara kek gitu. Mana tau Flo itu sekarang udah gak jahat lagi kan” pungkas Rajif dewasa.
Ricky sekarang memang terlihat lebih sibuk. Sibuk dengan cintanya yang dipisahkan oleh jarak. Yang tak lama lagi akan bertemu kembali setelah satu semester lebih tak bertemu. Para sahabatnya hanya memaklumi itu. Micky dan Raisa yang dilanda sedikit kesalahpahaman yang tak sempat Micky jelaskan pada Raisa. Kembali Micky membuka diary-nya untuk meluapkan segalanya.

December 2, 2013
Gw bener-bener dilanda perasaan yang sangat tak wajar. Perasaan yang belum pernah gw rasa sebelumnya. Niat untuk menceritakan dengan baik, berubah drastis setelah Raisa menganggap bahwa gw gak jujur sama dia. Gw sayang sama dia, gw pengen dia jadi milik gw.
Sekarang, gw pasrah sama waktu yang nuntun hubungan gw sama dia. Gw ikhlas seandainya kalo akhirnya gw gak bisa bersatu sama dia, jika dia bisa bahagia dengan orang lain. Sahabat-sahabat gw, gw harap kalian semua mengerti dengan semua ini. Jika nanti gw pergi sebelum waktunya, gw titip segala hal tentang kita. Gw juga nitip Raisa ya!!

Micky tlah memiliki rencana untuk merayakan ultah Rajif. Dia hanya mengirimi teman-temannya apa yang ia rencanakan nantinya.
‘Guys, gw punya rencana. Bagaimana nanti kalo ultahnya Rajif kita bikin pesta dipantai tempat kemaren. Sebelumnya, kalian jangan nyapa dia dulu ya. 3 atau 4 hari gitu deh. Biar dianya gak tau kalo kita ngerjain dia. Jangan lupa kaih tau Ghea juga Raisa’ balasan yang dikirim Ricky, Shodiq, juga Dan menerima rencana Micky. Dan 3 hari sebelum ultah Rajif rencanapun dijalankan. Tapi Micky masih tetap tak disapa Raisa. Janji yang Raisa ucapkan kepadanya, tetap Raisa pegang. Yaitunya tidak menceritakan kepada para sahabatnya bahwa ia akan terbang ke Jerman jika belum waktunya.

***

Rajif merasa heran dengan ke-4 sahabatnya, sahabat yang selalu berbicara banyak kepadanya. Kini tak mengucapkan satu kalimatpun. Rasa sedih mulai menghingggapi, karena Ghea sang pacar juga tak ingin berbicara kepadanya. Satu dua hari ia menerima sikap para sahabatnya, dihari kelahirannya ia komplen kepada sahabatnya yang tengah berbincang-bincang.
“Woy, salah apa seh gw sama kalian? Sehingga kalian kek gini sama gw?” Rajif tetap mengoceh, tapi tak ada satu sahabatnya yang merespon pertanyaan Rajif. Ditengah ucapannya, sang ponsel berdering ‘Aku musti bicara penting sama kamu. Aku tunggu nanti malam jam 8 dipantai tempat biasa’. Rajif tak membalas, tapi ia berjanji dalam hatinya akan datang tepat waktu. Menurutnya mungkin ada hal yng penting dibicarakan Ghea, padahal sebenarnya mereka ingin mengadakan birthday party untuk Rajif.
Rajif bersiap-siap untuk datang kepantai. Berdandan layaknya model. Celana Skiny-jeans abu-abu dan dipadu dengan kemeja yang ditutupi cardigan abu-abu seolah memberi kesan dewasa pada diri Rajif. Para sahabatnya oun telah siap-siap juga untuk datang ketempat pesta. Sebelum Rajif sampai kelokasi, sahabatnya telah dulu sampai dilokasi. Tapi ada yang aneh, yaitunya Micky dan Raisa yang masih belum ada pembicaraan. Sahabat mereka cuek, karena hari ini adalah harinya Rajif. Ghea duduk dibelantaran daun kelapa yang sengaja didekor demi malam itu. Ghea terlihat sangat cantik dengan gaun hijau muda yang disatukan dengan bando putih kesukaannya. Rajif mendekatinya. Para sahabatnya telah bersiap-siap dengan aksi masing-masing.
Rajif tak menginggat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya, otomatis ingatan ulang tahun hilang begitu saja. Fikirannya tentang pesta ulang tahun juga tak ada, ia hanya terfikir kenapa 3 hari ini para sahabat dan pacarnya tiba-tiba tak ingin bicara kepadanya. Dan juga tiba-tiba Ghea mengajakinya untuk bertemu ditempat yang memiliki sejarah untuknya dan juga sahabatnya.
“Aku telat gak?”
“Gak, bahkan tepat waktu”
“Tunggu, kamu anggun banget malam ini Ghe. Oh ya, emang mau bicara apa?” wajah Rajif berubah menjadi was-was. Apakah Ghea akan mengucapkan kalimat yang tak ingin dia dengar? Ghea mulai memasang wajah murung, sedih.
“Rajif, aku sayang sama kamu. Dan sepertinya malam ini . . .” Ghea menahan agak lama kalimatnya. Menunggu ia melihat sahabat-sahabatnya keluar dari persembunyian.
“Malam ini kenapa?” Rajif mendesak Ghea untuk melanjutkan kalimatnya.
“Sepertinya malam ini . . .”
“Happy Birthday to you ..........” para sahabatnya keluar dan membawa sebongkah kue berbentuk hati kehadapannya. Rajif tercengang dengan pemandangan malam itu. Karena tak ada fikiran sampai kesana. Sahabat dan pacar yang kemare dingin kepadanya, ternyata mempunyai satu ambisi. Yaitunya ulang tahunnya.
“Ghe, jangan bilang ini ide kamu?”
“Bukan, itu idenya Micky”
“Micky, lu” Rajif mengejar Micky, tapi Micky tak tinggal diam. Ia lari secepat mungkin ditepi hempasan pantai. Disaksikan oleh sahabat mereka yang tak henti-henti tertawa. Micky akhirnya menyerah setelah ia dan Rajif sama-sama jatuh dihempasan pantai. Mereka saling tertawa.
“Mick, lu tega ya sama gw. 3 hari itu lama tau Mick” Rajif berusaha mengingatkan kejadian kemaren kepada Micky. Micky tak menggubris, ia masih tertawa dengan kencangnya.
“Tapi gw berhasil kan?” tutur Micky. Tak lupa Shodiq mengabadikan moment dimana Micky dan Rajif berendam di pantai. Karena ulah mereka yang jahil, mereka juga memaksa Ricky,Dan, juga Shodiq untuk gabung bersama mereka. Tapi acara inti belum, makanya mereka tak jadi gabung dengan Rajif dan Micky.
“Thank you banget buat semua yang hadir hari ini. Thank you banget buat pacar, juga sahabat-sahabat gw yang udah ngerjain gw selama 3 hari kemaren. Swear, gw gak ingat hari ini adalah hari ultah gw. Big tahks buat semuanya” ungkap Rajif.
“Tapi sebelum gw niup lilin ataupun motong kue. Gw boleh minta satu permintaan gak ke Micky?” pinta Rajif.
‘Mampus deh’ keluh Micky dalam hati.
“Gw pengen malam ini status hubungan lu sama Raisa itu pastinya malam ini” permintaan yang akan sulit untuk dipenuhi.
‘Tu kan. Tuhan, tolong aku’ kembali ia mengeluh dalam hati.
“Ternyata saya dikerjain juga” keluhnya. Ghea menarik tangan Raisa untuk berdiri tepat disamping Micky. Pandangan Raisa masih sinis kepada Micky. Memang keduanya memiliki perasaan yang sama. Tapi mereka berdua memiliki persepsi yang berbeda-beda.
“Ok, sebelum status diantara kami dijelaskan. Saya mohon dengan sangat, mohon dijelaskan apa rencana yang telah dibuat Micky kepada kita semua yang ada disini” Raisa mengalihkan pembicaraan. Wajah semua yang hadir berubah menjadi serius. Semua tak tahu akan apa yang dibicarakan Raisa.
“Sa, kamu salah tempat kalo ingin dengar penjelasan tentang itu”
“Mick, emang tentang apa?” sorak Ricky.
“Please, gw harap kalian gak dengerin ucapan Raisa. Kita ingin malam ini seneng-seneng kan?” Micky kembali mengalihkan ke acar semula.
“Sepertinya terjadi kesalahan teknis pemirsa. Masalah itu biar nanti dijelaskan dibelakang layar. Yang jelas sekarang pesta ini musti berlangsung dengan semestinya” ungkap Ricky.
Kembali ke awal, pesta berlangsung. Setelah tiup lilin dan potong kue, Micky menarik Raisa jauh dari kerumunan.
“Sa, gw mohon banget. Ini hari kebahagiaan Rajif. Gw gak mau sahabat-sahabat gw sedih”
“Trus mau sampe kapan lu kek gini Mick”
“Sampe gw nemu waktu yang tepat untuk ngejelasin kemereka”
“Mick, lu salah. Semakin lama lu mendam ini, semakin berat buat lu menjelaskan semua kemereka. Apa salahnya seh? Cuma menceritakan”
“Tunggu-tunggu. Ini maksudnya apa ya?” tanya Dan yang telah berdiri dari tadi tak jauh dari tempat Raisa dan Micky.
“Dan? Sejak kapan lu disitu?” tanya Micky heran.
“Sejak lu narik Raisa dari pesta” jelasnya.
“Syukur deh ada Dan disini. Gw bisa cerita kedia sekarang” pancing Raisa.
“Cerita apa?” Dan ingin mendengar semua penjelasan dari apa yang tadi ia dengar.
“Dan, gw bisa jelasin. Tapi gw minta sama lu untuk nyimpan ini” akhirnya Micky mencoba untuk menjelaskannya kepada Dan.

***

“Gak bisa secepet itu dong Mick?” komplen Dan setelah mendengar semua penjelasan Micky dan Raisa.
“Dan, maaf banget gw baru cerita. Tapi gw musti gimana? Gw gak ada jalan lain” seolah, hanya itu jalan yang Micky punya untuk masa depannya.
“Tapi kan Mick” tak sempat mengakhiri kalimatnya. Micky terlebih dahulu memotong kalimat Dan.
“Gw percaya sama lu Dan. Lu satu-satunya orang yang tahu diantara kita berlima” Micky berlalu dan kembali kedalam pesta malam itu. Hanya tinggal Raisa juga Dan. Tiba-tiba saja Dan merasakan perasaan aneh ketika ia memandangi Raisa lebih lama. Mickypun melihat tatapan Dan kepada Raisa bahwa sebenarnya Dan memiliki perasaan yang juga dimilki Micky kepada Raisa. Mungkin siapa yang akan ia percayai untuk melindungi Raisa adalah Dan.
“Sa, lu suka kan sama Micky?”
“Kok lu nanya gitu?
“Gak, gw Cuma mastiin aja”
“Emang seh gw suka sama dia. Kemaren dia ngajak dinner juga. Trus dia juga nembak gw. Tapi gara-gara ini gw gak jawab perasaannya” perasaan Dan mulai aneh lagi saat ia mendengar pengakuan dari Raisa. Ada panah yang tertancap dihatinya, dan itu sangat sakit sekali.
“Kenapa gak jawab langsung aja seh?”
“Gak tau juga seh”
“Nanti lu nyesel lo”
“Udah jangan mikirin itu, meding balik ke party yuk”
Setelah party selesai, semua balik kerumah masing-masing. Ghea meminta Micky mengantarkan Raisa kerumahnya. Tapi Ghea memilih untuk diantarkan Dan. Jelas sekali ada masalah diantara mereka berdua. Dan yang bukan siapa-siapa, sepertinya akan menggantikan kedudukan Micky dihati Ghea. Micky memaklumi keadaan itu, walau hatinya terasa perih sekali.
“Dan, sebelumnya thanks ya udah mau ngaterin gw”
“Sep Cha”
Apa yang bisa dilakukan ketika seorang idaman hati tak mau lagi menyapa kita? Hanya bisa menunggu waktu yang menentukan. Walau bagaimanapun akhirnya, Micky akan menerimanya.

December 10, 2013
2 hal yang tak akan gw lupain hari ini. Pertama, sukses ngerjain Rajif dan juga sukses ngasih party birthday buat dia. Juga perbedaan pendapat dengan Raisa, hal menyedihkan. Karena ia lebih memilih pulang dengan Dan daripada gw.
Itu juga gak apa-apa. Sekuarang-kurangnya gw udah nemuin orang buat nemenin dia saat gw jauh. Jikapun dia harus jadian dengan Dan gw ikhlas.
Setelah menulis segalanya, Micky keluar dan duduk diatas genteng rumah. Hal aneh yang selalu terjadi ketika salah satu dari mereka sedih. Disaat dia tengah tenang diatas genteng sambil memasang headset ketelinganya, Rajif masuk kekamarnya hendak ingin mendengar penjelasan kenapa ia dan Raisa seperti memiliki jarak. Ia menemukan buku diary yang terletak berantakan diatas meja Micky. Ia berniat tak akan melihat isi bukunya, tapi entah apa yang merasukinya, iapun membaca isi buku tersebut. Lembar perlembar ia baca. Tak ada satu katapun yang ia tinggalkan. Mulai dari cerita bahagia, kejadian aneh, perasaan Micky, juga kenyataan yang belum sempat Micky ceritakan ia baca. Hitungan detik, Micky masuk kekamarnya. Dan melihat Rajif sedang membaca diary-nya. Ia terpana, karena apa yang akan ia ceritakan telah terbukti jelas dalam buku tersebut. Micky cepat-cepat merebut buku itu dari Rajif, tapi Rajif tak ingin kalah dari Micky.
“Kenapa lu gak pernah cerita Mick?”
“Jif, gw butuh waktu”
“Mau sampai kapan?”
“Ok, lu mau gw jelasin semua. Fine, gw tunggu kalian berempat diruang tengah”
Rajif menyambangi setiap kamar sahabatnya untuk berkumpul diruang tengah ditengah malam seperti ini. Semua cahaya mati, hanya ada satu cahay lampu dari atas meja disamping Shodiq duduk. Mungkin wajah-wajah mereka masih mengantuk, tapi setelah mendengar cerita dari Micky mungkin saja mereka tak bisa tidur.
“Terimakasih sebelumnya karena kalian udah kumpul disini. Juga, maaf karena gw udah gak jujur sama kalian” pembukaan Micky.
“Mungkin sekaranf waktunya buat kalian tau, gw bakal pindah ke Jerman” ungkapan itu membuat mata Ricky dan Shodiq jadi melek besar. Dan juga Rajid tak terkejut dengan pernyataan itu, karena mereka telah mendengarnya.
“Gw minta sama mama gw agar perginya awal 2014 nanti, tapi tadi gw sms mama gw. Nah, beliau bilang akan jemput gw tanggal 12 ini. Yang otomatis adalah dua hari dari sekarang”
“Mick, lu bilang ke gw kita bakal ngadain malam tahun baru bareng. Tapi kok gini?” tanya Dan yang merasa tlah dibohongi Micky. Suasana tak terbendung ketika air mata Rajif jatuh. Ketika Micky melihat Rajif menangis, ada sebuah sayatan dihatinya. Ia mencoba untuk menyimpan air matanya, tapi air matanya memang sangat ingin keluar simbol bahwa ia juga sangat sedih dengan keadaan ini.
“Jadi, gw minta maaf kalo selama ini gw banyak salah sama kalian. Gw yang selalu egois. Gw juga punya sesuatu buat kalian dan gw titip ke Rajif. Itu diary gw. Gw pengennya kalian baca setelah gw terbang ke Jerman” Micky langsung memeluk Rajif, dan sahabatnya merangkul mereka. Air mata mereka seolah memberi semangat kepada masing-masing.
Hari ini Micky tak masuk sekolah karena ia harus packing barang yang akan ia bawa untuk besok. Sahabat-sahabatnya juga tak masuk, karena ingin membantu Micky mem-packing barangnya. Dan saat itu, sangat kental sekali terasa kekeluargaan mereka. Juga masih terselip canda dibibir Shodiq.
Ghea mendapat kabar dari sang pacar bahwa Rajif tak bisa hadir kesekolah karena harus membantu Micky mempacking barang. Ghea mencoba menjelaskan semua kepada Raisa, tapi Raisa terlanjur tak ingin mendengar cerita tentang Micky lagi. Setelah mempacking barang, siangnya mereka berlima tertidur lelap karena kelelahan. Ghea datang disaat yang tepat. Pukul 15:00 WIB, mereka telah bangun. Mereka melihat Ghea telah menyiapkan makanan untuk mereka.
“Sorry ya gw gak bangunin kalian tadi. Habisnya kalian lelah banget kayaknya” ungkap Ghea menghidangkan makanan dimeja makan. Semua telah duduk rapi dimeja makan.
“Raisa gak ikut ya Ghe?” tanya Micky khawatir. Takut jika ia tidak bisa bertemu dengan Raisa lagi.
“Mick, sabar ya. Gw udah berusaha jelasin semua ke dia. Tapi dia gak mau dengar apa-apa lagi” jelas Ghea. Micky bernafas terpaksa. Mencoba mencerna penjelasan dari Ghea. Wajah sahabat-sahabatnya berubah menjadi kasihan. Tapi Micky memaklumi keadaannya sekarang ini. Dan mungkin inilah jalan yang digariskan Tuhan untuknya.
“Atau gak, nanti malam lu samperin dia kerumahnya aja” Ricky memberi opini.
“Ide bagus” balas Rajif dan Ghea kompak.

***

Selesai makan malam bersama, Micky langsung menuju rumah Raisa yang berjarak 100m dari rumahnya. Ia ragu, karena ia takut Raisa tak mau berbicara kepadanya. Tapi ia tetap meyakinkan hatinya agar ia berani menanggung setiap resiko yang akan terjadi. Tak lama, Micky sampai dirumah Raisa.
“Tante, Raisa ada?”
“Duduk dulu deh, tante panggil dulu ya?”
Micky duduk dengan perasaan was-was yang berkecimbuk.
“Cha, ada orang yang ingin bicara sama kamu” sang mama hanya memberi tahu Raisa seperti itu dan langsung ke dapur untuk membuatkan Micky minuman. Karena penasaran, Ghea keluar untuk mencari tahu siapa yang ingin menemuinya. Ternyata!
“Lec”
“Mick, lu mau ngomong apa?
“Gw Cuma mau pamit sama lu”
“Oh lu mau pergi. Yaudah”
“Lec, gw serius. Gw gak ada waktu sekarang. Gw besok bakal terbang ke Jerman. Dan gw harap lu bisa datang buat lihat gw terakhir kalinya”
“Udah kan? Gw masih banyak tugas”
Dengan sakit hati yang teramat, Micky pulang. Tapi ia lega, karena ia telah memberi tahu Raisa kebenarannya. Sedang Raisa teriris. Penyesalan datang. Ia hanya bisa menangisi apa yang ia dengar dari Micky. Malamnya menjadi semakin buruk, ia tak bisa tidur karena memikirkan Micky yang akan meninggalkannya. Dan akhirnya Raisa terlelap dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Wajah kecewa Micky mengantarkannya pulang. Ia sadar Raisa sedih, tapi Raisa mencoba untuk tidak memperlihatkan kesedihannya.












Kata Maaf Terakhir

   “Dan, gw nitip Raisa ya. Bagaimanapun nantinya, gw harap lu orang yang akan jaga dia” pinta Micky ditengah kesedihan yang melanda. Ia sengaja tak tidur. Karena ia ingin datang secepatnya ke bandara di esok harinya.
   “Maaf Mick, maksud pembicaraannya gimana neh?”
“Gw tau kali Dan, dari awal lu liat Raisa. Lu punya rasa sama dia. Please!” ungkapan Micky memang benar. Tak ada yang bisa Dan lakukan selain meng-iyakan permintaan sahabatnya. Dan mulai memiliki beban atas kepercayaan yang diberikan Micky kepadanya.
Pada jadwalnya, Micky akan terbang ke Jerman pada pukul 9 tepat. Dan karena itu jam 7 tepat, Ghea melaju kerumah Raisa terlebih dahulu sebelum ia pergi dan sang pacar mengantarkan Micky kebandara.
“Ghe, buat apa seh masih bicarain tentang dia?”
“Raisa, kenapa lu gak pernah jujur sama perasaan lu? Faktanya Cha, lu sama Micky cocok”
“Terimakasih. Tapi gw gak bisa”
“Emang apa yang bikin lu ilfeel sama dia? Ini Cuma masalah kecil yang terus lu besar-besarin”
“Gw emang sayang sama dia, bahkan sangat. Gw juga mikir bagaimana kedepannya”
“Cha, sebuah hubungan itu kuncinya kepercayaan. Gw yakin, Micky pasti balik. Kalopun gak, dia bakal bawa lu kesana”
“Gini deh, kalo lu suka sama dia lu aja yang jadian sama dia”
“Terserah lu Cha, yang jelas gw Cuma kasih tau lu Micky terbang ke Jerman jam 9 tepat nanti. Dan gw harap lu pikir-pikir lagi. Karena Micky nunggu lu buat ngeliat dia untuk yang terakhir”
Karena Rajif telah menunggu didepan rumah Raisa, Ghea bergegas pergi ke bandara. Raisa kembali memikirkan akan apa yang ia lakukan sekarang. Apakah datang ke bandara? Atau membiarkan Micky pergi dengan hati hampa?
“La, kok manyun gitu? Senyum dong” rayu Rajif melihat sang pacar manyun-manyun sendiri.
“Gimana gak manyun, Raisa nya aja susah dibilangin”
“Yaudah lah. Nanti dia juga bakal tau kok mana yang bener”
“Udah yuk, takut sahabat-sahabat kamu nunggu lama”
Micky telah stay dibandara dari jam 7 tadi bersama Ricky juga Dan, jadwal terbangpun masih sekitar satu setengah jam lagi. Harap-harap cemas pun timbul berharap agar Raisa bisa datang. Tak lama, Rajif dan Ghea datang. Rajif tetap membiarkan pacarnya ngomel-ngomel sendiri, karena jika ia lawan akan berdampak buruk juga baginya.
“Ghe, lu ngapain ngomel kek gitu? Jelek banget” canda Dan.
“Itu tuh, Raisa. Masih aja keras kepala” jawabnya.
“Emang dia kenapa Ghe? Gak mau datang ya?” cemas Micky.
“Maaf ya Mick, kita gak bisa bawa dia kesini’ ucap Ghea menyesal. Micky menelan kekecewaan lagi. Dia benar-benar berharap agar Raisa tak datang sekalipun.
“Ya udah lah. Gw kan masih terbang satu jam lagi. Bentar lagi ada pesawat yang terbang. Nah, kalo dia datang bilang aja gw udah pergi. Gw mau kebelakang dulu”
Micky menyendiri, melihat setiap kapal terbang kian kemari layaknya harapannya yang terombang-ambing. Ia pun hanya melihati jam tangan yang masih setia berdetak ditangannya. Sebenarnya, ia yakin bahwa Raisa akan datang. Tapi entah kapan. Lupa dengan waktu, Micky tak menyadari bahwa ia akan segera terbang ke Jerman. Para sahabat berpencar, bergegas mencari Micky disetiap sudut bandara.
“Mick, pesawat lu mau terbang” sorak Ricky yang menemukan Micky yang terlihat tak bersemangat. Ia tak kaget, karena memang ini adalah waktunya. Micky dan Ricky pun bergegas ke pintu utama tempat Micky akan masuk kedalam pesawat.
“Guys” mulai ada air mata yang membasahi pipi Micky. Sama hal nya dengan apa yang terjadi dengan 3 sahabatnya.
“Gw minta maaf ya kalo selama ini gw banyak salah sama kalian. Jara diri kalian ya. Diq, tetap jadi diri lu ya, bagaimanapun keadaannya gw mau lu tetap menjadi Shodiq yang kocak” ucap Micky menampar pundak Shodiq pelan.
“Ghe”
“Iya Mick” jawab Ghea lirih.
“Jaga Raisa ya. Gw titip salam buat dia”
“Pasti Mick”
Terdengar suara panggilan untuk semua penumpang agar segera masuk kedalam pesawat, karena waktu hanya tinggal beberapa menit. Sebelum masuk, para sahabat itu berpelukkan dengan erat dan membiarkan air mata mengalir apa adanya. Berbeda dengan itu, Raisa harap-harap cemas dalam taxi, berharap agar pesawat Micky belum terbang. Ia berlarian disetiap sudut bandara mencari Micky, telah lama ia berlari tapi tak juga ia temukan. Akhirnya, ia melihat dari kejauhan Ghea yang tengah berdiri disamping 5 sahabat yang tengah berpelukan itu. Ia berusaha menyoraki, tapi suaranya terlalu pelan untuk itu. Dan satu-satunya cara umtuk adalah mengejar kesana.
“Nyun” sorak Raisa yang tersisa jarak 10 meter. Matanya merah akan air mata. Wajahnya penuh akan keringat perjuangan, dan kalimatnya penuh dengan kekakuan. Micky mendengar ada yang memanggil panggilan yang hanya dimiliki oleh Raisa. Dalam fikirannya, itu hanya khayalan semata. Tapi ketika ia melepas pelukan sahabatnya, ia melihat Raisa berdiri dengan harapan tak jauh dari dirinya. Raisa berlari kearah Micky dan spontan memeluknya.
“Maafin gw ya Nyun, karena semalam gw bentak lu”
“Gw kali yang minta maaf. Jec, maaf ya buat segalanya. Maaf karena gw udah bikin lu sedih, sakit hati, kesal, dan lain-lain”
“Tapi lu jangan tinggalin gw. Trus gw sama siapa?” tangisan Raisa pecah, permintaannya memang sangat wajar. Tapi ini adalah harga mati yang harus dibayar Micky untuk orang tuanya.
“Katanya gak mau datang. Trus kenapa ada disini?” celoteh Mick melepas pelukan Raisa.
“Gw sayang kali sama lu, makanya gw datang. Lu mau gw nyesel seumur hidup karena gak kesini?
“Gak juga seh”
‘Diberitahukan kepada semua penumpang agar menempati tempat duduk secepatnya. Karena penerbangan tinggal 3 menit lagi’
Terdengar panggilan kedua dari pusat suara yang menyudutkan Micky untuk secepatnya masuk kedalam pesawat.
“Jec, gw harus pergi” air matanya pecah lagi mengucapkan kalimat itu. Para sahabatnya hanya bisa menahan tangis.
“Janji, gw bakal balik lagi buat lu, dan buat sahabat-sahabat gw” ada senyum yang terselip dalam air matanya.
“Tapi lu janji kan?” protes Raisa.
“Iya, gw janji”
Micky masih sempat memberi kecupan perpisahan dikening Raisa. Akhirnya, ia terbang ke Jerman dengan perasaan yang lega. Para sahabatnya, hanya melambaikan tangan sampai akhirnya Micky hilang dalam penglihatan.
“Cha, Micky nitip ini buat lu” ucap Rajif memberikan sebuah dus yang berisi barang-barang yang menjadi saksi ketika mereka berdua. Ada photo-photo yang diambil ketika mereka hangout. Juga photo-photo yang diambil Micky iseng ketika Raisa dengan pose anehnya. Ada miniatur mobil yang mirip dengan Raisa. Menurut Rajif, itu adalah mobil yang membuat Micky bertemu dengan Raisa walau dalam keadaan buruk. Dan masih banyak hal yang diberikan Micky kepada Raisa. Photo-photo tersebut tal lupa Raisa pajang dikamarnya yang bernuansa biru laut itu.
Senyum Micky masih menghiasi kehidupan mereka. Raisa hanya bisa menunggu kehadiran Micky kembali. Diberi kepercayaan, Dan memang membuktikan bahwa ia bisa menjaga kepercayaan Micky. Mulai antar-jemput Raisa, hingga menemani Raisa kemanapun ia pergi. Sekali seminggu Micky tak lupa menyapa sahabatnya memalui Skype. Karena Flo telah balik ke Jakarta, pada suatu ketika, Ricky memperkenalkan Flo kepada Micky melalui Skype pribadinya. Hubungan Ghea-Rajif makin romantis, karena setiap sekali 3 hari, Rajif mengirimi bunga kesukaan Ghea kerumahnya. Dan Shodiq masih dalam pencarian cintanya.

***

The End

J J J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar